Swatch dan Audemars Piguet Luncurkan Royal Pop

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 19:03 WIB 7
Swatch dan Audemars Piguet Luncurkan Royal Pop

Swatch kembali mengejutkan pasar jam tangan dunia setelah resmi menjalin kolaborasi dengan Audemars Piguet. Kerja sama ini menyusul sukses dua proyek sebelumnya bersama Omega dan Blancpain, yang sempat memicu antrean panjang di berbagai negara. Meski bentuk produknya belum diumumkan secara resmi, nama proyek Royal Pop sudah lebih dulu ramai diperbincangkan. Peluncuran perdananya dijadwalkan pada Sabtu, 16 Mei, dengan penjualan terbatas di toko Swatch tertentu.

Kolaborasi tersebut menarik perhatian karena Audemars Piguet bukan bagian dari grup Swatch. Berbeda dengan Omega dan Blancpain, merek asal Swiss itu berdiri sebagai rumah jam mewah independen yang memiliki citra sangat eksklusif. Justru karena itulah, proyek ini dinilai lebih mengejutkan dan berpotensi besar mencuri perhatian kolektor. Hingga kini, publik masih menunggu bentuk final jam yang digarap dalam seri Royal Pop.

Kolaborasi Swatch Royal Pop

Jejak sukses Swatch dalam kolaborasi jam tangan memang sudah terlihat sejak peluncuran MoonSwatch pada 2022. Produk itu menghadirkan interpretasi lebih terjangkau dari Omega Speedmaster dengan harga sekitar US$ 260. Respons pasar saat itu sangat besar, hingga produk tersebut menjadi fenomena global. Kesuksesan serupa kemudian berlanjut lewat proyek bersama Blancpain melalui reinterpretasi Fifty Fathoms.

Royal Pop kini dianggap membawa level kejutan yang berbeda karena melibatkan Audemars Piguet. Brand tersebut selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan dan eksklusivitas di industri horologi. Karena itu, langkah Swatch ini dipandang sebagai upaya memperluas jangkauan pasar tanpa meninggalkan identitas desain yang kuat. Publik pun menunggu apakah pendekatan yang sama akan kembali diulang dalam format baru.

Sejumlah petunjuk dari teaser Swatch mengarah pada dugaan bahwa produk ini akan hadir dalam bentuk jam saku. Visual yang beredar menampilkan tali berwarna cerah yang menyerupai gantungan atau lanyard. Elemen itu memunculkan spekulasi bahwa jam dapat dipakai sebagai aksesori multifungsi. Jika benar, konsep tersebut akan memperkuat karakter eksperimental yang selama ini melekat pada Swatch.

Desain Pop-art dan Royal Oak

Desain Royal Pop juga disebut akan membawa unsur khas Royal Oak milik Audemars Piguet. Bentuk oktagonal ikonis yang menjadi ciri utama Royal Oak diduga akan diterjemahkan ke dalam tampilan produk anyar ini. Swatch sendiri dikenal kerap mengolah desain klasik ke format yang lebih kasual dan mudah diakses. Perpaduan itu berpotensi menghasilkan jam yang unik sekaligus mudah dikenali.

Di sejumlah gerai, Swatch sudah menampilkan instalasi promosi bertema pop-art sebagai bagian dari kampanye. Visualnya terinspirasi dari karya Andy Warhol, lengkap dengan warna-warna cerah dan ilustrasi mesin otomatis Sistem51. Pendekatan ini menguatkan dugaan bahwa Royal Pop akan hadir sebagai produk yang menonjolkan sisi artistik. Dengan begitu, jam ini tidak hanya diposisikan sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai objek gaya hidup.

Konsep pop dalam koleksi Swatch bukan hal baru karena merek ini pernah menggarap lini serupa pada 1986. Saat itu, jam dirancang agar bisa dilepas dari bingkainya dan digunakan sebagai bros, gantungan tas, hingga jam saku. Arah kampanye terbaru membuat banyak pengamat menilai Royal Pop akan menghidupkan kembali ide tersebut. Jika terjadi, produk ini dapat menjadi aksesori yang fleksibel dan relevan bagi pasar muda.

Strategi Merebut Pasar Muda

Mantan CEO Audemars Piguet, François-Henry Bennahmias, pernah menyatakan bahwa kolaborasi seperti MoonSwatch merupakan langkah positif. Menurutnya, pendekatan itu dapat mengenalkan dunia horologi kepada generasi muda dengan cara yang lebih ringan. Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi semacam itu tidak mengganggu integritas merek premium. Pandangan tersebut kini terasa relevan dengan proyek Royal Pop yang sedang disiapkan.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa kolaborasi antara merek mewah dan merek mass-market bisa saling menguntungkan. Di satu sisi, merek premium mendapat eksposur ke audiens baru. Di sisi lain, Swatch memperoleh daya tarik dari reputasi rumah jam ternama. Kombinasi ini kerap terbukti efektif dalam membangun hype dan menciptakan permintaan tinggi.

Royal Pop juga muncul di tengah kembalinya Audemars Piguet mengeksplorasi format jam saku. Beberapa bulan lalu, brand tersebut merilis model 150th Heritage yang disebut sebagai salah satu karya paling kompleks. Secara historis, Audemars Piguet memang memiliki rekam jejak kuat dalam pembuatan jam saku. Salah satu modelnya, Grosse Pièce, bahkan pernah terjual hingga US$ 7,7 juta dalam lelang Sotheby's.

Antusiasme Pasar dan Rilis

Antusiasme terhadap Royal Pop diperkirakan akan mengikuti jejak kesuksesan MoonSwatch. Saat itu, banyak gerai dipadati pembeli hingga memicu kerumunan di sejumlah kota dunia. Pola serupa dinilai berpotensi terjadi lagi, terutama karena pasokan produk biasanya sangat terbatas. Kombinasi desain unik, nama besar, dan distribusi eksklusif menjadi faktor utama pemicu minat pasar.

Untuk tahap awal, jam tersebut hanya tersedia di toko Swatch terpilih di Amerika Serikat. Strategi distribusi terbatas ini kemungkinan akan meningkatkan rasa penasaran publik. Dalam industri jam tangan, ketersediaan yang sempit kerap menjadi pemantik permintaan lebih tinggi. Situasi tersebut bisa membuat Royal Pop segera menjadi barang buruan kolektor.

Jika peluncurannya berjalan sesuai rencana, Royal Pop berpeluang menjadi sorotan baru di dunia horologi. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana Swatch terus memadukan aksesibilitas, desain, dan unsur kejutan dalam satu produk. Audemars Piguet pun mendapat panggung berbeda untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Pasar kini menunggu apakah proyek ini akan mengulang fenomena besar seperti MoonSwatch.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!