Telkom Cetak Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 24 Mei 2026 17:32 WIB 9
Telkom Cetak Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025, dengan laba bersih Rp17,8 triliun dan margin laba bersih 12,1 persen. Kinerja tersebut ditopang EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun, sementara normalized net income mencapai Rp22,7 triliun. Capaian ini menunjukkan ketahanan bisnis Telkom di tengah tekanan makroekonomi dan perubahan industri telekomunikasi.

Di saat yang sama, Telkom membukukan Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025, yang terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Perseroan menegaskan capaian itu tidak lepas dari eksekusi strategi transformasi, kebijakan payout ratio 89 persen, serta program share buyback hingga Rp3 triliun. Arah penguatan bisnis kini diarahkan melalui strategi TLKM 30 untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Kinerja Telkom Menguat

Telkom menutup 2025 dengan pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun dan normalized EBITDA Rp73,2 triliun. Perseroan juga mencatat net income margin 12,1 persen serta normalized net income margin 15,4 persen. Angka tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah kondisi industri yang kompetitif.

Total Shareholder Return Telkom mencapai 35,7 persen selama 2025. Capaian ini berasal dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Pasar dinilai merespons positif langkah transformasi yang dijalankan perseroan.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan transformasi menjadi fokus utama sejak 2025. Melalui TLKM 30, perseroan menargetkan eksekusi bisnis yang lebih terstruktur dan bernilai jangka panjang. Telkom juga ingin memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global.

Strategi TLKM Tiga Puluh

Strategi TLKM 30 disusun dalam empat pilar utama untuk mempercepat transformasi bisnis. Pilar pertama adalah Operational and Service Excellence, yang menitikberatkan pada tata kelola, disiplin organisasi, dan kualitas layanan. Pilar ini juga diarahkan untuk memperkuat pengalaman pelanggan secara berkelanjutan.

Pilar kedua adalah Streamlining, yaitu penataan portofolio non-core business agar lebih efisien dan produktif. Langkah ini ditujukan untuk memperbesar kontribusi bisnis inti di sektor telekomunikasi dan digital. Telkom menilai penyederhanaan portofolio penting untuk memperkuat daya saing jangka panjang.

Pilar ketiga adalah Unlock Value, terutama melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital dan konektivitas fiber. Sementara itu, pilar keempat adalah Modus-operandi shift, yakni perubahan dari operating holding menjadi strategic holding. Melalui delayering, Telkom akan memfokuskan bisnis pada empat segmen utama, yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Bisnis Inti Bertumbuh

Segmen B2C masih menjadi penyumbang utama pendapatan, dengan Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun. Trafik data naik 15 persen secara tahunan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital. ARPU juga menunjukkan pemulihan sejak paruh kedua 2025 dan diperkirakan terus membaik.

Di segmen B2B Infrastructure, pendapatan Telkom mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ditopang bisnis data center dan ekspansi fiber, termasuk pengoperasian fasilitas hyperscale dan enterprise data center di berbagai lokasi. Perseroan juga mengoperasikan 28 edge data center NeuCentrIX untuk mendukung kebutuhan layanan yang lebih dekat ke pengguna.

Pada bisnis menara telekomunikasi, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan margin laba bersih 22,2 persen. Sementara itu, segmen Wholesale and International Service mencatat pendapatan Rp10,7 triliun, dan segmen B2B ICT membukukan Rp15,3 triliun. Telkom menilai peluang pertumbuhan masih terbuka melalui layanan Connectivity+, cybersecurity, dan artificial intelligence.

Investasi Dan Tata Kelola

Sepanjang 2025, Telkom merealisasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk mendukung pengembangan platform digital dan sinergi bisnis.

Perseroan juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset dari Danantara Indonesia. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan akurasi laporan keuangan, termasuk penentuan masa manfaat dan klasifikasi aset. Penyesuaian tersebut berdampak pada kontraksi laba bersih 9,5 persen secara tahunan akibat peningkatan beban percepatan depresiasi.

Telkom menyebut kebijakan itu memperkuat transparansi, prinsip kehati-hatian, dan disiplin pengelolaan aset. Perseroan juga melakukan restatement atas laporan keuangan 2023 dan 2024. Dengan arah transformasi yang lebih terstruktur, Telkom optimistis menjaga kinerja yang solid dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!