Teknologi D2D Buka Peluang Baru Satelit Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 24 Mei 2026 19:05 WIB 6
Teknologi D2D Buka Peluang Baru Satelit Indonesia

Teknologi direct-to-device atau D2D mulai menjadi perhatian global karena dinilai mampu menghubungkan ponsel dan perangkat sensor langsung ke satelit. Di Indonesia, Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) melihat peluang besar dari perkembangan ini, meski implementasinya masih dibayangi persoalan regulasi, frekuensi, dan kedaulatan data.

Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan D2D terbagi dalam dua kategori utama, yakni direct-to-cell untuk ponsel dan direct IoT untuk perangkat sensor. Ia menyebut kebutuhan layanan ini akan semakin besar seiring meningkatnya permintaan konektivitas real-time di berbagai sektor, termasuk maritim dan industri.

Teknologi D2D dan Peluang

Teknologi D2D memungkinkan perangkat terhubung langsung ke satelit tanpa bergantung pada BTS. Skema ini dinilai cocok untuk wilayah yang sulit dijangkau jaringan seluler, terutama daerah terpencil dan perairan. Bagi Indonesia, kondisi geografis yang luas membuat D2D berpotensi menjadi solusi konektivitas baru. ASSI menilai peluang itu dapat mendorong efisiensi layanan digital di banyak sektor.

Rusdianto menjelaskan bahwa direct-to-cell akan memungkinkan ponsel menerima layanan komunikasi dari satelit secara langsung. Sementara itu, direct IoT akan membuat sensor mengirim data tanpa harus melalui pengumpul data terlebih dahulu. Model ini membuka kesempatan bagi sektor logistik, pertanian, dan energi untuk memantau aktivitas secara lebih cepat. Dengan koneksi langsung ke satelit, arus data dapat bergerak lebih efisien dan stabil.

Di level global, teknologi ini juga dianggap strategis karena mendukung kebutuhan komunikasi cadangan saat infrastruktur darat terganggu. Banyak negara mulai melihat satelit sebagai bagian penting dari ketahanan digital nasional. Indonesia, menurut ASSI, perlu membaca arah perkembangan ini secara serius agar tidak tertinggal. Adaptasi yang cepat akan menentukan posisi industri satelit nasional di masa depan.

Regulasi Masih Menjadi Tantangan

Meski prospeknya besar, penerapan D2D di Indonesia belum dapat berjalan bebas karena masih menunggu kepastian regulasi. Kementerian Komunikasi dan Digital saat ini mengkaji model operasional, penggunaan spektrum, dan keterlibatan pelaku usaha. Proses ini dinilai penting agar implementasi teknologi tidak menabrak aturan yang sudah ada. ASSI menilai kepastian kebijakan akan menjadi kunci bagi masuknya investasi.

Saat ini, layanan D2D dimungkinkan menggunakan spektrum Mobile Satellite Service atau MSS. Namun, kapasitas bandwidth yang tersedia masih terbatas untuk kebutuhan skala besar. Di tingkat internasional, International Telecommunication Union tengah membahas tambahan alokasi frekuensi. Rencana itu diperkirakan baru terealisasi pada akhir 2027 atau awal 2028.

Selain persoalan frekuensi, pemerintah juga perlu menentukan skema bisnis yang paling sesuai. Ada kemungkinan layanan dioperasikan oleh operator seluler atau satelit sebagai mitra jaringan. ASSI menilai model transparan lebih mungkin diterapkan di Indonesia karena dapat memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada. Dengan begitu, implementasi bisa berjalan lebih cepat sambil tetap menyesuaikan kebutuhan nasional.

Kedaulatan Data Jadi Sorotan

Di balik peluang bisnis, ASSI menekankan pentingnya menjaga kedaulatan digital dalam implementasi D2D. Menurut Rusdianto, idealnya infrastruktur satelit dikuasai entitas dalam negeri agar kontrol strategis tetap berada di Indonesia. Namun, pembangunan ekosistem seperti itu memerlukan waktu panjang dan investasi besar. Karena itu, pendekatan bertahap dinilai lebih realistis.

Salah satu perhatian utama adalah memastikan data layanan tetap berada di Indonesia. ASSI menilai hal itu penting karena menyangkut perlindungan data konsumen dan kepentingan nasional. Jika infrastruktur melibatkan pihak asing, penempatan data di dalam negeri tetap harus dijaga. Prinsip ini dianggap sebagai bagian dari kedaulatan digital yang tidak bisa ditawar.

ASSI juga mendorong pemerintah menyiapkan aturan yang menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas. Pengawasan data, tata kelola jaringan, dan pemilihan mitra harus dirancang secara hati-hati. Dengan kerangka yang jelas, pemanfaatan teknologi baru tidak hanya efisien, tetapi juga aman. Kejelasan tersebut akan membantu industri bergerak tanpa mengorbankan kepentingan strategis.

Persaingan Global Makin Ketat

Perkembangan D2D tidak lepas dari persaingan global yang semakin intens di sektor satelit. Selain Starlink, pemain lain seperti Amazon dan perusahaan asal China juga mengembangkan konstelasi satelit LEO dalam jumlah besar. Persaingan ini menunjukkan bahwa pasar satelit bergerak sangat cepat dan semakin kompetitif. Negara yang lambat beradaptasi berisiko kehilangan peluang ekonomi dan teknologi.

Situasi tersebut membuat masa depan industri satelit Indonesia sangat bergantung pada kecepatan menyesuaikan diri. Pemerintah didorong untuk responsif terhadap perubahan, termasuk dalam teknologi direct to device. Jika kebijakan dan infrastruktur dipersiapkan lebih awal, Indonesia dapat mengambil posisi yang lebih kuat. Peluang untuk memperluas layanan digital nasional pun akan terbuka lebih lebar.

ASSI menilai D2D bukan sekadar tren teknologi, melainkan bagian dari perubahan besar dalam lanskap konektivitas dunia. Dengan regulasi yang tepat, spektrum yang memadai, dan perlindungan data yang kuat, Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini secara optimal. Tantangan memang masih besar, tetapi ruang pertumbuhannya juga sangat menjanjikan. Masa depan industri satelit nasional kini ditentukan oleh kesiapan menghadapi babak baru tersebut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!