Tas Hermes Birkin Disewakan Rp 14 Juta per Bulan

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 00:42 WIB 3
Tas Hermes Birkin Disewakan Rp 14 Juta per Bulan

Tas Hermes Birkin selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan dan status sosial yang sulit dijangkau banyak orang. Harga fantastis, produksi terbatas, serta proses pembelian yang rumit menjadikannya salah satu item fashion paling eksklusif di dunia. Kini, di tengah budaya flexing di media sosial, Birkin bahkan disewakan dengan biaya jutaan rupiah per bulan.

Salah satu layanan penyewaan tas mewah itu datang dari Vivrelle, platform asal New York yang menawarkan Hermes Birkin dengan tarif US$ 800 atau sekitar Rp 14 juta per bulan. Skema ini membuat tas ikonik tersebut tak lagi hanya identik dengan kepemilikan, tetapi juga akses sementara bagi konsumen yang ingin tampil mewah tanpa membeli. Meski demikian, langkah itu tetap memunculkan pertanyaan besar soal rasionalitas biaya sewa barang ultra-premium.

Fenomena Sewa Birkin

Vivrelle menjadi salah satu contoh terbaru dari perubahan perilaku konsumsi di segmen fashion mewah. Konsumen kini tidak selalu mengejar kepemilikan, tetapi juga pengalaman memakai produk mahal dalam periode tertentu. Model seperti ini dinilai selaras dengan gaya hidup yang menempatkan fleksibilitas sebagai nilai utama.

Menurut pendiri Vivrelle, Blake dan Wayne Geffen, konsep tersebut dirancang untuk membuat kemewahan lebih mudah diakses. Mereka menilai pergeseran dari kepemilikan ke akses telah mengubah cara orang memandang fashion. Dalam konteks itu, tas Birkin bukan lagi semata aset pribadi, melainkan produk yang dapat dinikmati dengan sistem berlangganan.

Di pasar barang mewah, inovasi semacam ini bukan hal yang sepenuhnya baru. Namun, kehadiran Birkin dalam skema sewa tetap menarik perhatian karena posisinya yang sangat prestisius. Tas ini selama bertahun-tahun dipandang sebagai barang yang sulit dimiliki, bahkan oleh kalangan mampu sekalipun.

Biaya yang Menuai Tanya

Meski dianggap memberi alternatif, harga sewa Birkin tetap dinilai sangat tinggi. Dengan tarif US$ 800 per bulan, pelanggan berpotensi menghabiskan lebih dari Rp 160 juta dalam setahun. Angka tersebut memicu perdebatan karena nilainya mendekati, bahkan dalam beberapa kasus melampaui, harga tas mewah lain di pasar koleksi.

Bagi sebagian pengamat, biaya itu sulit dibenarkan jika tujuan utamanya hanya untuk gaya sesaat. Konsumen harus membayar mahal tanpa memiliki aset tersebut secara permanen. Kondisi ini membuat penyewaan Birkin terlihat lebih sebagai simbol status dibanding keputusan finansial yang efisien.

Pertanyaan serupa juga muncul di kalangan pecinta tas mewah. Mereka menilai harga sewa yang terlalu tinggi membuat konsep akses terasa kurang relevan bagi konsumen umum. Alih-alih lebih terjangkau, layanan ini justru menegaskan eksklusivitas Birkin dalam format baru.

Logika Kolektor Mewah

Kolektor vintage Hermes asal New York, Sana Roychowdhury, turut memberi pandangan kritis terhadap harga sewa itu. Ia menilai uang sebesar itu sebenarnya sudah cukup untuk membeli tas Kelly vintage. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa di pasar barang mewah, nilai guna dan nilai koleksi sering kali berjalan beriringan.

Dalam perspektif kolektor, membeli barang langka sering dianggap lebih masuk akal daripada menyewanya berulang kali. Selain dapat digunakan, tas koleksi berpotensi mempertahankan bahkan meningkatkan nilai di pasar sekunder. Karena itu, keputusan antara membeli dan menyewa sangat bergantung pada tujuan konsumen.

Pilihan menyewa atau membeli juga mencerminkan cara seseorang memaknai kemewahan. Ada yang mengejar pengalaman singkat untuk tampil menonjol, ada pula yang memilih investasi jangka panjang. Di titik ini, Birkin menjadi lebih dari sekadar tas, melainkan simbol status, preferensi, dan strategi finansial.

Birkin di Era Flexing

Budaya media sosial memberi dorongan besar terhadap tren barang mewah yang mudah dipamerkan. Tas seperti Hermes Birkin memiliki daya tarik visual yang kuat, sehingga kerap dijadikan penanda gaya hidup kelas atas. Dalam konteks ini, penyewaan membuka ruang baru bagi konsumen yang ingin tampil eksklusif tanpa komitmen kepemilikan.

Namun, tren tersebut juga menunjukkan bagaimana simbol kemewahan mengalami pergeseran makna. Jika dulu kepemilikan menjadi ukuran utama, kini akses sementara pun dapat menjadi alat pembangun citra. Perubahan ini menggambarkan cara industri fashion beradaptasi dengan perilaku konsumen yang semakin dipengaruhi konten digital.

Pada akhirnya, Birkin tetap berada di puncak hierarki tas mewah, baik saat dibeli maupun disewa. Harga yang tinggi justru memperkuat aura eksklusif yang melekat pada merek Hermes. Di tengah budaya flexing, daya tariknya tampak belum kehilangan tempat di mata pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!