Target Rupiah 2027 Dinilai Realistis, Tapi Diperdebatkan

Forex & Saham Kevin S. Pratama 22 Mei 2026 03:56 WIB 8
Target Rupiah 2027 Dinilai Realistis, Tapi Diperdebatkan

Pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah berada di level Rp17.500 per dolar AS pada 2027 dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM-PPKF RAPBN 2027 di DPR. Target itu langsung memicu perdebatan di kalangan ekonom, karena dinilai berkaitan erat dengan arah disiplin fiskal, arus modal asing, dan kondisi global yang belum stabil.

Sejumlah analis menilai asumsi tersebut masih masuk akal, tetapi ada pula yang menyebut target itu belum didukung kebijakan konkret untuk menopang penguatan rupiah. Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dipandang sebagian ekonom sebagai bagian dari penyesuaian struktural ekonomi nasional, bukan semata-mata sinyal kelemahan.

Target yang Dinilai Wajar

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai target rupiah Rp17.500 pada 2027 tergolong realistis. Menurut dia, proyeksi itu masih konservatif karena pemerintah perlu memberi ruang antisipasi terhadap ketidakpastian global.

Ia menyebut, faktor eksternal seperti suku bunga Amerika Serikat, geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia masih menjadi sumber tekanan bagi pasar keuangan. Dalam situasi seperti itu, asumsi fiskal yang hati-hati dinilai lebih aman untuk menjaga ketahanan APBN.

Lukman juga menilai target tersebut menunjukkan pemerintah belum melihat peluang penguatan rupiah yang agresif dalam waktu dekat. Namun, ruang penguatan tetap terbuka jika sentimen global membaik, arus modal asing kembali masuk, dan harga komoditas tetap solid.

Selain itu, pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis dinilai memberi sinyal positif bagi pasar. Investor, menurut Lukman, cenderung membaca langkah itu sebagai upaya pemerintah menjaga disiplin fiskal dan mengendalikan pembiayaan.

Isyarat Kehati-hatian Fiskal

Lukman menilai, bila pasar melihat pemerintah lebih berhati-hati dalam mengelola defisit dan utang, kepercayaan terhadap aset Indonesia bisa membaik. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membantu menjaga stabilitas rupiah di masa mendatang.

Asumsi nilai tukar yang konservatif juga dinilai memberi ruang bagi pemerintah untuk menghadapi guncangan eksternal. Strategi ini dianggap penting agar APBN tidak terlalu rentan terhadap volatilitas pasar keuangan global.

Dalam pandangan Lukman, target rupiah 2027 bukanlah proyeksi yang terlalu tinggi. Sebaliknya, angka itu justru dinilai sebagai cerminan kehati-hatian pemerintah dalam menyusun kebijakan fiskal di tengah ketidakpastian.

Meski demikian, ia menekankan bahwa penguatan rupiah tetap bergantung pada perbaikan sentimen eksternal dan kepercayaan investor. Tanpa itu, ruang apresiasi mata uang domestik akan tetap terbatas.

Keraguan Dari Ekonom

Berbeda pandangan, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai target tersebut belum realistis. Ia berpendapat pemerintah belum menunjukkan keseriusan yang cukup untuk mengembalikan rupiah ke level sebelumnya.

Menurut dia, belum ada kebijakan konkret yang benar-benar mampu mendongkrak nilai tukar. Karena itu, target yang disampaikan pemerintah dinilai masih jauh dari kondisi riil pasar.

Wijayanto juga menilai intervensi Kementerian Keuangan di pasar modal serta optimalisasi skema Bond Stabilization Fund belum cukup untuk menstabilkan rupiah. Dua langkah itu, kata dia, hanya efektif meredam gejolak jangka pendek.

Ia menegaskan, faktor utama yang memengaruhi rupiah tetap berada pada isu fiskal dan neraca pembayaran. Selama dua aspek itu belum diperbaiki secara mendasar, tekanan terhadap kurs akan tetap ada.

Rupiah Dan Penyesuaian

Presiden Direktur Center For Banking Crisis, Achmad Deni Daruri, menilai pelemahan rupiah sebaiknya dibaca sebagai proses restrukturisasi ekonomi nasional. Dalam pandangannya, kondisi ini justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat daya saing ekonomi Indonesia.

Deni menilai, penyesuaian nilai tukar dapat membuka ruang bagi ekspor, memperkuat industri domestik, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Ia menyebut pelemahan rupiah tidak selalu identik dengan memburuknya kondisi ekonomi.

Ia bahkan menegaskan bahwa depresiasi rupiah perlu dilihat sebagai bagian dari transformasi menuju struktur ekonomi yang lebih kuat. Pandangan yang menyamakan pelemahan rupiah dengan lemahnya ekonomi dinilainya terlalu sederhana.

Di sisi lain, ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen masih menunjukkan stabilitas yang terjaga. Namun fondasi pertumbuhan itu dinilai belum sepenuhnya kokoh karena masih bertumpu pada konsumsi pemerintah dan sektor hospitality.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!