Self-Care Tak Harus Mahal, Bisa Dimulai dari Istirahat

Lifestyle Clara Monica 21 Mei 2026 15:57 WIB 5
Self-Care Tak Harus Mahal, Bisa Dimulai dari Istirahat

Self-care kerap dipahami sebagai liburan mahal, staycation, atau belanja untuk melepas penat. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya tepat, karena perawatan diri bisa dilakukan dengan cara sederhana dan tanpa biaya besar.

Psikolog Annisa Axelta, M.Psi, menjelaskan bahwa self-care pada dasarnya adalah upaya mengisi kembali energi fisik dan mental yang terkuras. Penjelasan itu disampaikan dalam acara Wolipop bertajuk Kartini di Cartini, yang menyoroti pentingnya merawat diri dengan cara yang realistis.

Makna Sebenarnya

Annisa menegaskan bahwa self-care bukan identik dengan pengeluaran uang. Menurut dia, kesalahpahaman itu kerap muncul karena masyarakat mengaitkan perawatan diri dengan gaya hidup konsumtif. Padahal, kebutuhan utama self-care adalah memulihkan tenaga agar seseorang kembali berfungsi optimal. Karena itu, istirahat pun sudah termasuk bentuk self-care.

Ia mengibaratkan kondisi tubuh seperti baterai yang habis setelah aktivitas padat. Saat energi terkuras, tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk diisi ulang. Self-care berperan sebagai proses pengisian kembali kapasitas tersebut. Dengan begitu, seseorang dapat kembali beraktivitas dengan lebih baik.

Menurut Annisa, self-care tidak berarti memanjakan diri secara berlebihan. Justru, perawatan diri adalah bagian dari menjaga keseimbangan hidup. Ketika dilakukan dengan benar, self-care membantu seseorang tetap semangat menjalani rutinitas. Hal ini penting agar kelelahan tidak menumpuk dan mengganggu produktivitas.

Istirahat Juga Penting

Banyak orang merasa bersalah saat memilih untuk beristirahat. Padahal, menurut Annisa, rebahan atau me-time sesaat dapat menjadi bentuk self-care yang sah. Istirahat membantu tubuh memulihkan tenaga setelah aktivitas yang menguras fokus. Selama dilakukan secara wajar, langkah ini justru bermanfaat.

Namun, ia mengingatkan bahwa istirahat tetap perlu dikendalikan. Self-care tidak boleh berubah menjadi kebiasaan pasif yang membuat seseorang menghindari tanggung jawab. Jika dilakukan terlalu lama, rebahan justru bisa menghambat aktivitas sehari-hari. Karena itu, keseimbangan menjadi kunci utama.

Annisa menekankan bahwa waktu istirahat sebaiknya digunakan untuk memulihkan, bukan melarikan diri dari masalah. Istirahat yang terukur dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih. Setelah itu, aktivitas dapat dilanjutkan dengan energi yang lebih stabil. Cara ini membuat self-care menjadi lebih fungsional.

Tidak Harus Jalan-Jalan

Stigma bahwa self-care harus dilakukan melalui traveling masih cukup kuat di masyarakat. Padahal, ada banyak pilihan lain yang lebih sederhana dan mudah dijalankan. Self-care dapat dilakukan di rumah, di sela kerja, atau saat waktu luang. Yang terpenting adalah manfaatnya bagi kondisi fisik dan mental.

Annisa menyebut self-care memiliki banyak bentuk, mulai dari spiritual, fisik, emosional, hingga mental. Spiritual self-care bisa berupa beribadah atau meditasi. Sementara itu, fisik dapat dilakukan dengan olahraga ringan. Setiap orang dapat memilih bentuk yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Untuk self-care emosional, journaling atau refleksi diri bisa menjadi pilihan. Adapun untuk mental, membaca buku atau mempelajari hal baru dapat membantu menenangkan pikiran. Aktivitas sederhana seperti ini tetap mampu mengisi ulang energi batin. Dengan pendekatan tersebut, self-care menjadi lebih fleksibel dan terjangkau.

Langkah Sederhana

Self-care tidak selalu membutuhkan agenda khusus atau biaya besar. Istirahat cukup di akhir pekan, menolak ajakan saat butuh waktu sendiri, dan membatasi urusan kerja untuk sementara sudah dapat membantu. Langkah kecil seperti ini memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk pulih. Dalam keseharian yang padat, kebiasaan tersebut sangat berarti.

Perawatan diri juga dapat dimulai dari kebiasaan yang paling mudah dijalankan. Seseorang dapat menata waktu tidur, mengurangi paparan gawai, atau mengambil jeda singkat di tengah aktivitas. Meski terlihat sederhana, kebiasaan itu berpengaruh besar pada kondisi emosional. Jika dilakukan rutin, manfaatnya akan terasa lebih konsisten.

Pesan utama dari penjelasan Annisa adalah bahwa self-care harus disesuaikan dengan kebutuhan, bukan tren. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk memulihkan energi. Karena itu, perawatan diri tidak perlu dibuat rumit atau mahal. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk berhenti sejenak dan merawat diri dengan bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!