Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 13:44 WIB 2
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik, termasuk pencernaan. Dalam sejumlah kasus, orang tetap makan dengan pola yang sama, namun perut terasa kembung, begah, atau tidak nyaman.

Para ahli menjelaskan bahwa hubungan antara otak dan usus sangat erat, sehingga tekanan emosional bisa mengganggu kerja sistem pencernaan. Kondisi ini terjadi karena tubuh merespons stres dengan mengalihkan energi dari proses cerna ke mekanisme bertahan hidup.

Stres dan Kembung

Usus kerap disebut sebagai otak kedua karena sangat dipengaruhi oleh sistem saraf. Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut sistem pencernaan dapat mencerminkan kondisi emosional seseorang.

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh tidak hanya bereaksi secara mental, tetapi juga secara fisik. Salah satu respons yang sering muncul adalah perut terasa penuh, begah, atau kembung. Kondisi ini bisa terjadi meski asupan makanan tidak berubah.

Hubungan antara stres dan pencernaan menunjukkan bahwa kesehatan emosional memiliki dampak langsung pada tubuh. Karena itu, keluhan perut yang muncul saat tertekan tidak selalu berkaitan dengan makanan semata. Dalam banyak kasus, stres menjadi pemicu utama yang luput disadari.

Sistem Saraf dan Pencernaan

Sistem saraf enterik berperan penting dalam mengatur saluran pencernaan. Sistem ini menjadi bagian dari sistem saraf otonom yang menghubungkan kondisi saraf dengan fungsi cerna.

Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa manusia umumnya berada dalam dua mode sistem saraf. Mode pertama adalah fight-or-flight, sedangkan mode kedua adalah rest-and-digest. Ketika stres meningkat, tubuh cenderung masuk ke mode pertama.

Pada kondisi tersebut, kelenjar adrenal melepaskan hormon stres seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin. Hormon ini membantu tubuh bersiaga menghadapi ancaman, namun juga membuat proses pencernaan melambat. Akibatnya, sistem cerna tidak bekerja secara optimal.

Dampak Stres pada Tubuh

Saat tubuh fokus pada respons bertahan hidup, aliran darah dialihkan dari sistem pencernaan ke otot-otot. Pergeseran ini membuat tubuh siap bergerak cepat jika diperlukan.

Kontraksi otot pencernaan ikut menurun, begitu pula produksi sekresi pencernaan. Makanan pun tidak dipecah dengan baik dan cenderung lebih lama berada di perut. Kondisi ini memudahkan gas terperangkap di saluran cerna.

Ditkoff menyebut respons tubuh terhadap stres dapat berbeda pada setiap orang. Sebagian orang mengalami kram perut atau diare, sementara yang lain merasa mual dan tidak nyaman. Pada kasus tertentu, stres juga dapat memicu kekambuhan gangguan pencernaan kronis.

Cara Meredakan Kembung

Untuk mengurangi kembung akibat stres, tubuh perlu dikembalikan ke fase rest-and-digest. Pada fase ini, hormon stres menurun dan aliran darah kembali normal ke seluruh tubuh. Proses pencernaan pun dapat berjalan lebih lancar.

Ditkoff menyarankan seseorang makan dalam kondisi yang tenang. Kebiasaan ini membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik. Namun, tidak makan sama sekali saat stres juga bukan pilihan yang dianjurkan.

Menjaga ketenangan sebelum dan saat makan menjadi langkah sederhana yang dapat membantu meredakan keluhan begah. Jika keluhan berulang atau disertai gejala lain, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan. Dengan begitu, penyebab yang lebih serius bisa diketahui sejak dini.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!