Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 00:32 WIB 7
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun, dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah tekanan makroekonomi dan tantangan sektor telekomunikasi. Capaian ini menunjukkan efektivitas strategi transformasi yang dijalankan perusahaan sepanjang tahun berjalan.

Selain itu, normalized net income Telkom tercatat Rp22,7 triliun dengan normalized net income margin 15,4 persen. EBITDA konsolidasi perseroan mencapai Rp72,2 triliun, sementara normalized EBITDA berada di level Rp73,2 triliun. Kinerja tersebut turut didukung Total Shareholder Return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025.

Transformasi Telkom

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom memperkuat arah perubahan agar lebih terstruktur dan berkelanjutan. Langkah ini ditujukan untuk mewujudkan visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global.

Strategi tersebut dirancang untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan. Telkom juga menempatkan penguatan fundamental sebagai prioritas di tengah dinamika industri yang semakin kompetitif. Respons pasar tercermin dari kenaikan Total Shareholder Return yang terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Kinerja itu turut diperkuat kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham melalui payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024. Perseroan juga menjalankan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor.

Di sisi tata kelola, Telkom menyelaraskan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia. Penyesuaian dilakukan untuk meningkatkan akurasi laporan keuangan, termasuk dalam penentuan masa manfaat dan klasifikasi aset. Langkah ini juga menyebabkan laba bersih mengalami kontraksi 9,5 persen secara tahunan akibat kenaikan beban percepatan depresiasi.

Pilar Bisnis Baru

Melalui TLKM 30, Telkom memusatkan transformasi pada empat pilar utama yang saling terkait. Pilar pertama adalah Operational & Service Excellence, yang menekankan tata kelola yang baik, disiplin organisasi, dan efisiensi proses. Fokusnya adalah meningkatkan kualitas layanan serta pengalaman pelanggan.

Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusi perusahaan menjadi lebih optimal. Strategi ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing pada bisnis inti telekomunikasi dan digital. Implementasinya terlihat dari proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang telah masuk tahap CSPA menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.

Pilar ketiga adalah Unlock Value, dengan fokus pada penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini diarahkan untuk meningkatkan utilisasi aset, memaksimalkan Return on Assets, dan memperluas kontribusi terhadap konektivitas nasional. Sebagai bagian dari langkah itu, Telkom menandatangani Conditional Spin-off Agreement untuk sebagian bisnis wholesale fiber connectivity kepada InfraNexia pada Desember 2025.

Pilar keempat adalah Modus-operandi shift, yakni perubahan dari operating holding menjadi strategic holding. Melalui delayering, Telkom akan memperkuat fokus bisnis pada empat segmen Operating Company, yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International. Perubahan ini ditujukan untuk memperkuat sinergi, tata kelola, dan pengelolaan portofolio bisnis.

Bisnis Konsumen Membaik

Segmen B2C masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perseroan, terutama melalui layanan mobile dan fixed broadband. Telkomsel sebagai OpCo pada segmen ini membukukan pendapatan konsolidasian tahun buku 2025 sebesar Rp109,2 triliun. Kinerja tersebut mencerminkan pemulihan bertahap pada bisnis konsumen.

Kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas mendorong kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan. Average Revenue Per User juga mulai bergerak positif sejak paruh kedua 2025. Perseroan memperkirakan tren pemulihan ini berlanjut secara bertahap seiring kompetisi industri yang lebih sehat.

Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan penguatan kualitas jaringan. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan perpindahan pelanggan sekaligus menjaga loyalitas pengguna. Ekosistem digital juga akan diperkuat agar layanan tetap relevan bagi kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah dilakukan secara lebih selektif. Telkom mempertimbangkan kemampuan belanja masyarakat serta efektivitas pemanfaatan modal dalam setiap langkah ekspansi. Strategi ini diharapkan menjaga pertumbuhan yang sehat dalam jangka panjang.

Infrastruktur dan Investasi

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional melalui kepemilikan aset yang luas. Infrastruktur tersebut mencakup backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi di seluruh Indonesia, layanan data center dan cloud, serta konektivitas satelit. Aset itu menjadi tulang punggung perluasan layanan digital perusahaan.

Pendapatan segmen B2B Infrastructure mencapai Rp8,9 triliun dan tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber. Kontribusi juga datang dari fasilitas hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, serta fasilitas enterprise dan co-location di sejumlah lokasi.

Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan net income margin 22,2 persen. EBITDA margin perusahaan menara itu mencapai 82,2 persen, didukung rasio penyewa 1,57 kali dari kepemilikan 40.230 menara. Kinerja tersebut menegaskan posisi Mitratel sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.

Sepanjang 2025, belanja modal TelkomGroup mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Investasi disiplin ini menjadi penopang utama pertumbuhan bisnis perseroan ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!