Telkom Cetak Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 22 Mei 2026 05:10 WIB 7
Telkom Cetak Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen. Kinerja tersebut ditopang strategi transformasi yang berjalan di tengah tekanan makroekonomi dan dinamika industri telekomunikasi. Capaian ini turut tercermin pada total shareholder return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025.

Selain laba bersih, Telkom membukukan normalized net income Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. EBITDA konsolidasi perseroan mencapai Rp72,2 triliun, sedangkan normalized EBITDA tercatat Rp73,2 triliun. Manajemen menilai hasil ini menunjukkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi perusahaan. Kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham juga tetap dijalankan melalui payout ratio 89 persen dan program share buyback hingga Mei 2026.

Akselerasi Transformasi

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa eksekusi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom menata arah bisnis agar lebih terstruktur dan berdaya saing global. Perseroan menargetkan penguatan ekosistem digital nasional sekaligus penciptaan nilai jangka panjang. Strategi ini juga diarahkan untuk menjaga pertumbuhan yang lebih berkualitas bagi seluruh pemangku kepentingan.

TLKM 30 dijalankan melalui empat pilar utama yang saling mendukung. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence yang menekankan tata kelola, efisiensi proses, dan peningkatan layanan. Pilar kedua, Streamlining, difokuskan pada penataan portofolio non-core business agar kontribusi usaha lebih optimal. Langkah itu diharapkan memperkuat posisi Telkom pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.

Dalam pilar ketiga, Telkom mendorong Unlock Value melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan return on assets. Sementara itu, pilar keempat adalah perubahan dari operating holding menjadi strategic holding. Perubahan tersebut ditempuh melalui delayering agar fokus bisnis lebih tajam pada empat segmen operasi.

Empat segmen operasi itu mencakup B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Dengan model tersebut, Telkom akan lebih berfokus pada sinergi penciptaan nilai dan tata kelola antarsegi. Operasional harian akan dijalankan oleh entitas OpCo yang lebih terfokus. Menurut manajemen, struktur ini diharapkan membuat eksekusi strategi lebih cepat dan efisien.

Penyesuaian Akuntansi

Telkom juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset dari Danantara Indonesia. Penyesuaian ini bertujuan meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan. Perusahaan memastikan prinsip masa manfaat dan klasifikasi aset diterapkan lebih tepat. Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan disiplin tata kelola perseroan.

Perubahan kebijakan akuntansi itu berdampak pada kontraksi laba bersih 9,5 persen secara tahunan. Tekanan tersebut terjadi akibat peningkatan beban percepatan depresiasi. Seiring penerapan kebijakan baru, perseroan juga melakukan restatement atas laporan keuangan 2023 dan 2024. Manajemen menilai penyesuaian ini penting untuk menjaga transparansi dan kehati-hatian.

Inisiatif tersebut sejalan dengan pilar pertama TLKM 30 yang menekankan Operational and Service Excellence. Dengan dasar akuntansi yang lebih akurat, Telkom berharap kualitas pelaporan keuangan semakin kuat. Disiplin pengelolaan aset juga diharapkan makin terjaga dalam jangka panjang. Perseroan menilai fondasi tata kelola menjadi faktor penting untuk mendukung transformasi bisnis.

Di tengah perubahan itu, pasar tetap merespons positif arah transformasi Telkom. Total shareholder return yang mencapai 35,7 persen menjadi salah satu indikator kepercayaan investor. Komponen return tersebut terdiri dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Capaian ini memperlihatkan bahwa strategi perusahaan dinilai konsisten oleh pasar modal.

Segmen Bc C Pulih

Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband masih menjadi penyumbang utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai OpCo pada segmen ini membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas ikut mendorong trafik data naik 15 persen secara tahunan. Average Revenue Per User atau ARPU juga mulai menunjukkan pemulihan sejak paruh kedua 2025.

Manajemen memperkirakan ARPU akan terus membaik secara bertahap seiring kompetisi industri yang lebih sehat. Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran. Penguatan kualitas jaringan juga dilakukan untuk menekan perpindahan pelanggan. Di saat yang sama, ekosistem digital akan terus diperluas agar layanan tetap relevan.

Ekspansi layanan internet rumah akan dilakukan secara lebih selektif. Kebijakan itu mempertimbangkan kemampuan belanja masyarakat serta efektivitas penggunaan modal. Pendekatan ini ditempuh agar pertumbuhan tetap sehat dalam jangka panjang. Telkom ingin memastikan setiap perluasan layanan memiliki kontribusi yang jelas terhadap profitabilitas.

Fokus pada kualitas layanan menjadi bagian dari upaya mempertahankan basis pelanggan yang besar. Dengan jaringan yang lebih andal, Telkomsel diharapkan mampu menjaga daya saing di pasar. Strategi ini juga mendukung stabilitas pendapatan perseroan dari segmen konsumer. Perusahaan menilai pemulihan ini menjadi salah satu penopang utama kinerja grup.

Bisnis Infrastruktur Menguat

Di segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional melalui aset yang tersebar luas. Portofolio itu mencakup backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, layanan data center dan cloud, serta konektivitas satelit. Jaringan tersebut dipakai untuk menjangkau area blank spot dan wilayah geografis yang menantang. Infrastruktur itu juga menjadi fondasi bagi layanan digital yang semakin kompleks.

Pendapatan Telkom dari segmen B2B Infrastructure mencapai Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang bisnis data center dan ekspansi fiber. Pendapatan data center berasal dari fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura, serta enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul. TelkomGroup juga mengoperasikan 28 edge data center NeuCentrIX dengan kapasitas yang lebih dekat ke pengguna.

Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun. Perusahaan itu mencatat margin laba bersih 22,2 persen dan margin EBITDA 82,2 persen. Kinerja tersebut didukung rasio penyewa 1,57 kali dari kepemilikan 40.230 menara telekomunikasi. Dengan skala itu, Mitratel disebut sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.

Sementara itu, bisnis Wholesale & International Service membukukan pendapatan Rp10,7 triliun. Melalui Telin, TelkomGroup telah terhubung dalam 27 sistem kabel laut internasional. Pada segmen B2B ICT, perseroan mencatat pendapatan Rp15,3 triliun dari konektivitas, managed solution, dan digital. Manajemen masih optimistis meski efisiensi pemerintah sempat menekan permintaan solusi korporasi.

Belanja Modal Terkendali

Pertumbuhan infrastruktur juga ditopang disiplin investasi yang dijaga ketat sepanjang 2025. Realisasi belanja modal TelkomGroup mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk mendukung pengembangan platform digital dan sinergi bisnis.

Telkom menilai disiplin investasi menjadi kunci dalam menjaga kinerja yang stabil. Dengan alokasi modal yang terukur, perusahaan ingin memastikan setiap proyek memberikan nilai tambah yang jelas. Strategi ini juga mendukung penguatan fundamental di tengah tantangan industri. Manajemen menegaskan transformasi akan terus dijalankan secara bertahap dan konsisten.

Memasuki 2026, Telkom berada pada fase penting untuk mempercepat eksekusi transformasi TLKM 30. Perseroan menargetkan struktur bisnis yang lebih fokus, efisien, dan relevan dengan kebutuhan pasar. Dengan arah yang lebih terstruktur, Telkom berharap dapat menjaga daya saing di tengah perubahan industri. Perusahaan juga ingin terus memberikan manfaat optimal bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.

Dian menutup bahwa Telkom akan melangkah dengan disiplin operasional untuk menciptakan kinerja yang semakin solid. Menurutnya, strategi yang dijalankan sejak 2025 telah memberi landasan yang kuat bagi pertumbuhan berikutnya. Penguatan tata kelola dan efisiensi tetap menjadi prioritas utama perseroan. Telkom meyakini arah transformasi ini akan menghasilkan nilai berkelanjutan dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!