Siti Fatimah Bangun Bisnis Singkong Usai Pulang dari Hongkong

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 24 Mei 2026 01:20 WIB 7
Siti Fatimah Bangun Bisnis Singkong Usai Pulang dari Hongkong

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan bahwa kepulangan ke Tanah Air dapat menjadi awal baru untuk membangun usaha. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu memilih berhenti merantau setelah lima tahun bekerja di Hongkong dan memulai bisnis jajanan tradisional dari rumah pada akhir 2017.

Berbekal tabungan tersisa Rp700 ribu, Fatimah merintis merek Qtello Ayu yang kini berkembang menjadi usaha rumahan dengan sembilan varian produk. Kisahnya menjadi contoh bagaimana tekad, inovasi, dan pemasaran sederhana dapat mengubah keterbatasan menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.

Bisnis singkong dari rumah

Fatimah mengaku memutuskan pulang karena merasa pekerjaannya sebagai pekerja rumah tangga di luar negeri tidak memberi ruang berkembang. Selain itu, kebutuhan hidup yang terus meningkat membuatnya harus mencari sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan. Ia kemudian memusatkan perhatian pada usaha yang bisa dijalankan dari rumah sambil tetap mengurus keluarga.

Keputusan tersebut lahir dari kondisi sebagai single parent yang harus menanggung kebutuhan anak-anaknya. Dengan modal terbatas, ia menanamkan keyakinan bahwa uang Rp700 ribu harus cukup untuk memulai apa pun. Dari tekad itu, ia mulai meracik jajanan berbahan dasar singkong yang dekat dengan selera masyarakat.

Pada akhir 2017, ia resmi meluncurkan produk dengan nama Qtello Ayu. Nama itu merupakan perpaduan kata ketela dan ayu, yang berarti cantik. Awalnya, ia hanya menjual tiga varian, yakni ongol-ongol, getuk, dan klepon.

Varian produk terus berkembang

Seiring waktu, jumlah produk Qtello Ayu bertambah menjadi sembilan varian. Aneka jajanan itu kini hadir dengan tampilan warna-warni yang lebih menarik bagi pembeli. Beberapa di antaranya adalah sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern.

Inovasi menjadi kunci agar produk tradisional tetap relevan di pasar yang berubah cepat. Fatimah tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga memperhatikan tampilan visual agar lebih mudah dilirik konsumen. Strategi itu membuat jajanan berbahan sederhana terlihat lebih bernilai dan berbeda dari produk serupa.

Menurut Fatimah, tantangan terbesar pada awal usaha adalah menjaga konsistensi produksi sambil terus berinovasi. Ia belajar membaca selera pasar melalui respon pelanggan yang datang dari berbagai daerah. Dari situ, ia perlahan menyesuaikan ukuran, tampilan, dan jenis produk agar tetap diminati.

Pemasaran lewat jejaring sederhana

Untuk menjangkau pembeli, Fatimah memanfaatkan cara-cara pemasaran yang murah dan efektif. Ia menggunakan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial untuk memperkenalkan produknya. Selain itu, promosi dari mulut ke mulut atau getok tular ikut memperluas jangkauan penjualan.

Strategi ini terbukti mampu mendatangkan pelanggan tetap dari dalam dan luar daerah. Pesanan datang dari Tulungagung, Trenggalek, hingga dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta. Pola pemasaran tersebut membuat usahanya bertahan tanpa harus bergantung pada toko fisik.

Dalam proses produksi, Fatimah tidak bekerja sendirian. Ia dibantu keluarga dan dua karyawan harian untuk menjaga kelancaran pesanan. Seluruh kegiatan usaha tetap dilakukan dari rumah agar kualitas dan kesegaran produk dapat terkontrol.

Omzet naik dan utang lunas

Berkat kerja keras dan disiplin, usaha Qtello Ayu kini mampu memproduksi hingga 400 kotak per hari. Omzet hariannya rata-rata mencapai Rp1 juta, meski pada hari tertentu bisa naik menjadi Rp2 juta hingga Rp3 juta. Peningkatan itu menunjukkan bisnis rumahan dapat tumbuh jika dikelola secara konsisten.

Hasil usaha tersebut juga mengubah kondisi keuangan Fatimah secara signifikan. Ia berhasil melunasi utang, memperbaiki ekonomi keluarga, dan membeli mobil untuk kebutuhan operasional. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha kecil bisa memberi dampak besar jika dijalankan dengan komitmen.

Keberhasilan Fatimah bahkan ikut membuka peluang baru bagi keluarganya. Salah satu anaknya yang sudah menikah membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Ia berharap usaha itu dapat terus berkembang ke lebih banyak kota karena permintaan pasar masih terbuka lebar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!