Swatch dan Audemars Piguet Picu Antrean Jam Saku Royal Pop

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 07:25 WIB 2
Swatch dan Audemars Piguet Picu Antrean Jam Saku Royal Pop

Kolaborasi Swatch dan Audemars Piguet kembali menarik perhatian pasar jam tangan dunia lewat koleksi Royal Pop. Peluncuran produk ini memicu antrean panjang di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Singapura, dan Indonesia, sejak hari pertama penjualan.

Koleksi tersebut memadukan desain ikonik Royal Oak dengan sentuhan warna cerah khas lini Pop era 1980-an. Setiap unit dibanderol mulai dari US$535 hingga US$570, atau sekitar Rp9,4 juta sampai Rp10 juta.

Royal Pop Jadi Sorotan

Royal Pop dirancang sebagai jam saku Biokeramik dengan delapan pilihan warna yang mencolok. Setiap model dilengkapi tali pengikat sehingga tetap praktis untuk dibawa.

Perpaduan antara karakter mewah Audemars Piguet dan pendekatan kreatif Swatch menjadi daya tarik utama koleksi ini. Formula tersebut membuat produk ini tampil berbeda dari rilisan jam tangan pada umumnya.

Di pasar koleksi, keunikan desain sering menjadi faktor utama yang mendorong minat pembeli. Hal itu juga terlihat pada sambutan awal terhadap Royal Pop.

Bagi sebagian penggemar, kolaborasi ini bukan sekadar peluncuran produk baru, melainkan juga simbol gaya hidup. Tidak heran jika antusiasme muncul bahkan sebelum seluruh detail koleksi diumumkan.

Antrean Mengular Di Amerika

Di Amerika Serikat, penjualan Royal Pop dimulai dengan antrean yang sudah terbentuk sejak sehari sebelumnya. Kondisi itu terlihat di kawasan Times Square, New York, saat para penggemar menunggu toko dibuka.

Sejumlah orang membawa kursi lipat dan menghabiskan waktu sambil makan siang di lokasi. Mereka juga terlihat berbincang dengan calon pembeli lain selama menunggu giliran.

Mengutip laporan Business Insider, sekitar 70 orang bahkan saling menjaga antrean secara bergantian. Sebagian dari mereka tetap bertahan hingga katalog produk ditampilkan oleh Swatch.

Namun, setelah mengetahui model yang dirilis tidak sesuai ekspektasi, beberapa calon pembeli memutuskan mundur. Situasi itu menunjukkan bahwa tingginya animo belum tentu berbanding lurus dengan keputusan pembelian.

Respons Pasar Di Asia

Antusiasme serupa juga terlihat di Singapura pada hari peluncuran, 16 Mei. Sejak pukul 7 pagi, ratusan calon pembeli sudah mendapat nomor antrean tidak resmi di Ion Orchard.

Laporan Straits Times menyebut Swatch menerapkan batasan satu jam tangan per orang per hari. Kebijakan itu dibuat untuk menjaga distribusi tetap tertib di tengah tingginya permintaan.

Aturan tersebut justru membuat koleksi ini semakin diburu oleh para penggemar. Pembatasan pembelian kerap menambah kesan eksklusif pada produk edisi tertentu.

Di berbagai pasar Asia, perilaku antre dini menjadi pola yang berulang untuk rilisan kolaborasi seperti ini. Hal itu menegaskan bahwa daya tarik merek masih sangat kuat di kalangan kolektor dan penggemar mode.

Antusiasme Juga Tiba Di Jakarta

Di Indonesia, minat terhadap jam saku Swatch x Audemars Piguet juga terlihat di Grand Indonesia, Jakarta. Sejak pagi, orang-orang sudah mengantre sebelum pusat perbelanjaan dibuka.

Kerumunan tersebut menunjukkan bahwa pasar lokal masih responsif terhadap produk kolaborasi dengan nilai gengsi tinggi. Kesan eksklusif menjadi salah satu alasan utama konsumen rela datang lebih awal.

Meski demikian, laporan menyebut antrean sempat dibubarkan oleh petugas keamanan. Situasi itu diduga terkait pengaturan keramaian di area mal.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa peluncuran jam tangan kolaborasi tidak hanya soal produk, tetapi juga pengalaman berburu barang langka. Bagi penggemar, momen antre sering kali menjadi bagian dari daya tarik itu sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!