Ustaz Soleh Mahmud atau Ustaz Solmed bersama istrinya, April Jasmine, telah menyiapkan hewan kurban untuk Hari Raya Idul Adha 2026. Tahun ini, jumlah hewan kurban yang disiapkan keluarga mereka kembali bertambah, seiring semangat berbagi yang terus dijaga setiap tahun. Keluarga tersebut menyembelih empat ekor sapi dan memasukkan nama para karyawan dalam daftar kurban. Langkah itu menjadi bagian dari ikhtiar mereka untuk memperluas manfaat ibadah kurban.
Solmed menyampaikan bahwa keputusan menambah hewan kurban tidak didorong oleh target tertentu. Menurutnya, kurban adalah ibadah yang bertumpu pada niat, kemampuan, dan keikhlasan. Ia juga memilih tidak membuka secara rinci total biaya yang dikeluarkan untuk pembelian sapi. Sikap santai itu membuat percakapan di Jatiasih, Pondok Gede, Bekasi, pada Selasa, 19 Mei 2026, berlangsung cair.
Persiapan Kurban Keluarga Solmed
Solmed dan April menyiapkan kurban untuk Idul Adha 2026 dengan komposisi yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Mereka menunaikan penyembelihan empat ekor sapi sebagai bentuk syukur dan kepedulian. Persiapan itu disebut terus berkembang dari tahun ke tahun, mengikuti kemampuan keluarga. Bagi keduanya, kurban bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ibadah yang ingin dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Selain untuk keluarga inti, nama para karyawan juga turut dimasukkan dalam daftar kurban tahun ini. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa ibadah kurban dipandang sebagai ruang berbagi yang lebih luas. Solmed tampak ingin memastikan manfaat kurban tidak hanya dirasakan oleh keluarga sendiri. Dengan cara itu, nilai kebersamaan dalam momen Idul Adha ikut diperkuat.
Keputusan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi berkurban di keluarga Solmed tidak berjalan stagnan. Setiap tahun, jumlah hewan kurban mengalami penambahan sesuai kondisi yang ada. Kendati demikian, mereka tidak menjadikan besaran hewan sebagai ukuran utama ibadah. Yang paling penting bagi mereka adalah niat untuk menunaikan sunnah dengan baik.
Suasana persiapan kurban juga menunjukkan sisi sederhana dari keluarga ini. Mereka berbicara soal kurban dengan nada santai, tanpa kesan berlebihan. Hal itu selaras dengan cara pandang Solmed yang menempatkan ibadah di atas gengsi. Dalam konteks ini, kurban menjadi cerminan kemampuan sekaligus rasa syukur.
Anggaran Kurban Bukan Ukuran
Saat ditanya mengenai total pengeluaran untuk sapi yang dibeli, Solmed memilih tidak membeberkan nominal secara rinci. Ia justru menanggapinya dengan kelakar yang membuat suasana wawancara lebih ringan. Menurutnya, yang terpenting adalah hewan yang dibeli tidak murahan. Ucapan itu ia sampaikan sambil tertawa di hadapan awak media.
April Jasmine kemudian menimpali pernyataan sang suami dengan nada serupa. Ia menyebut bahwa yang penting kurban tersebut tetap kebayar. April juga menyebut pilihan mereka sebagai sesuatu yang ekonomis. Respons itu menegaskan bahwa keluarga ini tetap memperhatikan kemampuan, tanpa kehilangan semangat berbagi.
Meski jumlah hewan kurban bertambah, Solmed menegaskan bahwa ia tidak menetapkan batasan khusus untuk anggaran. Baginya, kurban tidak semestinya diukur dari besar kecilnya biaya semata. Yang lebih utama adalah kemampuan untuk melaksanakan ibadah dengan tulus. Pandangan ini memperlihatkan keseimbangan antara kewajiban spiritual dan kondisi finansial.
Ia menambahkan bahwa setiap orang memiliki ukuran kemampuan yang berbeda dalam berkurban. Karena itu, jumlah hewan yang disiapkan tidak bisa disamaratakan. Selama ada kemauan dan kemampuan, ibadah tersebut sudah memiliki nilai tersendiri. Cara pandang itu menjadi pesan sederhana, namun relevan bagi banyak umat Muslim.
Makna Kurban Bagi Solmed
Bagi Solmed, kurban bukan hanya tradisi yang diulang setiap tahun. Ia memandangnya sebagai sunnah yang perlu dijalankan dengan kesadaran penuh. Karena itu, keberhasilan berkurban tidak diukur dari kemewahan pelaksanaan. Yang utama adalah hadirnya niat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Solmed juga mengungkapkan harapannya agar penyembelihan hewan kurban tahun ini benar-benar bisa terlaksana dengan baik. Ia bersyukur karena rencana tersebut sejauh ini berjalan lancar. Dalam ucapannya, ia menekankan pentingnya mengusahakan agar sapi benar-benar sampai dan niat pun ikut tercapai. Harapan itu menandakan bahwa ia menempatkan proses kurban sebagai amanah yang patut dijaga.
Ia menilai bahwa berkurban merupakan bentuk nyata dari kemampuan yang disyukuri. Ketika seseorang mampu melaksanakannya, maka ada kewajiban moral untuk tidak menunda. Pada saat yang sama, niat baik harus tetap menjadi dasar utama. Dengan demikian, kurban tidak hanya bernilai seremonial, tetapi juga spiritual.
Pandangan itu membuat kurban tampak sebagai ibadah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Solmed tidak membahasnya secara kaku, melainkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Pendekatan seperti ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih membumi. Di tengah kesibukan, kurban tetap diposisikan sebagai ruang untuk memperkuat iman.
Perbedaan Suasana Idul Adha
Solmed juga menceritakan bahwa suasana Idul Adha tahun ini akan berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Perbedaan itu terutama dipengaruhi oleh kondisi anak-anaknya yang sedang mondok. Ia menilai kemungkinan mereka tidak bisa menyaksikan langsung proses kurban di rumah. Situasi tersebut menjadi pembeda utama dalam perayaan keluarga tahun ini.
Meski demikian, Solmed menegaskan tidak ada perbedaan besar selain pergantian tahun. Menurutnya, esensi Idul Adha tetap sama dari waktu ke waktu. Yang berubah hanya konteks dan keadaan keluarga yang menyertainya. Hal itu membuat perayaan tetap terasa bermakna, meski tidak seluruh anggota keluarga hadir lengkap.
Ia pun menerima kondisi tersebut dengan sikap tenang dan penuh syukur. Bagi Solmed, kebersamaan tidak selalu harus hadir dalam bentuk fisik pada satu tempat. Nilai kurban tetap bisa dirasakan melalui niat dan doa masing-masing anggota keluarga. Cara pandang ini menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi perubahan situasi.
Di akhir keterangannya, Solmed menyebut bahwa perbedaan paling nyata hanyalah pada tahunnya. Ucapan itu menggambarkan bahwa ia memandang Idul Adha sebagai momen yang terus berulang dengan semangat yang sama. Selama niat dan kemampuan masih ada, kurban akan tetap dijalankan. Bagi keluarga Solmed, itulah inti yang ingin terus dijaga dari tahun ke tahun.
