Self-Care Tak Harus Mahal, Istirahat Juga Bermanfaat

Lifestyle Anindya Kirana Putri 25 Mei 2026 08:44 WIB 5
Self-Care Tak Harus Mahal, Istirahat Juga Bermanfaat

Self-care kerap dianggap identik dengan liburan mahal, staycation, atau belanja sebagai bentuk healing. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Psikolog Annisa Axelta, M.Psi, menegaskan bahwa self-care bisa dilakukan dengan cara sederhana, bahkan tanpa mengeluarkan uang. Pemahaman ini penting karena banyak orang justru merasa bersalah saat memilih beristirahat.

Dalam acara Wolipop bertajuk Kartini di Cartini, Annisa menjelaskan bahwa self-care pada dasarnya adalah upaya mengisi kembali energi fisik dan mental yang terkuras. Istirahat, me-time, hingga membatasi aktivitas yang melelahkan dapat menjadi bentuk perawatan diri yang sah. Dengan begitu, self-care tidak lagi dipandang sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan hidup. Pandangan ini diharapkan dapat meluruskan mitos yang berkembang di masyarakat, khususnya di kalangan anak muda.

Makna Self-Care Sebenarnya

Annisa menilai bahwa salah satu mitos terbesar adalah anggapan self-care harus selalu mengeluarkan uang. Menurutnya, pemahaman itu membuat banyak orang salah kaprah dalam memaknai perawatan diri. Padahal, kebutuhan utama self-care adalah mengembalikan kondisi tubuh dan pikiran yang lelah. Karena itu, bentuknya bisa sangat sederhana dan tetap efektif.

Ia mengibaratkan tubuh manusia seperti baterai yang perlu diisi ulang setelah digunakan beraktivitas sepanjang hari. Saat energi terkuras, tubuh dan pikiran membutuhkan jeda agar dapat kembali berfungsi optimal. Dalam kondisi seperti itu, istirahat menjadi bagian penting dari pemulihan. Dengan kata lain, self-care adalah cara untuk mengembalikan daya tahan diri.

Annisa menegaskan bahwa self-care bukan sekadar memanjakan diri dengan gaya hidup mewah. Sebaliknya, self-care merupakan kebutuhan dasar agar seseorang tetap bertenaga dan semangat menjalani hari. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, produktivitas dan suasana hati pun cenderung lebih stabil. Karena itu, self-care sebaiknya dipahami sebagai kebiasaan yang sehat, bukan sekadar tren.

Istirahat Juga Bentuk Self-Care

Banyak orang merasa bersalah saat memilih rebahan atau beristirahat di rumah. Menurut Annisa, rasa bersalah itu sebaiknya tidak perlu muncul karena istirahat juga termasuk self-care. Tubuh yang lelah memang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Jika dilakukan dengan tepat, istirahat justru membantu seseorang kembali segar.

Ia menyebut bahwa me-time sederhana sudah cukup untuk menjadi bentuk perawatan diri. Tidak semua self-care harus berbentuk aktivitas yang ramai atau menguras biaya. Bahkan, duduk tenang tanpa gangguan pun bisa memberi efek pemulihan. Yang terpenting adalah kebutuhan tubuh dan pikiran benar-benar didengarkan.

Meski begitu, Annisa mengingatkan agar istirahat tetap dilakukan secara seimbang. Rebahan yang terlalu lama justru bisa membuat aktivitas harian terganggu. Karena itu, jeda perlu diatur agar manfaatnya tetap terasa. Self-care yang baik adalah yang membantu, bukan yang membuat rutinitas terhenti.

Self-Care Tanpa Harus Jalan-Jalan

Stigma bahwa self-care harus dilakukan lewat traveling atau keluar rumah masih cukup kuat di masyarakat. Padahal, ada banyak alternatif yang lebih mudah dan tidak memerlukan biaya besar. Aktivitas sederhana di rumah justru bisa memberikan dampak positif bagi tubuh dan pikiran. Karena itu, self-care dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.

Annisa menjelaskan bahwa self-care memiliki banyak bentuk, mulai dari spiritual, fisik, emosional, hingga mental. Spiritual self-care bisa berupa beribadah atau meditasi, sementara fisik dapat dilakukan dengan olahraga ringan. Untuk sisi emosional, journaling atau refleksi diri bisa menjadi pilihan yang bermanfaat. Adapun untuk mental, membaca buku atau belajar hal baru dapat membantu menyegarkan pikiran.

Selain itu, seseorang juga bisa melakukan self-care dengan cara sederhana seperti tidak membuka urusan kerja untuk sementara waktu. Menolak ajakan ketika memang sedang butuh waktu sendiri juga merupakan langkah yang wajar. Kebiasaan ini membantu menjaga batas agar energi tidak terus terkuras. Dengan pengelolaan yang tepat, self-care bisa tetap hadir dalam keseharian tanpa terasa memberatkan.

Self-Care Untuk Keseimbangan

Penting untuk memahami bahwa self-care bukan tindakan egois, melainkan bagian dari menjaga kesehatan diri. Saat tubuh dan mental terjaga, seseorang akan lebih siap menghadapi tuntutan aktivitas. Hal ini juga membantu mencegah kelelahan yang berkepanjangan. Karena itu, self-care perlu diposisikan sebagai kebutuhan yang sah.

Ketika energi kembali terisi, seseorang biasanya lebih fokus dalam bekerja dan lebih tenang dalam bersosialisasi. Kondisi tersebut berdampak baik pada kualitas hidup secara keseluruhan. Self-care yang dilakukan secara rutin dapat menjadi fondasi keseimbangan emosional. Dengan begitu, tekanan sehari-hari tidak mudah berkembang menjadi beban yang lebih berat.

Pesan Annisa menjadi pengingat bahwa perawatan diri tidak selalu harus mahal atau rumit. Istirahat, batasan yang sehat, dan aktivitas sederhana sudah bisa menjadi bentuk self-care yang bermakna. Yang diperlukan hanyalah kesadaran untuk mengenali kebutuhan diri sendiri. Dari sana, keseimbangan hidup dapat dijaga dengan lebih baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!