SBY Soroti Kredibilitas Ekonomi Saat Krisis

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 19:37 WIB 2
SBY Soroti Kredibilitas Ekonomi Saat Krisis

Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mengingatkan bahwa kredibilitas negara menjadi faktor penting saat menghadapi krisis ekonomi dan ketidakpastian global. Ia menyinggung pengalaman Indonesia pada krisis keuangan dunia 2008, ketika pasar keuangan domestik ikut terdampak namun perekonomian tetap mampu bertahan.

Pernyataan itu disampaikan SBY dalam International Conference di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, pada Selasa, 2 Juni 2026. Menurut dia, ketahanan Indonesia saat itu dibangun melalui kepercayaan pasar, kehati-hatian fiskal, serta koordinasi kebijakan yang solid.

Kredibilitas Ekonomi saat Krisis

SBY menjelaskan bahwa Indonesia tidak kebal dari guncangan krisis keuangan global pada 2008. Meski demikian, pemerintah saat itu berupaya menjaga stabilitas dengan tetap disiplin dalam mengelola fiskal. Langkah tersebut membuat pelaku pasar melihat Indonesia sebagai negara yang masih dapat dipercaya.

Ia menegaskan, dalam situasi penuh ketidakpastian, angka ekonomi bukan satu-satunya dasar penilaian pasar. Pelaku pasar juga memperhatikan arah kebijakan dan kualitas tata kelola pemerintahan. Karena itu, konsistensi menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan.

Menurut SBY, kredibilitas tidak dapat dibangun hanya melalui pernyataan optimistis. Pemerintah harus menunjukkan kebijakan yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, masyarakat dan investor akan menilai negara memiliki arah yang jelas.

Ia menambahkan, kehati-hatian fiskal menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi. Pengelolaan APBN yang disiplin membantu pemerintah merespons tekanan eksternal tanpa menimbulkan kepanikan. Dalam pandangannya, disiplin itu penting agar ruang kebijakan tetap terjaga.

Tata Kelola dan Kepercayaan

SBY menilai tata kelola pemerintahan memiliki pengaruh besar terhadap persepsi publik dan pasar. Ketika kebijakan dijalankan secara transparan, kepercayaan cenderung meningkat. Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan dapat memperlemah keyakinan pelaku usaha.

Ia menekankan bahwa pemerintah perlu menjaga komunikasi yang konsisten saat krisis terjadi. Informasi yang jelas membantu pasar memahami langkah yang sedang ditempuh. Hal itu juga dapat meredam spekulasi yang berlebihan.

Dalam pandangannya, kepercayaan adalah aset yang harus dijaga setiap saat. Sekali kredibilitas melemah, pemulihannya tidak mudah dan membutuhkan waktu panjang. Oleh sebab itu, pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil keputusan strategis.

SBY juga mengaitkan pengalaman tersebut dengan pentingnya kepemimpinan yang tenang. Menurut dia, pemimpin yang mampu menjaga ketenangan akan lebih mudah menularkan rasa percaya kepada masyarakat. Kondisi itu menjadi modal awal untuk menjaga stabilitas nasional.

Rekonstruksi dan Martabat Bangsa

Selain krisis ekonomi, SBY menyinggung pengalaman Indonesia saat memulihkan Aceh setelah tsunami 2004. Ia mengatakan rekonstruksi tidak semata-mata soal membangun kembali rumah, jalan, dan fasilitas umum. Lebih dari itu, proses tersebut juga harus memulihkan martabat masyarakat.

Menurut dia, pemulihan pascabencana membutuhkan pendekatan yang menyentuh dimensi sosial dan psikologis. Bangunan fisik memang penting, tetapi kepercayaan dan harapan warga juga harus dipulihkan. Dengan begitu, proses rekonstruksi dapat menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan.

SBY menilai pengalaman Aceh menunjukkan bahwa negara harus hadir secara utuh saat rakyat menghadapi bencana besar. Kehadiran itu bukan hanya dalam bentuk bantuan material, tetapi juga kepastian masa depan. Peran negara menjadi sangat penting untuk mengembalikan rasa aman.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan rekonstruksi dapat memperkuat citra negara di mata publik. Jika pemerintah mampu bekerja cepat dan tepat, kepercayaan masyarakat akan tumbuh kembali. Kredibilitas negara pun ikut terjaga dalam jangka panjang.

Diplomasi Iklim dan Relevansi

SBY juga menyoroti pentingnya keterlibatan aktif Indonesia dalam isu global, termasuk diplomasi iklim. Ia menyebut Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada 2007 sebagai contoh bahwa negara berkembang harus ikut menjadi bagian dari solusi. Menurut dia, keterlibatan itu memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

Ia menilai peran aktif dalam agenda global dapat meningkatkan kredibilitas nasional. Negara yang hadir dalam penyelesaian masalah bersama akan dipandang lebih serius dan bertanggung jawab. Hal ini juga memberi sinyal positif bagi pelaku pasar dan mitra internasional.

Dalam pandangan SBY, pelajaran dari masa lalu tetap relevan meski pemerintahan sudah berganti. Nilai-nilai seperti kepercayaan, kehati-hatian, dan tata kelola yang baik tidak kehilangan arti. Justru, prinsip tersebut menjadi fondasi penting bagi kesinambungan kebijakan negara.

Ia menutup dengan penegasan bahwa kredibilitas Indonesia harus dijaga baik di mata asing maupun di hadapan pelaku pasar domestik. Kepercayaan yang kuat akan membantu negara menghadapi tekanan apa pun, termasuk krisis baru di masa depan. Karena itu, pengalaman sejarah perlu dijadikan panduan dalam merumuskan kebijakan ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!