Suplemen Kolagen, Benarkah Bikin Kulit Lebih Muda?

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 02:45 WIB 6
Suplemen Kolagen, Benarkah Bikin Kulit Lebih Muda?

Suplemen kolagen kembali menjadi sorotan di industri kecantikan karena diklaim dapat membuat kulit tampak lebih muda, halus, dan segar. Popularitasnya terus naik seiring jutaan orang di dunia mengonsumsinya setiap hari, sementara pasar globalnya diproyeksikan mencapai 2,6 miliar dolar AS pada 2025.

Namun, pertanyaan tentang seberapa efektif kolagen masih menjadi perdebatan di kalangan ahli. Sejumlah dokter kulit menilai ada manfaat tertentu, tetapi mereka juga menegaskan bahwa bukti ilmiah belum sepenuhnya konsisten dan suplemen ini tidak bisa menggantikan perawatan dasar kulit.

Popularitas Kolagen Meningkat

Kolagen kini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari pil, bubuk, hingga permen jeli yang mudah dikonsumsi. Daya tarik utamanya terletak pada klaim bahwa suplemen ini dapat membantu menjaga kulit tetap kenyal dan bercahaya.

Minat masyarakat terhadap produk ini juga didorong oleh tren perawatan kulit yang semakin personal. Banyak konsumen mencari solusi cepat untuk mengatasi tanda penuaan, terutama pada wajah yang mulai tampak kusam.

Allure mencatat, sekitar 60 juta orang di dunia mengonsumsi suplemen kolagen setiap hari. Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya posisi kolagen dalam pasar kesehatan dan kecantikan.

Meski begitu, tingginya minat tidak selalu sejalan dengan bukti ilmiah yang kuat. Sejumlah studi sebelumnya bahkan menilai suplemen seperti kolagen kerap dianggap mahal dan belum tentu memberi hasil yang nyata.

Temuan Studi Terbaru

Salah satu rujukan penting datang dari tinjauan atas 113 uji klinis yang membahas suplemen kolagen. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi rutin dan konsisten berpotensi memberi dampak positif pada kulit, sistem muskuloskeletal, dan kesehatan mulut.

Temuan ini menjadi perhatian karena berbeda dengan pandangan skeptis yang selama ini mendominasi. Namun, para peneliti tetap menekankan bahwa kualitas studi yang dianalisis belum merata.

Penelitian sebelumnya dari Johns Hopkins University pada 2013 bahkan berjudul Enough is Enough: Stop Wasting Money on Vitamin and Mineral Supplements. Studi tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua suplemen otomatis bermanfaat.

Dengan demikian, kolagen tidak bisa langsung dianggap sebagai solusi pasti. Data yang ada lebih menunjukkan potensi manfaat daripada jaminan hasil yang sama untuk semua orang.

Pendapat Para Dokter

Mona Gohara, dokter kulit sekaligus profesor klinis dermatologi di Yale School of Medicine, menilai tinjauan terbaru itu sebagai salah satu studi paling komprehensif. Ia menyebut kolagen tampak memberikan peningkatan kecil namun konsisten pada hidrasi dan elastisitas kulit.

Hadley King, dokter kulit bersertifikasi asal New York City, juga melihat adanya potensi manfaat dari suplemen ini. Menurutnya, meski kolagen bukan obat, bukti yang tersedia menunjukkan ruang manfaat yang cukup beragam.

Daniel Belkin, dokter kulit lainnya dari New York City, mengaku kini lebih percaya diri merekomendasikan kolagen kepada pasien. Sikap itu muncul setelah ia melihat adanya data yang lebih kuat dibanding sebelumnya.

Meski begitu, ketiganya tetap berhati-hati dalam memberikan penilaian. Mereka sepakat bahwa suplemen kolagen belum layak dianggap sebagai jawaban tunggal untuk perawatan kulit.

Catatan Sebelum Konsumsi

Para dokter menegaskan bahwa hasil penelitian mengenai kolagen masih belum sepenuhnya konsisten. Selain itu, ada kemungkinan bias karena kualitas analisis antarstudi tidak selalu sama.

Dr. Gohara menilai tinjauan terbaru itu tidak menunjukkan penurunan signifikan pada kerutan halus, padahal itulah alasan utama banyak orang mengonsumsinya. Menurutnya, manfaat yang paling menonjol justru berada pada perbaikan skin barrier dan peningkatan hidrasi kulit.

Ia juga mengaku enggan mengonsumsi kolagen sebelum ada persetujuan dari Food and Drug Administration di Amerika Serikat. Sikap ini menunjukkan bahwa kehati-hatian tetap diperlukan, meski tren pasar terus meningkat.

Karena itu, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan dokter kulit tepercaya sebelum membeli produk tertentu. Jika ingin mengonsumsi suplemen kolagen, pilihlah yang memiliki dukungan ilmiah memadai dan gunakan sesuai anjuran.

Perawatan Kulit Tetap Utama

Para ahli mengingatkan bahwa suplemen hanyalah pendukung, bukan pengganti perawatan kulit yang mendasar. Langkah seperti memakai sunscreen dan retinoid tetap menjadi fondasi penting untuk menjaga kesehatan kulit.

Rutinitas yang konsisten dapat membantu memperlambat penuaan dini, terutama akibat paparan sinar UV berlebih. Faktor lain seperti perubahan hormon dan gaya hidup yang kurang sehat juga perlu diperhatikan.

Dr. King menambahkan bahwa penggunaan suplemen, termasuk kolagen, sebaiknya dilakukan secara teratur dan sesuai anjuran. Tanpa disiplin, manfaat yang diharapkan bisa sulit dirasakan.

Pada akhirnya, keputusan mengonsumsi kolagen perlu didasarkan pada kebutuhan pribadi dan saran medis yang tepat. Dengan pendekatan yang seimbang, perawatan kulit dapat dilakukan lebih aman dan realistis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!