Pakar IPB: UPF Tak Bisa Dinilai Sehat atau Tidak Secara Mutlak

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 07:51 WIB 2
Pakar IPB: UPF Tak Bisa Dinilai Sehat atau Tidak Secara Mutlak

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibicarakan di media sosial setelah sejumlah makanan kemasan ikut disorot publik. Namun, anggapan bahwa semua UPF pasti tidak sehat dinilai terlalu menyederhanakan persoalan pangan olahan.

Pakar teknologi pangan IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, mengatakan konsep UPF masih memicu perdebatan di kalangan ilmiah. Menurut dia, penilaian terhadap makanan tidak cukup hanya bertumpu pada tingkat proses pengolahan, tetapi juga perlu melihat kandungan gizi, keamanan, porsi, dan frekuensi konsumsi.

UPF dan Salah Paham

Prof. Purwiyatno menilai istilah UPF kerap menimbulkan salah tafsir karena definisinya belum sepenuhnya konsisten dalam penerapan. Kondisi itu membuat label UPF sering digunakan secara bias dan multitafsir di ruang publik.

Ia menjelaskan, ketika sebuah pangan langsung dicap sebagai UPF, masyarakat cenderung menganggap produk tersebut tidak menyehatkan. Padahal, produk olahan memiliki karakteristik dan kandungan gizi yang sangat beragam.

Menurut dia, cara pandang seperti itu berisiko menyesatkan konsumen yang sedang mencari pilihan makan praktis. Dalam banyak kasus, kesan negatif muncul lebih dulu dibanding penilaian ilmiah yang utuh.

Stigma Pada Pangan Olahan

Purwiyatno menyebut stigma UPF juga dapat menyeret produk yang sebenarnya aman dan sesuai standar. Bahkan, sebagian pangan olahan justru memiliki nilai gizi yang dibutuhkan masyarakat.

Ia mencontohkan susu UHT, pangan fortifikasi, serta beberapa produk olahan lokal dari industri kecil dan menengah. Produk-produk tersebut bisa ikut dianggap buruk hanya karena masuk kategori UPF.

Menurutnya, stigma semacam itu dapat mengaburkan manfaat pangan olahan yang sebenarnya relevan bagi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, publik perlu membedakan antara proses pengolahan dan kualitas gizi produk.

Kandungan Gizi Jadi Acuan

Purwiyatno menegaskan bahwa penilaian pangan sebaiknya tidak berhenti pada label UPF semata. Kandungan gizi, keamanan pangan, porsi, dan frekuensi konsumsi perlu diperiksa secara bersamaan.

Ia menambahkan, tidak semua makanan yang diproses tinggi otomatis buruk bagi tubuh. Sebaliknya, makanan yang tampak sederhana juga belum tentu lebih sehat jika komposisinya tidak seimbang.

Karena itu, konsumen disarankan membaca informasi nilai gizi dan memahami kebutuhan tubuh masing-masing. Pendekatan ini dinilai lebih tepat daripada mengandalkan penilaian hitam-putih terhadap satu kategori pangan.

Bijak Memilih Makanan

Di tengah ramainya perdebatan soal UPF, masyarakat diimbau lebih kritis dalam menyaring informasi kesehatan di media sosial. Edukasi yang tepat dibutuhkan agar konsumen tidak mudah terjebak pada narasi yang terlalu sederhana.

Purwiyatno menilai pemilihan makanan sebaiknya mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan gizi, keamanan, dan kebiasaan makan. Dengan begitu, masyarakat dapat tetap menikmati pangan olahan tanpa mengabaikan prinsip gizi seimbang.

Ia juga menekankan bahwa pesan utama yang perlu dipahami publik bukanlah melarang seluruh makanan olahan. Fokus yang lebih penting adalah memilih produk secara cermat, membatasi konsumsi berlebihan, dan menjaga pola makan yang sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!