Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 15:35 WIB 2
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Stres dan emosi yang memuncak dapat memicu reaksi fisik, termasuk rasa tidak nyaman pada perut. Dalam banyak kasus, pola makan tidak berubah, tetapi sistem pencernaan tetap terganggu dan membuat perut terasa kembung atau begah. Para ahli menyebut kondisi ini berkaitan erat dengan hubungan antara otak, saraf, dan usus. Saat tubuh berada dalam tekanan, pencernaan bisa melambat dan menimbulkan bloating.

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menjelaskan bahwa usus dapat dipandang sebagai otak kedua manusia. Menurut dia, sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh sistem saraf dan juga dapat mencerminkan kondisi emosional seseorang. Ketika stres meningkat, respons tubuh dapat mengubah cara usus bekerja. Itulah sebabnya keluhan perut sering muncul bersamaan dengan tekanan psikologis.

Stres dan kembung

Sistem saraf enterik berperan penting dalam mengatur proses pencernaan di saluran cerna. Bagian dari sistem saraf otonom ini menjadi penghubung langsung antara kondisi saraf dan fungsi usus. Saat tubuh merespons stres, sinyal dari sistem saraf dapat memengaruhi kerja organ pencernaan. Akibatnya, kenyamanan perut ikut berubah meski asupan makanan tetap sama.

Melissa Groves Azzaro, praktisi kesehatan wanita, menyebut tubuh pada dasarnya berada dalam dua kondisi utama, yakni fight-or-flight dan rest-and-digest. Pada situasi yang dianggap mengancam, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin. Respons ini bermanfaat pada masa lalu untuk membantu manusia bertahan dari bahaya. Namun dalam kehidupan modern, tekanan seperti tenggat waktu juga dapat memicu reaksi serupa.

Saat mode fight-or-flight aktif, tubuh memprioritaskan keselamatan dibandingkan pencernaan. Aliran darah dialihkan dari sistem pencernaan ke otot-otot agar tubuh siap bergerak cepat. Kontraksi otot pencernaan menurun, begitu pula produksi sekresi pencernaan. Kondisi ini membuat makanan tidak diproses secara optimal.

Ketika makanan lebih lama berada di saluran cerna, gas lebih mudah terperangkap di dalam perut. Ditkoff menjelaskan bahwa proses inilah yang kemudian memunculkan rasa kembung. Pada sebagian orang, reaksi stres juga dapat berupa kram perut atau diare. Artinya, gangguan pencernaan akibat stres tidak selalu sama pada setiap individu.

Respons tubuh saat tertekan

Reaksi tubuh terhadap stres sangat bervariasi dan bergantung pada kondisi masing-masing orang. Ada yang mengalami perut begah, sementara yang lain justru merasa mual atau kehilangan nafsu makan. Dalam beberapa kasus, stres dapat memperburuk gangguan pencernaan kronis yang sebelumnya sudah ada. Kondisi tersebut bisa kambuh ketika tekanan emosional meningkat.

Ditkoff menekankan bahwa respons pencernaan saat stres merupakan hal yang umum terjadi. Hampir semua orang pernah mengalaminya, tetapi gejalanya bisa berbeda-beda. Sebagian orang justru makan berlebihan ketika tertekan, sedangkan yang lain tidak sanggup makan sama sekali. Perbedaan ini menunjukkan bahwa hubungan antara emosi dan pencernaan sangat personal.

Dalam situasi tertentu, tubuh juga dapat benar-benar masuk ke mode flight, misalnya saat seseorang berlari atau menghadapi ancaman langsung. Pada saat itu, sistem pencernaan kembali bukan menjadi prioritas utama. Tubuh mengalihkan energi untuk bertahan hidup dan bergerak cepat. Proses ini menjelaskan mengapa perut sering terasa tidak nyaman saat stres berat.

Meski begitu, efek stres terhadap pencernaan bisa diminimalkan jika tubuh kembali ke fase rest-and-digest. Dalam kondisi ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah kembali normal ke seluruh tubuh. Otot pencernaan dapat bekerja lebih baik, sehingga makanan dipecah dan disalurkan dengan lebih efisien. Saat sistem tubuh kembali tenang, risiko kembung pun cenderung menurun.

Langkah meredakan keluhan

Salah satu cara membantu mengurangi kembung akibat stres adalah makan dalam kondisi yang lebih tenang. Ditkoff menyarankan agar seseorang tidak terburu-buru saat makan, karena suasana yang tenang membantu pencernaan bekerja lebih baik. Duduk dengan nyaman dan mengunyah perlahan dapat memberi sinyal aman pada tubuh. Dengan begitu, sistem pencernaan lebih siap menerima makanan.

Meski demikian, menunda makan saat stres juga bukan pilihan yang baik. Tubuh tetap membutuhkan asupan energi untuk menjaga fungsi organ dan kestabilan gula darah. Karena itu, yang dibutuhkan adalah pola makan yang lebih sadar, bukan menghindari makan sepenuhnya. Kebiasaan ini dapat membantu menekan risiko perut begah.

Selain memperbaiki cara makan, relaksasi juga penting untuk mengembalikan tubuh ke mode rest-and-digest. Napas dalam, jeda singkat, atau berjalan santai dapat membantu menurunkan ketegangan. Upaya sederhana seperti ini dapat memberi efek positif pada sistem saraf dan saluran cerna. Semakin tenang tubuh, semakin baik pula proses pencernaan berlangsung.

Jika kembung, kram, atau diare sering muncul saat stres, kondisi tersebut patut diperhatikan lebih lanjut. Gejala yang berulang bisa menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan penanganan lebih serius. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebab dan solusi yang sesuai. Dengan langkah yang tepat, keluhan pencernaan akibat stres dapat dikendalikan lebih baik.

Perhatikan pola hidup

Pola hidup sehat dapat membantu tubuh lebih tahan terhadap tekanan emosional. Istirahat cukup, aktivitas fisik teratur, dan pola makan seimbang menjadi dasar penting untuk menjaga kesehatan pencernaan. Ketika tubuh berada dalam kondisi prima, respons terhadap stres pun cenderung lebih terkendali. Hal ini dapat mengurangi peluang munculnya perut kembung.

Manajemen stres juga perlu menjadi perhatian dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang menenangkan, seperti meditasi, membaca, atau berbicara dengan orang terdekat, dapat membantu meredakan tekanan. Dukungan emosional yang baik dapat mencegah tubuh terus berada dalam mode siaga. Dengan begitu, usus tidak terbebani oleh stres yang berkepanjangan.

Di sisi lain, tubuh juga memberi sinyal ketika sedang tidak nyaman, termasuk lewat perubahan pada perut. Sinyal ini sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika muncul berulang setelah tekanan psikologis meningkat. Mengenali kaitan antara emosi dan pencernaan dapat membantu seseorang lebih waspada terhadap kondisi tubuhnya. Kesadaran ini penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.

Pada akhirnya, kembung akibat stres bukanlah keluhan yang terjadi tanpa sebab. Hubungan erat antara otak, sistem saraf, dan usus membuat kondisi emosional sangat memengaruhi pencernaan. Saat tekanan menurun dan tubuh kembali tenang, fungsi cerna biasanya ikut membaik. Karena itu, menjaga kesehatan mental juga berarti menjaga kesehatan perut.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!