Suplemen Kolagen: Manfaat, Batasan, dan Saran Dokter

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 06:47 WIB 2
Suplemen Kolagen: Manfaat, Batasan, dan Saran Dokter

Suplemen kolagen semakin populer di industri kecantikan karena diklaim dapat membuat kulit tampak lebih muda, segar, halus, dan glowing. Di pasar global, sekitar 60 juta orang disebut mengonsumsinya setiap hari, sementara nilai pasarnya pada 2025 diperkirakan mencapai 2,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp43,57 triliun.

Meski begitu, klaim manfaat kolagen masih memicu perdebatan karena sejumlah studi lama menilai suplemen tidak selalu efektif. Tinjauan terbaru terhadap 113 uji klinis, namun, menunjukkan bahwa konsumsi rutin dan konsisten dapat memberi dampak positif pada kesehatan kulit, sistem muskuloskeletal, dan mulut.

Manfaat Kolagen Bagi Kulit

Penelitian terbaru menjadi sorotan karena dinilai sebagai salah satu tinjauan paling komprehensif tentang suplemen kolagen. Mona Gohara, dokter kulit dan profesor klinis dermatologi di Yale School of Medicine, menyebut hasilnya menunjukkan peningkatan kecil namun konsisten pada hidrasi dan elastisitas kulit.

Menurut Gohara, temuan tersebut lebih menekankan perbaikan skin barrier daripada penghilangan tanda penuaan secara drastis. Ia menilai manfaat utama kolagen terletak pada kemampuan mendukung kelembapan kulit dan menjaga kondisi permukaan kulit tetap sehat.

Meski demikian, manfaat yang terlihat tidak serta-merta berarti kolagen menjadi solusi tunggal bagi penuaan kulit. Dokter tetap menilai bahwa hasil perbaikan yang muncul cenderung bertahap dan bergantung pada konsistensi konsumsi.

Bukti Ilmiah Masih Terbatas

Sejumlah studi sebelumnya sempat membuat suplemen, termasuk kolagen, dianggap kurang efisien dan berpotensi menjadi pemborosan. Salah satu rujukan yang sering dikutip adalah penelitian Johns Hopkins University pada 2013 berjudul Enough is Enough: Stop Wasting Money on Vitamin and Mineral Supplements.

Namun, tinjauan baru atas 113 uji klinis memberi gambaran yang lebih positif terhadap kolagen. Hasil itu menunjukkan potensi manfaat, tetapi para peneliti juga menekankan bahwa kualitas analisis belum merata dan sebagian temuan masih berisiko bias.

Kondisi tersebut membuat efektivitas kolagen belum bisa disebut mutlak untuk semua orang. Para ahli menilai masih diperlukan lebih banyak data agar manfaatnya dapat dipastikan secara menyeluruh.

Saran Dokter Kulit

Hadley King, dokter kulit bersertifikat asal New York City, mengatakan suplemen kolagen memang belum diklasifikasikan sebagai obat. Meski begitu, ia menilai bukti yang ada menunjukkan potensi manfaat yang cukup beragam.

Daniel Belkin, dokter kulit lain dari New York City, bahkan mengaku lebih percaya diri merekomendasikan kolagen kepada pasien setelah membaca tinjauan tersebut. Ia tetap mengingatkan bahwa rekomendasi tersebut harus disertai pertimbangan medis yang matang.

Gohara sendiri mengatakan belum ingin mengonsumsi suplemen kolagen sebelum mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration di Amerika Serikat. Pandangan ini mempertegas bahwa kehati-hatian tetap diperlukan meski tren kolagen terus meningkat.

Cara Bijak Mengonsumsinya

Jika ingin mencoba suplemen kolagen, dokter menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kulit tepercaya terlebih dahulu. Pilihan suplemen yang memiliki bukti ilmiah memadai dianggap lebih aman untuk dipertimbangkan.

Konsumsi juga harus dilakukan secara teratur dan sesuai anjuran, karena manfaat tidak muncul dalam waktu singkat. Selain itu, hasil yang diperoleh bisa berbeda tergantung kondisi tubuh dan kebiasaan hidup masing-masing orang.

Penggunaan kolagen sebaiknya tidak menggantikan perawatan kulit dasar yang sudah terbukti. Sunscreen, retinoid, serta gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi utama untuk mencegah penuaan dini akibat paparan sinar UV, perubahan hormon, dan pola hidup yang kurang baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!