Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahlinya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 02:49 WIB 2
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahlinya

Stres yang memuncak tidak hanya berdampak pada emosi, tetapi juga dapat memicu gangguan fisik seperti perut kembung dan begah. Kondisi ini terjadi karena sistem pencernaan ikut bereaksi saat tubuh berada dalam tekanan, meski pola makan seseorang tidak berubah.

Para ahli menjelaskan, hubungan antara otak dan usus membuat respons tubuh terhadap stres bisa memengaruhi kerja saluran cerna. Akibatnya, makanan dapat dicerna lebih lambat, gas lebih mudah terperangkap, dan perut terasa tidak nyaman.

Stres dan pencernaan

Usus sering disebut sebagai otak kedua karena sangat dipengaruhi oleh sistem saraf. Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut kondisi emosional dapat tercermin pada sistem pencernaan.

Menurut Ditkoff, sistem saraf enterik berperan besar dalam mengatur proses pencernaan. Sistem ini juga menjadi penghubung antara keadaan saraf dan fungsi saluran cerna.

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh tidak hanya bereaksi secara psikologis, tetapi juga secara biologis. Respons itu dapat mengubah cara organ pencernaan bekerja dalam waktu singkat.

Akibat perubahan tersebut, perut bisa terasa penuh, tidak nyaman, atau begah. Dalam banyak kasus, gejala itu muncul tanpa disertai perubahan pada menu makanan harian.

Respons tubuh saat tertekan

Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa tubuh pada dasarnya berada dalam dua kondisi sistem saraf. Dua kondisi itu adalah fight-or-flight dan rest-and-digest.

Saat tubuh menangkap ancaman, baik nyata maupun berupa tekanan modern, kelenjar adrenal melepaskan hormon stres. Hormon yang dilepaskan antara lain kortisol, epinefrin, dan norepinefrin.

Respons ini awalnya membantu manusia menghadapi bahaya dengan bersiap melawan atau melarikan diri. Namun, pada situasi harian, reaksi yang sama justru dapat mengganggu fungsi tubuh yang lain.

Dalam fase tersebut, sistem pencernaan berhenti bekerja secara optimal. Tubuh memindahkan fokus energi ke otot dan kesiagaan, bukan ke proses mencerna makanan.

Dampak pada saluran cerna

Ketika aliran darah ditarik dari sistem pencernaan menuju otot, kerja organ cerna ikut melambat. Kontraksi otot pencernaan menurun, begitu juga produksi sekresi pencernaan.

Perubahan ini membuat makanan tidak dipecah dengan baik dan bertahan lebih lama di lambung atau usus. Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya penumpukan gas.

Ditkoff menjelaskan, makanan yang terlalu lama berada di saluran pencernaan lebih mudah memerangkap gas. Hal itu kemudian memunculkan rasa kembung dan begah.

Respons tubuh terhadap stres juga tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang mengalami kram atau diare, sementara yang lain justru merasa mual atau makin tidak nyaman.

Cara meredakan kembung

Untuk mengurangi kembung akibat stres, tubuh perlu dikembalikan ke kondisi rest-and-digest. Pada fase ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah dapat bekerja lebih seimbang.

Ditkoff menyarankan makan dalam kondisi yang tenang agar pencernaan dapat bekerja lebih baik. Saat tubuh lebih rileks, makanan lebih mudah dipecah dan didistribusikan ke organ yang membutuhkan.

Meski begitu, tidak makan sama sekali ketika stres juga bukan pilihan yang tepat. Kebiasaan itu justru dapat membuat tubuh makin tidak nyaman dan memperburuk kondisi pencernaan.

Karena itu, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan usus. Jika keluhan kembung muncul berulang atau disertai gangguan lain, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!