Stres dan emosi yang memuncak dapat memengaruhi tubuh, termasuk sistem pencernaan. Akibatnya, perut terasa kembung, begah, atau tidak nyaman meski pola makan tidak berubah.
Para ahli menjelaskan bahwa usus terhubung erat dengan sistem saraf, sehingga kondisi emosional bisa tercermin pada pencernaan. Saat tubuh berada dalam tekanan, kerja lambung dan usus dapat melambat, lalu gas lebih mudah terperangkap di perut.
Stres Ganggu Pencernaan
Sistem saraf enterik berperan penting dalam mengatur proses pencernaan. Sistem ini bekerja sebagai bagian dari sistem saraf otonom yang menghubungkan kondisi saraf dengan fungsi usus. Karena itu, gangguan emosi dapat berdampak langsung pada saluran cerna.
Rebecca Ditkoff menjelaskan bahwa usus kerap disebut sebagai otak kedua manusia. Istilah itu merujuk pada hubungan kuat antara kesehatan mental dan pencernaan. Saat kondisi emosional tidak stabil, tubuh bisa memberi respons fisik yang nyata.
Stres memicu tubuh masuk ke mode fight-or-flight. Dalam kondisi ini, tubuh menganggap ada ancaman yang harus dihadapi atau dihindari. Respons tersebut membuat sistem pencernaan bukan menjadi prioritas utama.
Akibatnya, aliran darah dialihkan dari pencernaan ke otot-otot tubuh. Kontraksi otot pencernaan juga menurun, begitu pula produksi sekresi pencernaan. Proses ini membuat makanan lebih lama berada di perut dan sulit diurai dengan baik.
Respons Fight-or-Flight
Melissa Groves Azzaro menjelaskan bahwa tubuh manusia pada dasarnya memiliki dua kondisi utama. Kondisi pertama adalah fight-or-flight, sedangkan kondisi kedua adalah rest-and-digest. Keduanya sangat memengaruhi cara tubuh merespons tekanan.
Ketika stres muncul, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin. Hormon-hormon ini berasal dari kelenjar adrenal dan berfungsi membantu tubuh menghadapi ancaman. Pada masa lalu, respons ini penting untuk bertahan hidup.
Namun dalam kehidupan modern, pemicunya sering berupa tekanan kerja, tenggat waktu, atau masalah pribadi. Tubuh tetap bereaksi seolah menghadapi bahaya besar. Situasi ini membuat sistem pencernaan ikut terganggu meski ancamannya tidak bersifat fisik.
Saat proses itu terjadi, pencernaan melambat agar energi dipakai untuk bertahan. Makanan tidak dipecah secara optimal dan bisa bertahan lebih lama di saluran cerna. Kondisi tersebut memudahkan gas menumpuk dan memicu rasa kembung.
Kembung Muncul Karena Gas
Ditkoff menuturkan bahwa makanan yang terlalu lama berada di saluran pencernaan lebih mudah memerangkap gas. Gas itu kemudian menumpuk dan membuat perut terasa penuh. Itulah sebabnya stres sering diikuti keluhan begah.
Meski begitu, reaksi tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang mengalami kembung, tetapi ada juga yang justru merasakan kram perut. Sebagian orang bahkan mengalami diare ketika tekanan emosional meningkat.
Dalam beberapa kasus, stres juga dapat memicu kambuhnya gangguan pencernaan kronis. Kondisi ini membuat keluhan yang sebelumnya terkendali kembali muncul saat tekanan meningkat. Karena itu, stres sering menjadi faktor pemicu yang tidak boleh diabaikan.
Ditkoff menegaskan bahwa respons seperti ini sangat umum terjadi. Hampir semua orang pernah mengalaminya, meski bentuk keluhannya berbeda. Ada yang makan berlebihan saat stres, sementara yang lain merasa mual dan tidak nyaman.
Cara Redakan Kembung
Langkah utama untuk mengurangi kembung akibat stres adalah mengembalikan tubuh ke fase rest-and-digest. Pada kondisi ini, hormon stres menurun dan aliran darah kembali lancar. Tubuh pun dapat mencerna makanan dengan lebih baik.
Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam keadaan tenang. Saat tubuh tidak terburu-buru, sistem pencernaan dapat bekerja lebih efisien. Karena itu, suasana makan perlu dibuat senyaman mungkin.
Meski demikian, tidak makan sama sekali saat sedang stres juga bukan pilihan yang baik. Tubuh tetap membutuhkan asupan energi untuk menjalankan fungsi dasar. Yang dibutuhkan adalah pola makan yang lebih teratur dan tidak tergesa-gesa.
Jika kembung disertai keluhan lain yang sering kambuh, pemeriksaan medis tetap diperlukan. Hal ini penting untuk memastikan tidak ada gangguan pencernaan kronis yang mendasarinya. Dengan memahami pemicunya, penanganan bisa dilakukan lebih tepat dan efektif.
