Satelit Nusantara Lima Resmi Beroperasi, Perkuat Internet 3T

Teknologi Moh. Royhan Nahado 31 Mei 2026 20:45 WIB 3
Satelit Nusantara Lima Resmi Beroperasi, Perkuat Internet 3T

Satelit Nusantara Lima resmi beroperasi dan mulai diperkuat perannya untuk menghadirkan layanan internet berbasis satelit di seluruh Indonesia, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T. Peresmian ini disaksikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wamendiktisainstek Stella Christie, dan Komisaris Utama PSN Sofyan Djalil di Jakarta, Senin malam, 11 Mei 2026.

Dengan kapasitas 160 Gbps, satelit yang dikelola PT Pasifik Satelit Nusantara atau PSN itu diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung konektivitas nasional. Selain untuk Indonesia, Satelit Nusantara Lima juga disiapkan melayani kebutuhan konektivitas di Filipina dan Malaysia.

Satelit Nusantara Lima dan Internet

Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso menyebut peresmian operasi Satelit Nusantara Lima sebagai simbol penting bagi kemandirian nasional di bidang konektivitas. Menurut dia, kehadiran satelit ini menegaskan kemampuan Indonesia membangun infrastruktur digital yang andal di tengah dinamika global.

Adi menjelaskan, cakupan Satelit Nusantara Lima meliputi Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Untuk saat ini, Filipina telah dipastikan menjadi salah satu pengguna konektivitas satelit tersebut.

PSN juga masih melakukan penjajakan dengan Malaysia untuk pemanfaatan kapasitas layanan. Menurut Adi, kondisi itu menunjukkan negara-negara tetangga membutuhkan kemandirian konektivitas di tengah perubahan politik dan ekonomi global.

Dari total kapasitas 160 Gbps, sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan Indonesia. PSN menempatkan 20 Gbps untuk Filipina, 20 Gbps untuk Malaysia, dan 140 Gbps untuk Tanah Air.

Fokus Kapasitas Untuk Indonesia

Adi menegaskan Indonesia tetap menjadi pengguna terbesar kapasitas Satelit Nusantara Lima. Prioritas itu sejalan dengan kebutuhan pemerataan akses internet di daerah yang belum terlayani jaringan darat secara optimal.

PSN menyebut kapasitas satelit dapat dimanfaatkan oleh berbagai kelompok pengguna. Targetnya meliputi pemerintah, swasta, dan berbagai lembaga lain yang membutuhkan koneksi stabil.

Perusahaan ingin menyediakan opsi konektivitas yang dapat diandalkan untuk berbagai kepentingan di Indonesia. Dengan demikian, satelit ini diharapkan menjadi solusi alternatif bagi wilayah yang sulit dijangkau jaringan fiber optik.

Keberadaan kapasitas besar juga membuka peluang untuk mendukung layanan publik dan aktivitas ekonomi digital. Pemerataan akses internet menjadi salah satu manfaat utama yang dikejar melalui pengoperasian satelit ini.

Investasi Dan Perizinan PSN

PSN mengalokasikan investasi sekitar Rp8 triliun sejak tahap awal hingga pengoperasian Satelit Nusantara Lima. Nilai investasi tersebut menunjukkan besarnya skala proyek yang digarap perusahaan untuk memperkuat infrastruktur satelit nasional.

Pengoperasian satelit ini resmi berjalan setelah PSN mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit atau Jartupsat, serta izin Very Small Aperture Terminal atau VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Izin itu diterbitkan setelah Satelit N5 lolos Uji Laik Operasi di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23-24 April 2026.

Proses perizinan menjadi tahap penting sebelum satelit digunakan secara komersial. Tanpa status operasional yang sah, layanan internet satelit tidak dapat dijalankan secara penuh kepada pengguna.

Dengan legalitas yang sudah diperoleh, PSN dapat memaksimalkan pemanfaatan kapasitas satelit untuk layanan di berbagai daerah. Langkah ini juga memperkuat kepastian layanan bagi mitra dan pengguna akhir.

Jejak Peluncuran Dan Manfaat

Satelit Nusantara Lima sebelumnya diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah itu, satelit menjalani fase Electric Orbit Raising sebelum menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026.

PSN menyatakan seluruh infrastruktur ruas bumi telah terintegrasi dengan segmen luar angkasa. Jaringan tersebut mencakup tujuh stasiun bumi dari Aceh hingga Tarakan untuk mendukung operasi nasional.

Dengan usia operasional lebih dari 15 tahun, Satelit Nusantara Lima diproyeksikan melayani kebutuhan internet cepat bagi masyarakat luas. Layanan itu juga ditujukan untuk sektor bisnis, pemerintahan, dan penguatan keamanan nasional.

Kapasitas 160 Gbps yang dimiliki satelit ini disebut menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Kehadirannya diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam penyediaan konektivitas digital di kawasan regional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!