Serat Daun Nanas Jadi Cuan, Tembus Ekspor ke Jepang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 25 Mei 2026 23:05 WIB 2
Serat Daun Nanas Jadi Cuan, Tembus Ekspor ke Jepang

Bagi banyak petani, daun nanas selama ini hanya dianggap limbah panen yang kerap dibakar begitu saja. Namun, di tangan Alan Sahroni, material yang tidak bernilai itu berubah menjadi serat daun nanas bernilai jual tinggi dan membuka peluang ekonomi baru bagi petani.

Melalui bisnis Alfiber, Alan memproduksi serat daun nanas untuk bahan baku tekstil, fesyen, dan kerajinan, lalu mengekspornya ke Singapura, Malaysia, Jerman, hingga Jepang. Perjalanan usaha ini berawal dari tantangan akademik pada 2013, ketika ia mulai melihat potensi besar Subang sebagai daerah penghasil nanas.

Potensi Serat Daun Nanas

Alan melihat daun nanas bukan sebagai sisa produksi, melainkan sumber serat alami yang kuat dan serbaguna. Dari riset awal itu, ia menemukan peluang untuk mengolah bahan yang selama ini terbuang menjadi produk bernilai tinggi.

Pandangan tersebut muncul saat ia menempuh pendidikan di STT Tekstil Bandung. Ia menyadari bahwa serat daun nanas dapat dimanfaatkan untuk kain, produk fesyen, hingga berbagai kerajinan.

Kesadaran itu kemudian menjadi dasar pengembangan usaha yang lebih serius. Alan menilai pemanfaatan limbah pertanian dapat memberi dampak ekonomi langsung kepada petani.

Dari Lomba ke Mesin Produksi

Langkah awal Alan dimulai saat mengikuti lomba business plan nasional pada 2013. Ajang itu ia ikuti sebagai syarat mengambil ijazah, karena saat itu ia menerima beasiswa dari Kementerian Perindustrian.

Ia berhasil memenangkan lomba tersebut dan mendapat fasilitas untuk membuat mesin pengolah daun nanas menjadi serat. Karena belum tersedia di pasaran, Alan bersama dosennya merancang mesin dekortikator dari nol.

Mesin itu kemudian menjadi fondasi produksi komersial Alfiber. Sejak saat itu, pengolahan daun nanas tidak lagi berhenti pada gagasan, tetapi masuk ke tahap industri yang lebih nyata.

Tantangan Pemasaran Awal

Meski produksi sudah berjalan pada 2013, Alan menghadapi tantangan besar di pasar. Saat itu, serat daun nanas masih sangat asing dan belum banyak diketahui manfaatnya oleh calon pembeli.

Ia memulai pemasaran dari nol melalui blog gratis, lalu perlahan menarik perhatian akademisi, mahasiswa, dan media nasional. Upaya itu membantu memperluas edukasi publik tentang potensi serat daun nanas.

Dalam perjalanannya, Alan mengakui bahwa kendala utama pada masa awal bukan produksi, melainkan pemasaran. Ia harus meyakinkan pasar bahwa limbah pertanian bisa menjadi bahan baku industri yang layak diperdagangkan.

Ekspor dan Dampak Ekonomi

Selain menjual serat siap olah, Alfiber juga menawarkan paket produksi lengkap yang terdiri dari mesin dekortikator dan alat tenun bukan mesin. Produk ini banyak dipesan pelaku industri kecil dan universitas yang membutuhkan mesin mini untuk laboratorium.

Pencapaian penting terjadi pada 2021, ketika Alfiber berhasil mengekspor serat daun nanas ke Singapura di tengah pandemi COVID-19. Total pengiriman ke negara itu mencapai 1,2 ton dengan harga sekitar Rp187 ribu per kilogram.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi. Bagi Alan, serat daun nanas bukan hanya produk, tetapi juga cara untuk mengangkat ekonomi petani melalui inovasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!