Serat Daun Nanas Jadi Produk Ekspor Bernilai Tinggi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 22:20 WIB 3
Serat Daun Nanas Jadi Produk Ekspor Bernilai Tinggi

Bagi banyak petani, daun nanas selama ini hanya dianggap limbah panen yang tidak bernilai dan kerap dibakar begitu saja. Namun, di tangan Alan Sahroni, sisa tanaman itu berubah menjadi peluang bisnis yang menguntungkan sekaligus membantu meningkatkan ekonomi petani. Melalui Alfiber, ia mengolah daun nanas menjadi serat bernilai tinggi yang kini menembus pasar mancanegara.

Produk serat daun nanas tersebut telah diekspor ke Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang. Serat itu dapat digunakan sebagai bahan baku tekstil, fesyen, dan kerajinan, sehingga membuka pasar baru bagi industri berbasis bahan alami. Perjalanan bisnis ini dimulai dari ide sederhana yang kemudian berkembang menjadi usaha berorientasi ekspor.

Serat daun nanas bernilai ekonomi

Alan melihat potensi besar pada daun nanas saat menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung. Ia menyadari bahwa Subang bukan hanya daerah penghasil buah nanas, tetapi juga menyimpan peluang pada serat yang tersembunyi di daunnya. Dari sana, muncul gagasan untuk mengolah limbah pertanian menjadi bahan baku industri.

Menurut Alan, serat daun nanas memiliki karakter kuat dan dapat diolah menjadi kain, kerajinan, hingga produk fashion. Potensi tersebut membuat bahan yang semula tidak diperhitungkan menjadi komoditas bernilai jual tinggi. Inovasi ini juga memberi alternatif penghasilan bagi masyarakat di daerah penghasil nanas.

Langkah itu bermula pada 2013, ketika Alan mengikuti lomba business plan nasional sebagai syarat mengambil ijazah. Saat itu, ia masih menerima beasiswa dari Kementerian Perindustrian dan berupaya mewujudkan ide yang ia anggap relevan dengan kebutuhan industri. Kemenangan dalam lomba tersebut menjadi pintu awal pengembangan mesin pengolah daun nanas.

Mesin buatan sendiri

Setelah meraih kemenangan, Alan mendapat fasilitas untuk membuat mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum ada mesin serupa di pasaran, ia bersama dosen merancang dan membuat mesin dekortikator secara mandiri. Proses itu menjadi fondasi awal lahirnya produksi komersial Alfiber.

Mesin dekortikator tersebut kemudian digunakan untuk memisahkan serat dari daun nanas secara efisien. Kehadiran alat ini membuat pengolahan bahan baku lebih terstruktur dan memungkinkan produksi dalam skala bisnis. Dari sinilah Alfiber mulai membangun rantai pasok serat nanas yang berkelanjutan.

Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket produksi lengkap yang terdiri dari mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin. Paket tersebut diminati berbagai pihak, mulai dari pelaku industri kecil hingga universitas yang membutuhkan mesin mini untuk kebutuhan laboratorium. Model bisnis ini memperluas jangkauan pasar dan memperkuat ekosistem usaha.

Pemasaran dibangun dari nol

Meski punya produk unik, Alan tidak langsung mendapat pasar yang besar pada awal produksi komersial. Serat daun nanas saat itu masih belum dikenal luas, sehingga tantangan utamanya justru terletak pada pemasaran. Untuk menjangkau calon pembeli, ia membangun promosi dari nol melalui blog gratis.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil ketika perhatian datang dari akademisi, mahasiswa, dan media nasional. Publik mulai melihat serat daun nanas sebagai bahan baku alternatif yang memiliki nilai tambah. Perlahan, produk ini keluar dari bayang-bayang sebagai limbah pertanian.

Alan mengaku produksi awal berjalan sekitar satu tahun dengan kendala utama pada minimnya pemahaman pasar. Ia menuturkan bahwa produk itu masih tergolong baru, sehingga banyak orang belum mengetahui kegunaan serat daun nanas. Kondisi tersebut membuat edukasi pasar menjadi bagian penting dari perjalanan bisnisnya.

Ekspor ke pasar luar negeri

Perkembangan bisnis Alfiber mencapai tonggak penting pada 2021 ketika berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura. Pengiriman dilakukan di tengah situasi pandemi COVID-19 yang membuat distribusi logistik tidak selalu mudah. Meski begitu, permintaan dari luar negeri tetap berjalan dan menjadi bukti bahwa produk ini memiliki daya saing.

Alan menyebut total ekspor ke Negeri Singa itu mencapai 1,2 ton. Pengiriman dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan stok, termasuk ketika jumlah serat yang tersedia hanya beberapa ratus kilogram. Nilai jualnya mencapai Rp187 ribu per kilogram, menunjukkan potensi ekonomi yang cukup besar.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi jika dikelola dengan inovasi yang tepat. Bagi petani, pemanfaatan daun nanas juga membuka peluang tambahan penghasilan dari bahan yang sebelumnya tidak terpakai. Dari Subang, serat daun nanas kini menjelma menjadi komoditas yang menembus pasar global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!