Singapura Geser Indonesia di Pasar Saham ASEAN

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 25 Mei 2026 21:15 WIB 3
Singapura Geser Indonesia di Pasar Saham ASEAN

Pasar saham Indonesia kembali berada di bawah tekanan setelah statusnya sebagai yang terbesar di Asia Tenggara digeser Singapura. Data Bloomberg menunjukkan kapitalisasi pasar emiten di Bursa Efek Indonesia merosot lebih dari 30 persen dari puncaknya pada Januari, menjadi sekitar US$ 618 miliar.

Di sisi lain, kapitalisasi pasar saham Singapura justru naik ke US$ 645 miliar. Kondisi ini mencerminkan melemahnya kepercayaan investor terhadap Indonesia, di tengah kekhawatiran soal status pasar, penurunan prospek kredit, dan rupiah yang terus berada dekat rekor terlemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pasar saham Indonesia tertekan

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia berlangsung di tengah sentimen yang makin berat. Mengutip Strait Times, Rabu (20/5/2026), investor mulai mempertanyakan arah kebijakan pasar modal domestik. Kekhawatiran itu turut memicu aksi hati-hati di kalangan pelaku pasar global.

Kapitalisasi pasar emiten yang tercatat di bursa mengalami penurunan signifikan sejak awal tahun. Penurunan tersebut membuat Indonesia kehilangan posisi teratas di kawasan Asia Tenggara. Singapura kemudian mengambil alih posisi dengan nilai pasar yang lebih tinggi.

Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap aset berisiko di Indonesia sedang melemah. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung menahan diri sambil menunggu kepastian yang lebih kuat. Arus dana pun berpotensi berpindah ke pasar yang dinilai lebih stabil.

Kondisi pasar yang lesu juga terlihat dari perbandingan kinerja dengan negara lain. Pasar saham Indonesia tercatat menjadi salah satu yang berkinerja paling buruk di dunia. Situasi itu menambah tekanan terhadap sentimen domestik yang sudah rapuh.

Investor cermati status pasar

Salah satu sumber kekhawatiran berasal dari kemungkinan pasar saham Indonesia turun kelas menjadi frontier market. Isu tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kalangan investor institusi. Mereka menilai perubahan status dapat berdampak pada aliran modal dan likuiditas.

Ketidakpastian itu membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap berita ekonomi dan kebijakan. Setiap sinyal negatif cenderung segera tercermin pada pergerakan harga saham. Dalam jangka pendek, hal ini dapat menekan transaksi di bursa.

Manajer portofolio Lion Global Investors, Soh Chih Kai, menilai kondisi saat ini memang belum berpihak pada Indonesia. Namun, ia tetap melihat peluang kebangkitan pada masa mendatang. Pandangan ini menunjukkan bahwa ruang pemulihan masih terbuka bila fundamental membaik.

Meski demikian, persepsi pasar saat ini lebih condong kepada kehati-hatian. Investor global cenderung mencari tempat yang dianggap lebih pasti. Dalam konteks itu, Indonesia harus bekerja lebih keras untuk mengembalikan keyakinan pasar.

Peringkat kredit ikut menekan

Sentimen negatif terhadap pasar saham Indonesia juga diperkuat oleh langkah lembaga pemeringkat internasional. Fitch Ratings dan Moody's sama-sama menurunkan prospek rating kredit Indonesia menjadi negatif. Kebijakan tersebut menambah kekhawatiran terkait daya tahan ekonomi nasional.

Prospek rating yang melemah biasanya dibaca pasar sebagai tanda meningkatnya risiko. Jika persepsi risiko naik, investor dapat menuntut imbal hasil yang lebih tinggi. Akibatnya, biaya pendanaan berpotensi ikut terdorong naik.

Selain itu, pasar membaca penurunan prospek kredit sebagai peringatan dini. Kondisi tersebut sering memicu kehati-hatian terhadap aset berdenominasi rupiah. Efeknya, saham dan obligasi sama-sama bisa tertekan.

Di tengah situasi itu, rupiah juga terus menyentuh level terlemah terhadap dolar AS. Pergerakan mata uang yang lemah memperburuk sentimen pasar secara keseluruhan. Investor pun semakin fokus pada stabilitas makroekonomi Indonesia.

Singapura makin menarik investor

Berbeda dengan Indonesia, saham-saham di Singapura mendapat dorongan dari stabilitas ekonomi dan politik. Reformasi pasar yang dilakukan pemerintah juga memberi sinyal positif bagi pelaku pasar. Kombinasi ini membuat Singapura dipersepsikan lebih aman oleh investor global.

Indeks Straits Times bahkan mencetak rekor tertinggi pada pekan ini. Kenaikan itu didorong pencarian aset yang lebih defensif di tengah gejolak global. Ketegangan geopolitik, termasuk perang Iran, memperkuat arus minat ke pasar yang lebih stabil.

Situasi tersebut menegaskan perubahan preferensi investor di kawasan. Ketika ketidakpastian meningkat, pasar dengan kepastian kebijakan cenderung menjadi tujuan utama. Singapura berhasil memanfaatkan kondisi itu dengan baik.

Jika tren ini berlanjut, saham Singapura diperkirakan akan mengungguli saham Indonesia dengan selisih terbesar sepanjang sejarah pada 2026. Proyeksi itu menjadi peringatan bagi pasar domestik untuk segera memperbaiki sentimen. Tanpa langkah pemulihan yang jelas, tekanan terhadap pasar saham Indonesia bisa bertahan lebih lama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!