Satelit Nusantara Lima Didorong Perluas Akses Internet Nasional

Teknologi BRH 21 Mei 2026 15:45 WIB 6
Satelit Nusantara Lima Didorong Perluas Akses Internet Nasional

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan pengoperasian satelit Nusantara Lima milik Pasifik Satelit Nusantara akan membantu pemerataan akses internet di seluruh Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat peresmian pengoperasian satelit tersebut di Jakarta, Senin malam, 11 Mei 2026, dengan fokus utama pada wilayah yang masih belum terhubung jaringan digital.

Meutya menjelaskan, saat ini akses internet telah menjangkau lebih dari 80 persen populasi, namun masih ada sekitar 20 persen masyarakat yang belum terkoneksi. Pemerintah menilai kehadiran Satelit Nusantara Lima menjadi langkah penting untuk mempercepat pemerataan layanan digital, dari Sabang sampai Merauke, termasuk wilayah terluar seperti Miangas dan Rote.

Pemerataan Konektivitas

Meutya menegaskan bahwa pemerintah ingin seluruh warga negara merasakan manfaat konektivitas digital secara setara. Menurut dia, jumlah penduduk Indonesia yang telah terhubung internet saat ini sudah mencapai sekitar 230 juta orang.

Meski angka tersebut tergolong besar, pemerintah masih menargetkan seluruh 280 juta penduduk Indonesia dapat menikmati akses internet. Karena itu, pemerataan jaringan menjadi agenda penting yang tidak hanya berfokus pada daerah dekat Pulau Jawa.

Ia menambahkan, akses digital harus hadir di seluruh wilayah, termasuk daerah yang selama ini sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi. Pemerataan ini dinilai menjadi pondasi utama untuk memperluas layanan publik dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Peran Satelit Baru

Satelit Nusantara Lima disebut memiliki kapasitas besar, yakni mencapai 160 Gbps, sehingga dinilai mampu menjawab kebutuhan konektivitas di pelosok Tanah Air. Pemerintah melihat kapasitas tersebut sebagai kekuatan penting untuk memperkuat layanan internet nasional.

Meutya menyebut, kehadiran satelit milik perusahaan dalam negeri dapat menjadi solusi untuk wilayah yang selama ini belum terlayani optimal. Ia menilai masyarakat di pulau terluar berhak memperoleh informasi dan akses digital tanpa harus menunggu terlalu lama.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung penggunaan layanan Starlink di Miangas saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto. Namun, pemerintah kini ingin memperkuat kapasitas nasional agar kebutuhan konektivitas dapat ditopang oleh industri dalam negeri.

Target Desa Tertinggal

Pemerintah menargetkan 2.500 desa yang belum terhubung internet dapat menikmati konektivitas digital pada akhir 2026. Program ini menjadi bagian dari percepatan pembangunan ekosistem Indonesia Digital, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Fokus pembangunan tidak hanya diarahkan pada daerah yang blank spot, tetapi juga pada pemanfaatan layanan digital setelah jaringan tersedia. Dengan begitu, internet diharapkan benar-benar menjadi sarana peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Meutya menilai konektivitas harus mampu membuka peluang baru bagi ekonomi lokal dan memperkuat layanan publik. Karena itu, perlu ada strategi yang memastikan pemerataan manfaat hingga tingkat desa.

Perlindungan Ruang Digital

Pemerintah juga menekankan pentingnya perlindungan masyarakat setelah akses digital tersedia di berbagai daerah. Menurut Meutya, konektivitas tidak boleh berhenti pada pembangunan jaringan semata.

Ia menegaskan, ruang digital harus aman bagi anak-anak dan kelompok rentan dari berbagai ancaman, termasuk kekerasan siber, judi online, dan radikalisasi. Oleh karena itu, pertumbuhan infrastruktur harus berjalan seiring dengan pengawasan dan perlindungan.

Meutya menyebut Satelit Nusantara Lima akan menjadi infrastruktur strategis untuk mendukung transformasi digital nasional. Pemerintah juga berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan industri agar ekosistem digital Indonesia tumbuh lebih maju, aman, berdaulat, dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!