Self-Care Tak Harus Mahal, Ini Penjelasan Psikolog

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 17:30 WIB 3
Self-Care Tak Harus Mahal, Ini Penjelasan Psikolog

Self-care kerap dipersepsikan sebagai liburan mahal, staycation, atau belanja untuk mencari kenyamanan diri. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya tepat dan justru membuat banyak orang salah memahami maknanya. Psikolog Annisa Axelta, M.Psi menjelaskan bahwa self-care bisa dilakukan dengan cara sederhana, tanpa harus mengeluarkan uang.

Penjelasan itu disampaikan dalam acara Wolipop bertajuk Kartini di Cartini, yang menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan fisik dan mental. Menurut Annisa, istirahat saja sudah dapat dihitung sebagai bentuk self-care, selama dilakukan dengan porsi yang wajar dan tidak berlebihan.

Self-Care Tak Harus Mahal

Annisa menilai, mitos yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa self-care selalu membutuhkan biaya. Pandangan tersebut membuat sebagian orang merasa harus melakukan aktivitas tertentu agar dianggap peduli pada diri sendiri. Dalam praktiknya, self-care justru dapat dimulai dari kebiasaan paling sederhana.

Ia menegaskan bahwa kebutuhan dasar tubuh dan pikiran tidak selalu harus dipenuhi lewat aktivitas konsumtif. Istirahat yang cukup, jeda dari rutinitas, dan waktu tenang untuk diri sendiri sudah memberi dampak positif. Karena itu, self-care sebaiknya dipahami sebagai kebutuhan, bukan sekadar tren gaya hidup.

Kesalahpahaman ini, menurut Annisa, perlu diluruskan agar masyarakat tidak merasa terbebani. Anak muda, khususnya, sering mengaitkan self-care dengan aktivitas mahal yang terlihat menarik di media sosial. Padahal, esensi utamanya adalah memulihkan energi agar seseorang kembali siap beraktivitas.

Dengan pemahaman yang tepat, self-care tidak lagi menjadi simbol kemewahan. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari cara seseorang menjaga keseimbangan hidup. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan mudah diterapkan dalam keseharian.

Istirahat Juga Bagian

Banyak orang merasa bersalah ketika memilih untuk beristirahat atau sekadar rebahan. Kondisi itu muncul karena adanya anggapan bahwa waktu luang harus selalu diisi dengan aktivitas produktif. Annisa menyebut, rasa bersalah seperti ini perlu diubah agar seseorang bisa lebih bijak membaca kebutuhannya sendiri.

Menurutnya, istirahat justru termasuk bentuk self-care yang paling mendasar. Saat tubuh dan pikiran lelah, berhenti sejenak dapat membantu memulihkan fokus dan emosi. Hal sederhana seperti me-time juga bisa memberi ruang bagi seseorang untuk kembali merasa utuh.

Namun, ia mengingatkan bahwa istirahat tetap perlu dilakukan secara seimbang. Jika kebiasaan rebahan dilakukan terlalu lama, manfaatnya bisa berubah menjadi hambatan bagi aktivitas harian. Karena itu, self-care tetap perlu dijalankan dengan kontrol yang sehat.

Pesan tersebut penting agar istirahat tidak disalahartikan sebagai kemalasan. Justru dengan memberi waktu pulih pada diri sendiri, seseorang dapat menjaga performa dalam jangka panjang. Cara ini membantu tubuh dan pikiran tetap berada dalam kondisi yang lebih stabil.

Makna Self-Care Sesungguhnya

Annisa menjelaskan bahwa self-care adalah upaya mengisi kembali energi fisik dan mental yang terkuras. Ia menggambarkan kondisi itu seperti baterai yang habis dan perlu diisi ulang. Analogi tersebut memudahkan orang memahami bahwa manusia juga memiliki batas energi.

Ketika aktivitas harian terasa padat, tubuh dan pikiran dapat mengalami kelelahan yang menumpuk. Dalam kondisi seperti itu, self-care berfungsi sebagai ruang pemulihan agar seseorang tidak terus berjalan dalam keadaan kosong. Proses ini penting untuk menjaga daya tahan emosional dan mental.

Lebih jauh, self-care bukan hanya soal memanjakan diri dengan hal yang menyenangkan. Ia merupakan kebutuhan dasar untuk mempertahankan keseimbangan diri agar seseorang tetap bertenaga. Tanpa jeda yang cukup, produktivitas justru berisiko menurun karena tubuh tidak mendapat kesempatan pulih.

Dengan kata lain, self-care membantu seseorang kembali memiliki ruang untuk bernapas. Energi yang terisi ulang membuat seseorang lebih siap menghadapi tuntutan kerja, keluarga, maupun kehidupan sosial. Dari sini terlihat bahwa self-care memiliki fungsi yang sangat praktis.

Pilihan Self-Care Sederhana

Annisa menekankan bahwa self-care tidak harus dilakukan melalui traveling atau aktivitas di luar rumah. Banyak pilihan sederhana yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang. Yang terpenting adalah aktivitas tersebut benar-benar membantu memulihkan kondisi diri.

Beberapa contoh self-care sederhana antara lain istirahat cukup pada akhir pekan dan berhenti sementara dari urusan kerja. Menolak ajakan ketika membutuhkan waktu sendiri juga dapat menjadi bentuk menjaga batas sehat. Sikap ini bukan berarti menutup diri, melainkan memberi ruang untuk pulih.

Ia juga menyebut adanya berbagai bentuk self-care lain yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Spiritual self-care dapat dilakukan melalui ibadah atau meditasi. Sementara itu, fisik bisa dijaga lewat olahraga ringan, dan mental dapat dirawat dengan membaca buku atau mempelajari hal baru.

Untuk sisi emosional, journaling atau refleksi diri bisa menjadi cara yang efektif. Aktivitas-aktivitas tersebut murah, mudah dilakukan, dan tetap memberi manfaat nyata bagi keseimbangan diri. Dengan pemahaman yang tepat, self-care dapat hadir dalam bentuk yang sederhana namun bermakna.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!