Indosat Business Soroti Lonjakan Ancaman Keamanan Siber

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 10:35 WIB 3
Indosat Business Soroti Lonjakan Ancaman Keamanan Siber

Transformasi digital yang kian masif di Indonesia ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menilai ancaman kini berkembang lebih kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.

Penilaian itu disampaikan melalui whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience. Dokumen tersebut menyoroti masih lebarnya resilience gap, yakni ketika laju digitalisasi perusahaan bergerak lebih cepat daripada kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.

Keamanan Siber dan Resilience Gap

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Danny Buldansyah mengatakan, ketahanan siber kini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Ia menegaskan, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, melainkan bagian dari kepercayaan pelanggan dan daya tahan usaha.

Pernyataan itu disampaikan di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin (11/5/2026). Menurut dia, kebutuhan perusahaan saat ini tidak hanya konektivitas dan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun sistem keamanan yang adaptif dan terintegrasi.

Indosat Business memandang banyak perusahaan di Indonesia belum memiliki kesiapan yang sejalan dengan percepatan transformasi digital. Kondisi ini membuat organisasi lebih rentan terhadap gangguan operasional, kebocoran data, dan serangan siber yang semakin canggih.

Whitepaper tersebut disusun untuk membantu perusahaan memahami bahwa keamanan siber harus ditempatkan sebagai prioritas strategis. Dengan pendekatan yang tepat, bisnis dapat menjaga kepercayaan pasar sekaligus memperkuat keberlangsungan operasional.

Ancaman AI Fraud dan Ransomware

Whitepaper itu juga disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Ia menjelaskan bahwa ancaman digital kini bergerak jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi seiring munculnya AI-enabled fraud dan teknologi deepfake.

Charles menilai organisasi perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Menurut dia, pola serangan modern menuntut perusahaan untuk tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga pada kemampuan pulih dengan cepat.

Dalam laporan tersebut, Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk menipu identitas korban.

Ancaman ransomware juga disebut terus meningkat, termasuk serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik. Temuan itu menunjukkan bahwa dampak serangan siber tidak lagi terbatas pada kerugian internal perusahaan, tetapi juga layanan masyarakat.

Respons Perusahaan dan Regulasi

Data Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Sementara itu, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

Kondisi tersebut memperlihatkan perlunya langkah pencegahan yang lebih serius dari dunia usaha. Perusahaan dituntut menyiapkan tata kelola keamanan yang lebih matang agar risiko finansial dan operasional dapat ditekan sejak dini.

Indosat Business juga menyoroti implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi yang mendorong perusahaan memperkuat sistem pemantauan dan respons keamanan siber secara real-time. Aturan itu juga mewajibkan pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.

Bagi pelaku usaha, kepatuhan terhadap regulasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban untuk menjaga reputasi dan kepercayaan publik. Dalam konteks ini, keamanan data menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan bisnis.

Strategi Cyber Resilience Bisnis

Whitepaper tersebut turut membahas strategi penguatan keamanan siber seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Dua pendekatan itu dinilai penting untuk membangun pertahanan yang tidak hanya bergantung pada sistem, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia.

Indosat Business menilai, tantangan cyber resilience berbeda-beda di setiap sektor strategis, mulai dari finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan. Karena itu, setiap organisasi perlu menyesuaikan kebijakan keamanan dengan risiko dan kebutuhan operasional masing-masing.

Perusahaan juga didorong meningkatkan literasi keamanan siber di seluruh lini karyawan. Langkah ini penting agar kesalahan manusia, yang kerap menjadi pintu masuk serangan, dapat diminimalkan.

Melalui inisiatif tersebut, Indosat Business ingin mendorong perusahaan menjadikan ketahanan siber sebagai bagian integral dari transformasi digital. Dengan fondasi keamanan yang kuat, daya saing bisnis jangka panjang diyakini dapat terjaga di tengah perkembangan AI dan ekonomi digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!