Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal soal frekuensi kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan lawatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari diplomasi yang menghasilkan capaian konkret bagi Indonesia.
Dalam unggahan video di akun Instagram @sekretariat.kabinet, Teddy menyebut dunia sedang berada dalam situasi yang dinamis dan dipenuhi krisis global. Karena itu, menurut dia, kedekatan emosional antar-pemimpin dunia menjadi faktor penting untuk menjaga kepentingan nasional.
Diplomasi Prabowo dan Hasilnya
Teddy mengatakan anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden Prabowo hanya untuk gagah-gagahan adalah kekeliruan. Ia meminta publik melihat terlebih dahulu hasil yang telah dicapai dalam satu setengah tahun terakhir.
Menurut Teddy, diplomasi yang dijalankan pemerintah tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kepentingan ekonomi, pertahanan, dan stabilitas nasional. Ia menilai hasil itu dapat dirasakan langsung melalui sejumlah kebijakan dan kerja sama yang sudah berjalan.
Ia menambahkan, hubungan antarnegara yang dijalin Presiden Prabowo memberi ruang lebih besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar. Dalam pandangannya, capaian tersebut jauh lebih penting daripada menilai lawatan luar negeri hanya dari sisi seremonial.
Teddy juga menegaskan bahwa setiap pertemuan dengan pemimpin dunia memiliki bobot strategis. Karena itu, setiap agenda luar negeri disebut dirancang untuk memberi manfaat nyata bagi Indonesia.
BRICS dan Tarif Eropa
Salah satu capaian yang disebut Teddy adalah masuknya Indonesia ke dalam BRICS, yaitu kelompok Brazil, Russia, India, China, dan South Africa. Menurut dia, langkah ini membantu memperkuat posisi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Teddy menyebut keikutsertaan Indonesia dalam BRICS turut memberi rasa aman terhadap pasokan dan harga bahan bakar minyak. Ia juga mengklaim stok pangan nasional tetap terjaga dan tidak terguncang oleh krisis dunia.
Selain BRICS, Teddy menyoroti tercapainya tarif 0 persen dengan Uni Eropa. Ia mengatakan kesepakatan yang melibatkan 25 negara itu telah diupayakan selama belasan tahun sebelum akhirnya rampung pada 2025.
Ia menilai pencapaian tersebut membuka peluang lebih luas bagi perdagangan Indonesia. Menurut dia, hasil itu menunjukkan bahwa diplomasi luar negeri dapat berdampak langsung pada sektor ekonomi nasional.
Investasi dan Pertahanan
Teddy kemudian memaparkan bahwa total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun terakhir mencapai Rp2.430 triliun berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Ia menyebut angka itu menjadi bukti bahwa Indonesia masih dipercaya investor global.
Ia menambahkan, kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Korea Selatan dan Jepang menghasilkan komitmen investasi sekitar Rp575 triliun. Menurut Teddy, capaian tersebut memperlihatkan bahwa lawatan luar negeri tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi berujung pada kerja sama ekonomi yang nyata.
Selain investasi, Teddy menyoroti penguatan alat pertahanan Indonesia yang berasal dari berbagai negara. Ia menyebut pengadaan dari Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan sejumlah negara lain sebagai bagian dari modernisasi kekuatan nasional.
Menurut dia, keberagaman sumber alutsista menunjukkan Indonesia membangun pertahanan dengan pendekatan yang lebih terbuka dan strategis. Hal itu dinilai penting agar negara memiliki daya tangkal yang lebih kuat di tengah situasi geopolitik yang berubah cepat.
Haji dan Palestina
Teddy juga menyinggung penyelenggaraan ibadah haji pada 2025 dan 2026 yang disebut berjalan lancar. Ia mengklaim hampir tidak ada kendala signifikan dalam pelaksanaannya.
Ia bahkan menyebut Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki perkampungan haji di Arab Saudi setelah otoritas setempat mengubah undang-undangnya. Menurut Teddy, capaian ini tidak lepas dari diplomasi yang intensif dan hubungan baik antarpemerintah.
Di bidang kemanusiaan, Teddy mengatakan Presiden Prabowo berperan aktif dalam isu Palestina. Salah satu bentuknya adalah pengiriman bantuan logistik dari udara yang telah dilakukan beberapa kali.
Teddy menilai operasi itu membutuhkan koordinasi diplomatik yang rumit karena pesawat harus melewati wilayah udara sejumlah negara. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut menunjukkan diplomasi Indonesia berjalan pada level yang sangat praktis dan berdampak langsung.
