Siti Fatimah Bangun Bisnis Jajanan Singkong dari Rumah

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 10:12 WIB 2
Siti Fatimah Bangun Bisnis Jajanan Singkong dari Rumah

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan pulang kampung tidak selalu berarti berhenti maju. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu kembali ke Indonesia pada Mei 2017 setelah lima tahun bekerja di Hong Kong. Setibanya di tanah air, ia memilih membangun usaha dari rumah karena merasa pekerjaannya sebelumnya tidak lagi berkembang. Dari keputusan itu, lahirlah bisnis jajanan tradisional bernama Qtello Ayu yang kini dikenal luas.

Fatimah memulai usahanya dengan modal awal Rp700 ribu, yakni sisa tabungan saat kembali dari luar negeri. Ia mengaku terdorong oleh kebutuhan keluarga dan tekad untuk tidak kembali merantau. Pilihan itu kemudian membuka jalan bagi usaha berbahan dasar singkong yang terus berkembang. Kini, produk buatannya dipasarkan ke berbagai daerah dengan permintaan yang terus tumbuh.

Bisnis Jajanan Singkong

Fatimah memulai Qtello Ayu pada akhir 2017 dengan tiga varian awal, yaitu ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Nama produk itu diambil dari gabungan kata ketela dan ayu, yang mencerminkan bahan dasar sekaligus tampilan yang menarik. Seiring waktu, jumlah varian bertambah menjadi sembilan jenis. Produk itu kini tampil dengan warna-warna cerah dan kemasan yang lebih modern.

Pengembangan produk dilakukan dengan mengolah bahan sederhana menjadi jajanan yang tampak lebih segar dan menarik. Beberapa varian yang kini dijual antara lain sarang burung, getuk bakar, talam lapis, dan talam pisang. Ada pula singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi tersebut menjadi pembeda utama di tengah persaingan makanan ringan rumahan.

Fatimah menuturkan, keputusan membangun usaha lahir dari kondisi hidup yang menuntutnya lebih mandiri. Sebagai orang tua tunggal, ia ingin memastikan kebutuhan anak-anaknya tetap terpenuhi. Karena itu, ia memilih memutar modal kecil yang dimiliki menjadi sumber penghasilan baru. Langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usahanya hingga saat ini.

Keberhasilan awal itu menunjukkan bahwa produk tradisional tetap memiliki peluang besar jika dikemas dengan baik. Fatimah tidak mengubah singkong menjadi makanan mahal, tetapi memberi nilai tambah melalui tampilan dan variasi rasa. Pendekatan tersebut membuat jajanan rumahan lebih mudah diterima konsumen. Dari sini, Qtello Ayu mulai mendapatkan tempat di pasar lokal.

Modal Kecil Berbuah

Dengan modal Rp700 ribu, Fatimah membuktikan bahwa usaha kecil tetap bisa tumbuh jika dikelola dengan disiplin. Ia mengaku tidak ingin kembali bekerja ke luar negeri, sehingga seluruh kemampuan diarahkan untuk membangun bisnis. Tekad itu membuatnya berani mengambil risiko di tengah keterbatasan modal. Perlahan, usaha yang dimulai dari rumah mulai menghasilkan pendapatan yang stabil.

Awalnya, produksi dilakukan dalam skala terbatas dengan peralatan sederhana. Namun, permintaan yang meningkat membuat kapasitas produksi ikut bertambah. Saat ini, Qtello Ayu mampu memproduksi hingga 400 kotak per hari. Angka tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan dari usaha yang sebelumnya hanya dikerjakan secara manual.

Omzet harian Fatimah rata-rata mencapai Rp1 juta, meski terkadang bisa lebih tinggi hingga Rp2 juta atau Rp3 juta. Fluktuasi itu bergantung pada jumlah pesanan dan momen penjualan tertentu. Meski begitu, pendapatan tersebut cukup membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Usaha ini juga menjadi sumber nafkah yang lebih pasti dibandingkan penghasilan sebelumnya.

Fatimah menyebut, usaha kecil yang ia jalankan tidak hanya mengubah kondisi keuangan, tetapi juga cara pandangnya terhadap hidup. Ia belajar bahwa modal terbatas bukan penghalang, selama ada konsistensi dan kemauan berkembang. Dari hasil usahanya, ia bahkan mampu melunasi utang dan membeli mobil operasional. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha rumahan dapat naik kelas secara bertahap.

Pemasaran Dari Rumah

Untuk menjangkau pembeli, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial sebagai saluran promosi. Ia juga mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut yang terbukti efektif memperluas jaringan pelanggan. Strategi ini cocok karena produknya dibuat dari rumah dan tidak membutuhkan toko fisik besar. Cara tersebut membuat biaya promosi tetap efisien.

Selain digital, penjualan Qtello Ayu juga terbantu oleh relasi pelanggan yang sudah mengenal kualitas produknya. Konsumen dari Tulungagung, Trenggalek, hingga luar kota kerap memesan untuk kebutuhan oleh-oleh dan acara tertentu. Produk itu bahkan dibawa ke Surabaya, Probolinggo, sampai Jakarta. Jangkauan pasar yang meluas ini menunjukkan kekuatan promosi berbasis kepercayaan.

Fatimah juga menjaga keberlanjutan usaha dengan memastikan produk tetap segar saat sampai ke tangan pembeli. Seluruh proses produksi dilakukan di rumah agar pengawasan kualitas lebih mudah. Ia tidak bekerja sendirian, melainkan dibantu keluarga dan dua karyawan harian. Pola kerja ini membuat operasional lebih fleksibel namun tetap terkendali.

Pendekatan pemasaran yang sederhana tetapi konsisten menjadi salah satu kunci pertumbuhan Qtello Ayu. Fatimah memahami bahwa produk yang enak harus diikuti dengan pelayanan yang baik dan komunikasi yang rapi. Karena itu, ia terus menjaga hubungan dengan pelanggan lama sambil mencari pembeli baru. Kepercayaan pasar kemudian tumbuh seiring pengalaman positif konsumen.

Dampak Ekonomi Keluarga

Keberhasilan bisnis membuat kondisi ekonomi keluarga Fatimah membaik secara nyata. Ia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga melunasi utang yang sempat membebani. Dari hasil usaha, ia bahkan bisa membeli mobil untuk mendukung operasional. Perubahan ini menunjukkan dampak langsung dari usaha rumahan terhadap kesejahteraan keluarga.

Kesuksesan itu juga memberi inspirasi bagi anak-anaknya. Salah satu anaknya yang telah berkeluarga kini membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Langkah tersebut menandakan usaha keluarga ini mulai berkembang di luar daerah asal. Permintaan dari sejumlah kota menjadi peluang baru yang terus dilirik.

Fatimah berharap usahanya dapat membuka cabang di lebih banyak kota karena permintaan dinilai masih besar. Ia menilai proses membangun bisnis memang tidak mudah, tetapi tetap layak diperjuangkan. Menurutnya, siapa pun yang ingin berusaha harus siap menghadapi tantangan dengan sabar. Semangat untuk kembali mengingat tujuan awal menjadi bekal penting saat motivasi menurun.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba, jajanan tradisional berbahan singkong ini dijual mulai dari Rp8 ribuan per box. Produk tersebut cocok untuk camilan di rumah maupun hidangan acara. Informasi lebih lanjut tersedia melalui akun Instagram resmi @qtelloayu_trenggalek. Dari usaha sederhana, Fatimah menunjukkan bahwa kepulangan dari rantau bisa menjadi awal menuju kemandirian ekonomi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!