Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

Forex & Saham Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 23:55 WIB 2
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih sebesar Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah tekanan makroekonomi dan tantangan industri telekomunikasi.

Selain itu, Telkom mencatat normalized net income sebesar Rp22,7 triliun dengan margin 15,4 persen, serta EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun. Capaian tersebut memperlihatkan respons pasar yang positif terhadap agenda transformasi, penguatan tata kelola, dan strategi pengembalian nilai kepada pemegang saham.

Transformasi Telkom dan Kinerja

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom menyusun arah perubahan yang lebih terstruktur untuk memperkuat daya saing dan nilai jangka panjang.

Strategi tersebut dijalankan untuk mendukung visi perusahaan sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global. Dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5/2026), Dian menyebut transformasi ini ditujukan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Telkom juga membukukan total shareholder return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025. Angka itu terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Kinerja tersebut didukung kebijakan payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024. Perseroan juga masih menjalankan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.

Empat Pilar TLKM Tiga Puluh

Dalam strategi jangka menengah TLKM 30, Telkom menempatkan empat pilar utama sebagai fondasi transformasi. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence yang menitikberatkan pada tata kelola, disiplin organisasi, efisiensi proses, dan kualitas layanan.

Pilar kedua adalah Streamlining yang berfokus pada penataan portofolio non-core business. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat bisnis inti di sektor telekomunikasi dan digital.

Implementasi pilar tersebut terlihat dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement. Divestasi penuh ditargetkan rampung pada akhir paruh pertama 2026 dan diharapkan memperkuat dividend stream.

Pilar ketiga adalah Unlock Value melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Sementara itu, pilar keempat adalah perubahan modus operandi dari operating holding menjadi strategic holding melalui delayering pada empat segmen usaha.

Segmen B2C Mulai Pulih

Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan Telkom. Melalui Telkomsel, perseroan membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp109,2 triliun pada 2025.

Kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas mendorong kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan. Average Revenue Per User juga bergerak menuju pemulihan positif, terutama sejak paruh kedua 2025.

Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran. Perseroan juga memperkuat kualitas jaringan untuk menekan perpindahan pelanggan dan menjaga relevansi layanan.

Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah dilakukan secara lebih selektif. Telkom menyesuaikan langkah itu dengan daya beli masyarakat serta efektivitas pemanfaatan modal agar pertumbuhan tetap sehat.

Infrastruktur Digital Telkom

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional melalui aset yang tersebar luas. Infrastruktur itu mencakup backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit.

Pendapatan segmen B2B Infrastructure mencapai Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang bisnis data center serta ekspansi jaringan fiber.

TelkomGroup mengoperasikan dua hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga enterprise data center, serta dua co-location data center melalui NeutraDC. Perseroan juga menjalankan 28 edge data center NeuCentrIX untuk mendekatkan layanan cloud kepada pengguna.

Di bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun. Sementara itu, segmen Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp10,7 triliun, dan Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.

Belanja Modal dan Prospek

Pada segmen B2B ICT, Telkom membukukan pendapatan Rp15,3 triliun dari bisnis konektivitas, Managed Solution, dan digital. Perseroan tetap optimistis terhadap pertumbuhan segmen ini meski efisiensi pemerintah menekan permintaan solusi korporasi.

Telkom juga mencatat belanja modal sebesar Rp27,5 triliun sepanjang 2025, atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dana itu dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International.

Perseroan menilai disiplin investasi menjadi salah satu faktor utama yang menjaga kinerja tetap stabil. Pengembangan platform digital juga terus dilakukan dengan mengoptimalkan sinergi antarunit usaha.

Dian menyebut 2026 menjadi fase penting untuk mengakselerasi eksekusi transformasi Telkom. Dengan disiplin operasional dan arah bisnis yang lebih terstruktur, perseroan menargetkan kinerja yang semakin solid dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!