Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 02 Juni 2026 04:09 WIB 7
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun, dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah tekanan makroekonomi dan tantangan industri telekomunikasi.

Capaian tersebut ditopang EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen, serta normalized EBITDA Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Di saat yang sama, Total Shareholder Return Telkom mencapai 35,7 persen sepanjang 2025, mencerminkan respons positif pasar terhadap strategi transformasi perusahaan.

Transformasi Telkom Makin Terarah

Telkom menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama sejak 2025. Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut TLKM 30 disiapkan untuk memperkuat fondasi bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan.

Menurut dia, arah transformasi tersebut dibuat lebih terstruktur agar Telkom dapat mempercepat visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis pada Selasa, 12 Mei 2026.

Strategi TLKM 30 dijalankan melalui empat pilar utama yang mencakup Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi shift. Seluruh pilar itu dirancang untuk memperkuat efisiensi, meningkatkan fokus bisnis, dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pilar pertama menitikberatkan pada tata kelola perusahaan, disiplin organisasi, budaya kerja unggul, serta peningkatan kualitas layanan. Pilar ini diharapkan memberi pengalaman pelanggan yang lebih baik sekaligus memperkuat fondasi operasional perseroan.

Langkah Telkom Dukung Nilai Saham

Sejalan dengan transformasi, Telkom mencatat Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025. Angka tersebut terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Kinerja itu juga ditopang kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham melalui payout ratio 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024. Selain itu, perseroan masih menjalankan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun hingga Mei 2026.

Perseroan menilai respons pasar terhadap strategi yang dijalankan semakin positif. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan fundamental dan disiplin eksekusi mulai tercermin pada kinerja saham.

Pada saat yang sama, Telkom menegaskan komitmen menjaga keberlanjutan nilai bagi investor. Langkah itu ditempuh melalui kombinasi efisiensi, pertumbuhan bisnis inti, dan optimalisasi portofolio aset.

Telkom Perkuat Bisnis Digital

Dalam pilar Streamlining, Telkom menata portofolio non-core business agar kontribusi perusahaan menjadi lebih optimal. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing pada bisnis telekomunikasi dan digital.

Implementasi strategi tersebut terlihat dari proses divestasi AdMedika dan anak usahanya, TelkoMedika, yang telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement. Divestasi penuh ditargetkan rampung pada akhir paruh pertama 2026.

Di pilar Unlock Value, Telkom memperkuat bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset, memaksimalkan Return on Assets, dan memperluas kontribusi terhadap konektivitas nasional.

Telkom juga melakukan pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia melalui penandatanganan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025. Langkah tersebut menjadi bagian dari transisi menuju strategic holding yang lebih fokus pada penciptaan nilai.

Belanja Modal Telkom Tetap Agresif

Pertumbuhan bisnis infrastruktur didukung disiplin investasi yang kuat sepanjang 2025. TelkomGroup merealisasikan belanja modal sebesar Rp27,5 triliun atau setara 18,8 persen dari total pendapatan.

Sebesar 93 persen dari belanja modal itu dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk mendukung pengembangan platform digital dengan tetap menjaga sinergi antarbisnis.

Di segmen B2C, Telkomsel mencatat pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun. Trafik data naik 15 persen secara tahunan, sementara ARPU mulai menunjukkan pemulihan positif sejak paruh kedua 2025.

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan tercatat Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan, ditopang bisnis data center dan ekspansi fiber. Perseroan juga membukukan pendapatan Rp10,7 triliun dari Wholesale & International Service dan Rp15,3 triliun dari B2B ICT, yang menjadi penopang penting pertumbuhan TelkomGroup.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!