Self-Care Tak Harus Mahal, Ini Penjelasan Psikolog

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 05:12 WIB 5
Self-Care Tak Harus Mahal, Ini Penjelasan Psikolog

Self-care kerap dianggap identik dengan liburan mahal, staycation, atau belanja untuk mengusir penat. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya tepat karena perawatan diri dapat dilakukan dengan cara yang jauh lebih sederhana. Psikolog Annisa Axelta, M.Psi, menegaskan bahwa self-care tidak harus mengeluarkan uang, melainkan berfokus pada pemulihan energi fisik dan mental.

Penjelasan itu disampaikan Annisa dalam acara Wolipop bertajuk Kartini di Cartini. Ia juga meluruskan mitos yang berkembang di masyarakat, terutama di kalangan anak muda, bahwa self-care hanya sah jika dilakukan dengan cara yang mahal. Menurutnya, istirahat saja sudah dapat menjadi bentuk self-care yang penting.

Self-Care Tak Harus Mahal

Annisa menegaskan bahwa salah satu kesalahpahaman terbesar adalah anggapan bahwa self-care selalu membutuhkan biaya. Padahal, kebutuhan utama dari self-care adalah memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih. Karena itu, aktivitas sederhana tetap memiliki nilai yang sama pentingnya.

Ia menjelaskan bahwa istirahat, diam sejenak, dan memberi waktu untuk diri sendiri sudah termasuk dalam praktik self-care. Banyak orang justru merasa bersalah saat memilih berhenti sejenak dari rutinitas, padahal tubuh sedang membutuhkan jeda. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perawatan diri tidak selalu harus terlihat mewah.

Dengan pemahaman yang lebih tepat, self-care dapat dilakukan lebih inklusif dan tidak membebani. Seseorang tidak perlu menunggu liburan panjang untuk merasa lebih baik. Langkah kecil yang konsisten justru lebih bermanfaat untuk menjaga keseimbangan diri.

Rebahan Juga Bernilai

Istirahat atau rebahan sering dipandang sebagai bentuk kemalasan, bukan kebutuhan. Annisa menilai pandangan itu keliru karena tubuh memang memerlukan waktu untuk berhenti dari tekanan harian. Saat energi menurun, beristirahat bisa menjadi cara paling sederhana untuk memulihkan kondisi.

Menurutnya, me-time yang dilakukan dengan rebahan pun dapat dihitung sebagai self-care. Selama dilakukan dengan sadar dan tidak berlebihan, jeda tersebut membantu seseorang mengurangi beban mental. Hal ini penting agar individu tidak terus memaksakan diri dalam keadaan lelah.

Meski demikian, Annisa mengingatkan bahwa istirahat tetap perlu dikendalikan. Kebiasaan rebahan yang terlalu lama justru dapat menghambat produktivitas dan membuat seseorang kehilangan ritme aktivitas. Karena itu, self-care harus ditempatkan secara seimbang agar manfaatnya tetap terasa.

Makna Self-Care Sejati

Annisa menjelaskan bahwa self-care adalah upaya mengisi kembali energi fisik dan mental yang terkuras oleh aktivitas sehari-hari. Ia mengibaratkan tubuh seperti baterai yang perlu diisi ulang setelah digunakan terus-menerus. Ketika energi kosong, seseorang akan lebih mudah lelah, emosional, dan kehilangan fokus.

Perumpamaan itu menggambarkan bahwa self-care bukan sekadar memanjakan diri. Lebih dari itu, self-care adalah kebutuhan dasar agar seseorang tetap mampu menjalani rutinitas dengan baik. Tanpa pemulihan yang cukup, kondisi fisik dan mental dapat menurun secara perlahan.

Karena itu, self-care seharusnya dipahami sebagai bagian dari menjaga kesehatan diri. Seseorang yang memberi waktu untuk pulih akan lebih siap menghadapi tuntutan pekerjaan, keluarga, maupun kehidupan sosial. Dengan begitu, tubuh dan pikiran dapat kembali bekerja secara optimal.

Contoh Self-Care Sederhana

Annisa menilai self-care tidak harus selalu dilakukan lewat traveling atau aktivitas di luar rumah. Ada banyak pilihan sederhana yang bisa diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing orang. Yang terpenting adalah aktivitas tersebut membantu diri menjadi lebih tenang dan pulih.

Beberapa contoh yang disarankan antara lain istirahat cukup di akhir pekan, tidak membuka urusan kerja untuk sementara, dan menolak ajakan ketika membutuhkan waktu sendiri. Langkah-langkah kecil tersebut dapat memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk bernapas. Dengan cara ini, self-care menjadi lebih realistis untuk dijalankan sehari-hari.

Ia juga menyebut bentuk self-care lain yang lebih beragam, mulai dari spiritual, fisik, emosional, hingga mental. Beribadah, meditasi, olahraga ringan, journaling, membaca buku, atau belajar hal baru bisa menjadi pilihan yang bermanfaat. Selama dilakukan dengan sadar, semua itu dapat membantu menjaga keseimbangan hidup.

Self-Care Untuk Keseimbangan

Pesan utama dari penjelasan Annisa adalah bahwa self-care tidak perlu dilebih-lebihkan menjadi gaya hidup mahal. Yang dibutuhkan justru kesadaran untuk mengenali kapan tubuh dan pikiran mulai lelah. Dari sana, seseorang bisa memilih cara pemulihan yang paling sesuai.

Pemahaman yang benar tentang self-care juga dapat membantu masyarakat mengurangi rasa bersalah saat berhenti sejenak. Istirahat bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari menjaga keberlanjutan aktivitas. Sikap ini penting agar seseorang tidak terus-menerus berada dalam kondisi terkuras.

Jika dilakukan secara seimbang, self-care dapat menjadi fondasi untuk hidup yang lebih sehat dan stabil. Energi yang pulih akan membantu seseorang lebih fokus, lebih tenang, dan lebih siap menjalani hari. Dengan begitu, perawatan diri benar-benar menjadi kebutuhan, bukan sekadar tren.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!