Robries dan Lumosh Ubah Sampah Jadi Produk Ekspor

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 10:34 WIB 3
Robries dan Lumosh Ubah Sampah Jadi Produk Ekspor

Sampah kerap dipandang sebagai barang tak bernilai, padahal di tangan pelaku usaha kreatif, limbah bisa berubah menjadi produk bernilai tinggi. Hal itu dibuktikan oleh Robries dan Lumosh, dua pelaku UMKM yang mengolah sampah menjadi furnitur dan perabot rumah tangga, lalu membawanya menembus pasar luar negeri.

Robries yang didirikan CEO dan Founder Syukriyatun Niamah pada 2018 fokus mengubah tutup botol plastik menjadi furniture yang menarik. Sementara Lumosh milik Co Founder Raymond Tjiadi mengolah limbah keramik menjadi produk rumah tangga dengan desain artistik, dengan dukungan pembinaan dari Indonesia Design Development Center atau IDDC Kementerian Perdagangan.

Produk daur ulang bernilai

Robries lahir dari gagasan untuk memberi nilai baru pada sampah plastik yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah. Syukriyatun Niamah mengatakan perusahaan itu mulai berjalan pada 2018 dengan fokus utama pada tutup botol plastik. Bahan tersebut diolah menjadi furniture yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki tampilan menarik. Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Menurut Syukriyatun, produk berbahan daur ulang masih memerlukan edukasi pasar yang lebih luas. Banyak konsumen belum terbiasa melihat sampah sebagai bahan baku yang bisa menjadi barang premium. Kondisi itu membuat pemasaran produk menjadi tantangan tersendiri. Namun, peluang untuk berkembang tetap terbuka karena karakter produknya unik.

Syukriyatun menilai edukasi pasar menjadi kunci agar masyarakat memahami nilai dari produk daur ulang. Tanpa pemahaman yang cukup, konsumen cenderung ragu untuk membeli produk berbahan limbah. Ia menyebut tantangan itu bukan hambatan permanen, melainkan proses yang harus dilalui. Karena itu, Robries terus memperkuat komunikasi merek dan kualitas produk.

Hingga kini, Robries telah menghasilkan sekitar 25 ribu produk dari 145 ton sampah yang diolah sejak 2018. Capaian tersebut menunjukkan bahwa model bisnis berbasis daur ulang dapat tumbuh secara berkelanjutan. Produk Robries tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga mulai dikenal di pasar ekspor. Keberhasilan ini menjadi contoh bahwa limbah bisa menjadi sumber ekonomi baru.

Tantangan pasok dan mutu

Di balik pertumbuhan usaha, Robries menghadapi tantangan besar dalam memastikan pasokan bahan baku tetap konsisten. Bahan utama berupa tutup botol plastik tidak selalu tersedia dalam jumlah dan kualitas yang sama. Kondisi itu menuntut perusahaan menjaga rantai pasok dengan cermat. Jika pasokan terganggu, kualitas produk juga ikut terdampak.

Syukriyatun menjelaskan bahwa konsistensi bahan baku menjadi perhatian utama dalam menjaga standar produksi. Pihaknya terus berupaya mencari sumber sampah yang sesuai dengan kebutuhan desain dan mutu. Strategi tersebut ditempuh agar produk tetap memiliki karakter yang seragam. Dengan begitu, kepercayaan pasar bisa terus dipertahankan.

Selain pasokan, tantangan lain datang dari persepsi publik terhadap produk berbahan limbah. Sebagian konsumen masih menilai barang daur ulang sebagai produk kelas bawah. Padahal, proses pengolahan yang dilakukan justru membutuhkan kreativitas dan kontrol mutu tinggi. Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari strategi bisnis Robries.

Meski menghadapi berbagai kendala, Robries tetap mendorong inovasi agar produknya kompetitif. Perusahaan ini berupaya menjaga desain, ketahanan, dan nilai estetika dalam setiap produk yang dibuat. Pendekatan tersebut membantu Robries memperluas penerimaan pasar. Di tengah persaingan, kualitas menjadi faktor penentu utama.

IDDC dorong UMKM ekspor

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC terus mendorong pelaku UMKM agar mampu bersaing di pasar global. Lembaga ini memberikan pembinaan, kurasi, dan fasilitas untuk ikut dalam Trade Expo Indonesia 2025. Kehadiran IDDC dinilai menjadi jembatan penting bagi produk kreatif lokal menuju pembeli internasional. Dukungan ini juga memperkuat kesiapan UMKM menghadapi standar ekspor.

TEI 2025 sendiri menjadi ajang berskala internasional yang diikuti setidaknya 8.045 buyer dari 130 negara. Pameran tersebut membuka peluang pertemuan langsung antara pelaku usaha lokal dan calon pembeli luar negeri. Bagi UMKM, kesempatan ini sangat strategis untuk memperluas jaringan. Ajang ini sekaligus menjadi etalase produk kreatif Indonesia di mata dunia.

Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC memberi dampak besar bagi pengembangan bisnis Robries. Ia menyebut bimbingan itu membantu perusahaan memahami cara mengemas produk agar lebih menarik bagi pasar ekspor. Melalui proses panjang, Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan pada tahun ini. Penghargaan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat penetrasi pasar luar negeri.

Menurut Syukriyatun, pencapaian itu tidak terlepas dari pendampingan yang berkelanjutan selama empat tahun. IDDC membantu memperbaiki presentasi produk, desain, dan arah pengembangan usaha. Hasilnya, produk Robries semakin dipercaya oleh pasar internasional. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pembinaan yang tepat dapat mempercepat langkah UMKM ke level global.

Limbah keramik jadi produk

Hal serupa juga dirasakan Lumosh yang mengolah limbah keramik menjadi produk bernilai jual tinggi. Raymond Tjiadi menyebut pihaknya memproduksi piring, gelas, dan berbagai perabot rumah tangga dengan desain artistik. Konsep tersebut membuat limbah yang semula tidak terpakai berubah menjadi barang yang menarik. Di sisi lain, proses ini ikut mendorong praktik ekonomi sirkular.

Raymond menjelaskan bahwa pengolahan limbah keramik memiliki tantangan tersendiri karena referensi riset masih terbatas. Menurutnya, sumber pengetahuan mengenai recycle keramik belum banyak tersedia. Kondisi itu sempat menyulitkan tim dalam mengembangkan konsep produk. Namun, tantangan tersebut justru mendorong mereka mencari solusi yang lebih kreatif.

IDDC kemudian membantu Lumosh melalui riset, masukan desain, dan konsultasi pasar. Pendampingan ini membuat produk yang dihasilkan lebih representatif sebagai barang daur ulang. Raymond menilai dukungan tersebut sangat berarti karena membantu mempercepat proses pengembangan. Dengan arahan yang tepat, produk Lumosh lebih siap masuk ke pasar yang lebih luas.

Selain aspek desain, IDDC juga memberi masukan mengenai pasar global yang potensial untuk dijangkau Lumosh. Bagi pelaku UMKM, informasi itu penting agar strategi ekspansi lebih terarah. Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan pemerintah dapat menjadi pengungkit pertumbuhan usaha kreatif. Dari limbah yang dianggap tak bernilai, lahir peluang ekonomi yang menjanjikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!