Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 10:07 WIB 4
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan dan Cara Mengatasinya

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga dapat membuat tubuh bereaksi secara fisik. Salah satu keluhan yang paling umum adalah perut terasa kembung, begah, bahkan tidak nyaman meski pola makan tidak berubah.

Para ahli menjelaskan, gangguan ini terjadi karena sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh sistem saraf dan kondisi emosional seseorang. Saat tubuh masuk ke mode waspada, proses cerna bisa melambat sehingga gas lebih mudah menumpuk di perut.

Stres dan Pencernaan

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut usus sebagai otak kedua manusia. Menurut dia, sistem pencernaan dan kondisi emosional saling terhubung erat melalui sistem saraf.

Dalam kondisi stres, tubuh tidak hanya merasakan tekanan psikologis, tetapi juga meresponsnya secara biologis. Respons itu dapat memengaruhi kerja organ pencernaan, termasuk kecepatan makanan diproses di usus.

Akibatnya, seseorang bisa merasakan perut begah, kembung, atau tidak nyaman setelah makan. Pada sebagian orang, keluhan ini muncul meski asupan makanan sehari-hari tetap seperti biasa.

Mekanisme Tubuh Saat Stres

Sistem saraf enterik berperan penting dalam saluran pencernaan dan berada di bawah sistem saraf otonom. Sistem ini menjadi penghubung antara kondisi saraf dan fungsi pencernaan di dalam tubuh.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa tubuh manusia pada dasarnya bekerja dalam dua mode, yaitu fight-or-flight dan rest-and-digest. Saat stres, tubuh masuk ke mode fight-or-flight dan melepaskan hormon seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin.

Dalam keadaan tersebut, aliran darah dialihkan dari sistem pencernaan ke otot-otot agar tubuh siap menghadapi ancaman. Kontraksi otot pencernaan menurun, sekresi pencernaan ikut berkurang, dan makanan pun lebih lama diproses.

Kenapa Perut Jadi Begah

Ketika proses pencernaan melambat, makanan tidak terurai dengan baik di dalam lambung dan usus. Kondisi ini membuat makanan bertahan lebih lama di saluran cerna dan memudahkan gas terperangkap.

Ditkoff menjelaskan bahwa gas yang tertahan itulah yang kemudian memicu rasa kembung. Pada saat yang sama, sistem pencernaan yang tidak bekerja normal juga dapat menimbulkan sensasi penuh dan begah.

Respons tubuh terhadap stres pun tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang mengalami diare atau kram perut, sementara yang lain justru merasa mual dan kehilangan nafsu makan.

Cara Meredakan Kembung

Langkah utama untuk mengurangi kembung akibat stres adalah membantu tubuh kembali ke fase rest-and-digest. Dalam kondisi ini, hormon stres menurun dan aliran darah kembali lancar ke seluruh tubuh.

Ditkoff menyarankan makan dalam keadaan yang tenang agar tubuh dapat mencerna makanan dengan lebih baik. Namun, tidak makan saat stres juga bukan pilihan yang dianjurkan karena justru bisa memperburuk kondisi tubuh.

Selain menjaga ketenangan saat makan, seseorang perlu memberi jeda bagi tubuh untuk pulih dari tekanan emosional. Dengan begitu, kerja pencernaan lebih stabil dan risiko kembung maupun begah dapat berkurang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!