Sistem Imigrasi Malaysia Gangguan, Ribuan Komuter Terdampak

Teknologi BRH 01 Juni 2026 23:38 WIB 2
Sistem Imigrasi Malaysia Gangguan, Ribuan Komuter Terdampak

Gangguan pada sistem imigrasi Malaysia membuat proses pemeriksaan di sejumlah pos perbatasan lumpuh pada Kamis pagi, 28 Mei 2026. Titik paling terdampak terjadi di perbatasan darat Johor-Singapura, yang merupakan jalur tersibuk bagi pekerja komuter dan pelancong asing.

Selama sistem berbasis komputer bermasalah, petugas terpaksa melayani pemeriksaan secara manual dari pukul 04.30 hingga 09.30 waktu setempat. Kondisi itu memicu antrean panjang, kemacetan, serta keluhan dari warga Malaysia yang hendak bekerja di Singapura.

Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh

Gangguan sistem imigrasi Malaysia terjadi saat jam sibuk, ketika ribuan warga Negeri Jiran berangkat ke Singapura untuk bekerja. Situasi itu langsung berdampak pada kedua pos pemeriksaan darat di Johor, yang selama ini menjadi jalur vital mobilitas harian. Petugas imigrasi kemudian mengerahkan seluruh personel untuk membuka loket manual di aula bus, jalur sepeda motor, dan jalur kendaraan. Pemeriksaan juga melibatkan pengawasan tambahan karena gerbang otomatis dan sistem pengenalan wajah ikut tidak berfungsi.

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengatakan gangguan terjadi pada waktu puncak dan menimbulkan antrean panjang. Ia menyebut kondisi itu sangat menyulitkan para pekerja yang harus mengejar waktu masuk kerja di Singapura. Menurut pejabat tersebut, seluruh personel yang tersedia dikerahkan kembali ke titik pelayanan manual. Langkah itu dilakukan untuk menjaga arus keluar masuk orang tetap berjalan meski sistem utama terganggu.

Keluhan paling keras datang dari para komuter yang terdampak langsung oleh keterlambatan proses imigrasi. Salah satunya adalah M Satish, warga Malaysia yang bekerja sebagai petugas kesehatan, keselamatan, dan lingkungan di Singapura. Ia mengatakan tiba di pos pemeriksaan KSAB sekitar pukul 07.30 pagi dan mendapati situasi yang kacau. Proses imigrasi yang biasanya kurang dari 10 menit berubah menjadi hampir 40 menit.

Satish menilai pemadaman listrik memperburuk kemacetan lalu lintas di kawasan perbatasan. Ia juga menyebut gangguan semacam ini menciptakan ketidakpastian bagi pekerja yang bergantung pada kelancaran lintas batas. Foto dan video kerumunan besar serta antrean kendaraan kemudian menyebar luas di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan skala gangguan yang dialami para pelintas perbatasan sejak pagi.

Antrean Panjang di Johor

Perbatasan Johor-Singapura menjadi titik paling sibuk karena menampung arus pekerja harian yang sangat besar. Saat sistem imigrasi mengalami gangguan, antrean kendaraan dan pejalan kaki langsung mengular di kedua sisi pos pemeriksaan. Petugas keamanan tambahan juga dikerahkan untuk menjaga ketertiban dan mengurai kepadatan. Kondisi tersebut membuat waktu tempuh melintasi perbatasan melonjak jauh dari biasanya.

Media lokal The Star melaporkan bahwa sistem komputer mulai bermasalah pada dini hari dan baru pulih menjelang pagi. Laporan itu menyebut pemeriksaan manual diberlakukan untuk warga Malaysia maupun pelancong asing. Beberapa gerbang otomatis tidak dapat digunakan karena sistem utama tidak merespons. Sistem pengenalan wajah yang biasanya mempercepat proses juga ikut berhenti beroperasi.

Para pekerja yang bergantung pada jadwal ketat menjadi kelompok yang paling dirugikan. Banyak di antara mereka mengaku terlambat tiba di tempat kerja akibat antrean yang terlalu panjang. Situasi ini memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan infrastruktur digital di perbatasan Malaysia. Bagi komuter harian, gangguan beberapa jam saja dapat berdampak pada produktivitas dan jadwal kerja.

Insiden tersebut juga menyoroti rentannya layanan publik ketika sistem teknologi tidak berjalan stabil. Di jalur perbatasan, ketergantungan pada sistem otomatis memang membuat gangguan teknis langsung terasa luas. Ketika seluruh layanan berhenti serentak, petugas harus kembali ke pola manual yang lebih lambat. Akibatnya, tekanan di area pemeriksaan meningkat dalam waktu singkat.

MyIMMs Dinilai Sudah Tua

Direktur Jenderal Departemen Imigrasi Malaysia, Zakaria Shaaban, mengatakan gangguan itu dipicu masalah teknis pada pusat data Sistem Imigrasi Malaysia atau MyIMMs. Menurut dia, gangguan berlangsung sekitar pukul 05.00 hingga 08.45 waktu setempat sebelum sistem kembali online. Ia menegaskan sistem tersebut tidak diretas. Zakaria juga menyebut MyIMMs sudah berusia sekitar 30 tahun sehingga potensi gangguan teknis memang sulit dihindari.

Insiden ini menjadi gangguan besar kedua dalam waktu sekitar sebulan. Sebelumnya, gangguan serupa membuat ribuan pelancong terlantar selama kurang lebih dua jam pada 23 April. Kembalinya masalah dalam rentang waktu singkat memunculkan pertanyaan soal ketahanan sistem imigrasi nasional. Otoritas setempat pun kembali menyoroti perlunya pembaruan infrastruktur digital.

Malaysia memiliki 56 titik masuk laut, 30 titik masuk darat, dan 28 bandara. Gangguan pada Kamis pagi itu disebut memengaruhi sebagian besar dari 114 pos pemeriksaan imigrasi di seluruh negeri. Untuk meredam dampak, petugas keamanan tambahan diterjunkan ke sejumlah lokasi. Langkah ini ditempuh agar arus penumpang tetap terkendali meski layanan digital terganggu.

Zakaria menilai masalah seperti ini akan terus muncul selama sistem lama masih digunakan. Ia menyebut pemerintah memang akan mengganti MyIMMs dengan Sistem Imigrasi Terpadu Nasional atau NIISe pada 2028. Sistem baru itu dirancang untuk mengintegrasikan verifikasi paspor, pemeriksaan visa, dan data pelancong dalam satu platform. Namun selama transisi berlangsung, gangguan serupa masih berpotensi terulang.

NIISe Jadi Solusi Baru

Pemerintah Malaysia kini menempatkan NIISe sebagai solusi modern untuk memperkuat pengawasan perbatasan. Platform itu diproyeksikan menggantikan sistem lama yang dinilai sudah tidak lagi memadai untuk kebutuhan lalu lintas lintas negara yang padat. Dengan satu platform terpadu, proses verifikasi diharapkan menjadi lebih cepat dan lebih efisien. Integrasi data juga diharapkan mengurangi risiko hambatan teknis yang selama ini kerap mengganggu pelayanan.

Zakaria mengatakan vendor NIISe telah diminta menyiapkan rencana mitigasi menjelang pengoperasian Sistem Transit Cepat atau RTS Johor Bahru-Singapura tahun depan. Permintaan itu menunjukkan pemerintah ingin mencegah gangguan serupa saat arus penumpang diperkirakan semakin meningkat. RTS dipandang akan menambah pentingnya kesiapan sistem imigrasi lintas batas. Karena itu, keandalan teknologi menjadi faktor kunci dalam pengelolaan pergerakan orang di perbatasan.

Meski demikian, proses transisi ke sistem baru tetap menyisakan tantangan. Selama NIISe belum beroperasi penuh, otoritas masih harus bergantung pada MyIMMs yang sudah berusia tua. Kondisi itu membuat insiden teknis bisa muncul sewaktu-waktu dan mengganggu layanan publik. Bagi pekerja komuter, setiap gangguan berarti risiko keterlambatan yang sulit dihindari.

Insiden di Johor kembali menegaskan bahwa perbatasan modern memerlukan sistem digital yang stabil, cepat, dan tahan gangguan. Tanpa itu, jalur vital seperti Johor-Singapura akan terus menjadi titik rawan saat volume perjalanan meningkat. Pemerintah Malaysia kini dituntut mempercepat pembaruan teknologi sekaligus memastikan layanan manual tetap siap digunakan saat darurat. Dengan begitu, gangguan serupa di masa depan dapat ditekan seminimal mungkin.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!