Swatch dan Audemars Piguet Bawa Tren Jam Saku Kembali

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 23:46 WIB 2
Swatch dan Audemars Piguet Bawa Tren Jam Saku Kembali

Swatch dan Audemars Piguet kembali menarik perhatian pasar jam tangan dunia lewat koleksi kolaborasi terbaru bernama Royal Pop. Produk ini menggabungkan desain ikonik Royal Oak dengan sentuhan warna cerah khas lini Pop era 1980-an, sehingga langsung memancing antusiasme pembeli di berbagai negara. Sejak peluncurannya pada 16 Mei, antrean panjang terlihat di Amerika Serikat, Singapura, hingga Indonesia, karena koleksi ini dipasarkan dalam jumlah terbatas. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa jam saku kembali punya daya tarik tersendiri di tengah pasar aksesori premium.

Koleksi Royal Pop terdiri dari delapan jam saku berbahan Bioceramic yang hadir dalam warna-warna cerah. Setiap unit dilengkapi tali pengikat dan dijual dengan harga mulai dari 535 dolar AS atau sekitar Rp9,4 jutaan hingga 570 dolar AS atau sekitar Rp10 jutaan. Kehadiran produk ini membuat banyak penggemar rela menunggu sejak pagi, bahkan sebelum toko dibuka. Di sejumlah lokasi, pembeli bahkan belum mengetahui katalog yang ditawarkan ketika memutuskan ikut mengantre.

Jam saku Royal Pop

Royal Pop menjadi sorotan karena menyatukan dua identitas merek yang sangat berbeda dalam satu produk. Audemars Piguet dikenal lewat desain mewah dan presisi tinggi, sedangkan Swatch populer dengan pendekatan kasual dan berwarna. Perpaduan itu menciptakan jam saku yang terasa unik sekaligus nostalgik. Bagi kolektor, kehadiran model seperti ini menjadi daya tarik karena menawarkan sesuatu yang tidak biasa di pasar arloji.

Jam saku tersebut menggunakan material Bioceramic yang selama ini identik dengan pendekatan inovatif Swatch. Warna-warna cerah yang dihadirkan memperkuat nuansa pop, sementara bentuknya tetap mempertahankan kesan klasik. Kombinasi ini membuat produk tersebut mudah dikenali meski tampil berbeda dari arloji modern pada umumnya. Tidak heran jika koleksi ini langsung memicu pembicaraan di kalangan penggemar jam tangan.

Selain tampilan, harga juga menjadi faktor yang membuat Royal Pop ramai dibahas. Dengan banderol mulai dari 535 dolar AS, produk ini masih tergolong premium untuk kategori kolaborasi terbatas. Namun, harga tersebut dinilai sebanding oleh sebagian pembeli yang mengincar nilai koleksi. Dalam pasar barang langka, keterbatasan unit sering kali menjadi pendorong utama permintaan.

Antrean pembeli di Amerika

Peluncuran Royal Pop di Amerika Serikat memunculkan antrean panjang di gerai Swatch, terutama di kawasan Times Square. Para calon pembeli datang sejak sehari sebelumnya dan bersiap menunggu dengan kursi lipat, makanan, serta obrolan santai. Sekitar 70 orang bahkan disebut saling bergantian menjaga antrean agar tetap memperoleh posisi. Situasi itu menunjukkan tingginya ekspektasi publik terhadap rilisan terbaru tersebut.

Menurut Business Insider, sebagian orang baru memilih mundur setelah katalog ditampilkan oleh pihak toko. Mereka menilai jam tangan saku yang dirilis tidak sepenuhnya sesuai harapan. Meski begitu, antusiasme awal tetap memperlihatkan kekuatan nama besar dua merek yang terlibat. Kolaborasi semacam ini masih mampu menggerakkan pembeli untuk datang lebih awal tanpa kepastian penuh.

Fenomena tersebut juga mencerminkan perubahan perilaku konsumen dalam pasar barang koleksi. Banyak pembeli tidak hanya mengejar fungsi, tetapi juga cerita di balik produk yang dirilis terbatas. Karena itu, peluncuran Royal Pop dipandang sebagai strategi yang efektif untuk menciptakan eksklusivitas. Dalam praktiknya, kelangkaan justru menjadi nilai jual utama.

Respons pasar di Singapura

Antusiasme serupa terlihat di Singapura pada hari peluncuran 16 Mei. Di Ion Orchard, ratusan calon pembeli telah diberi nomor antrean tidak resmi sejak pukul 7 pagi. Situasi itu menggambarkan tingginya minat pasar Asia Tenggara terhadap koleksi jam saku tersebut. Meski begitu, pembelian tetap dibatasi agar distribusi berjalan lebih tertib.

Swatch disebut hanya mengizinkan satu pembelian per orang dalam sehari. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga ketersediaan barang di tengah lonjakan permintaan. Pembatasan tersebut juga membuat banyak pembeli harus memilih dengan cepat ketika mendapat kesempatan. Di sisi lain, aturan itu justru menambah kesan eksklusif pada produk yang dirilis.

Respons pasar di Singapura menegaskan bahwa daya tarik Royal Pop tidak hanya kuat di Barat. Koleksi ini berhasil memancing perhatian lintas negara karena membawa unsur desain yang mudah dikenali. Ketika merek besar meluncurkan produk terbatas, respons publik kerap bergerak cepat. Dalam kasus ini, antrean menjadi indikator paling nyata dari tingginya minat pembeli.

Antusiasme di Jakarta

Di Indonesia, antusiasme terhadap Royal Pop juga terlihat di Grand Indonesia, Jakarta. Sejak pagi, calon pembeli sudah mengantre sebelum pusat perbelanjaan dibuka. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pasar lokal ikut merespons tren jam saku kolaboratif ini. Namun, situasi di lokasi sempat memicu penertiban oleh petugas keamanan.

Berdasarkan laporan yang beredar, antrean di Jakarta sempat dibubarkan karena alasan pengaturan kerumunan. Meski demikian, minat masyarakat terhadap koleksi tersebut tetap terbaca cukup tinggi. Banyak penggemar datang lebih awal untuk memastikan peluang memperoleh unit terbatas. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perilisan eksklusif masih mampu menciptakan euforia di pusat belanja premium.

Fenomena di Jakarta menambah daftar panjang lokasi yang menunjukkan permintaan besar atas Royal Pop. Bagi pasar Indonesia, kehadiran produk kolaborasi seperti ini bukan hanya soal jam tangan, tetapi juga soal status dan koleksi. Selama stok terbatas dan merek yang terlibat memiliki basis penggemar kuat, antrean serupa berpotensi kembali terjadi. Royal Pop pun menjadi contoh bagaimana desain, kelangkaan, dan nama besar dapat mendorong minat beli secara serentak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!