Satelit Nusantara Lima Beroperasi, Perkuat Internet 3T

Teknologi Moh. Royhan Nahado 27 Mei 2026 13:46 WIB 2
Satelit Nusantara Lima Beroperasi, Perkuat Internet 3T

Satelit Nusantara Lima resmi beroperasi dan diposisikan sebagai infrastruktur penting untuk memperluas layanan internet berbasis satelit di seluruh Indonesia, terutama wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Peresmian ini berlangsung di Jakarta pada Senin malam, 11 Mei 2026, dan disaksikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, serta Komisaris Utama PSN Sofyan Djalil.

Satelit berkapasitas 160 Gbps itu diharapkan menjadi tulang punggung konektivitas nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam layanan digital berbasis satelit di kawasan ASEAN. Direktur Utama PSN Adi Rahman Adiwoso mengatakan satelit ini juga mencerminkan kemandirian nasional dalam penyediaan konektivitas yang andal.

Operasi Satelit Nusantara Lima

Adi menyebut pengoperasian Satelit Nusantara Lima sebagai momen penting bagi Indonesia dalam menjaga kemandirian nasional di bidang konektivitas. Ia menilai kehadiran satelit tersebut bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal ketahanan layanan digital di tengah dinamika global.

Satelit Nusantara Lima memiliki cakupan wilayah Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Menurut PSN, cakupan itu menunjukkan kemampuan Indonesia untuk menghadirkan layanan konektivitas digital yang lebih luas di Asia Tenggara.

Dalam pernyataannya di Jakarta, Adi menegaskan bahwa Satelit N5 sudah dipastikan akan digunakan sebagai konektivitas nasional di Filipina. Di saat yang sama, PSN juga tengah menjajaki potensi kerja sama di Malaysia.

Ia menilai negara-negara tetangga membutuhkan konektivitas yang mandiri di tengah perubahan lanskap politik global. Karena itu, kehadiran Satelit Nusantara Lima dipandang sebagai bukti meningkatnya peran Indonesia dalam ekosistem telekomunikasi kawasan.

Cakupan Internet Satelit

Dari total kapasitas 160 Gbps, sebagian besar dialokasikan untuk kepentingan pemerataan akses internet di Indonesia. PSN menyebut 20 Gbps digunakan untuk Filipina dan 20 Gbps untuk Malaysia, sementara sisanya diprioritaskan bagi wilayah Tanah Air.

Adi menjelaskan kapasitas 140 Gbps untuk Indonesia dipilih karena kebutuhan domestik masih menjadi yang terbesar. Ia menilai distribusi tersebut penting agar layanan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, swasta, dan berbagai lembaga lainnya.

PSN ingin menghadirkan alternatif konektivitas yang bisa diandalkan untuk berbagai kebutuhan digital di Indonesia. Dengan kapasitas yang besar, satelit ini diharapkan mampu menjadi solusi bagi wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Fokus utama layanan ini tetap pada pemerataan akses internet di daerah 3T. Melalui skema tersebut, masyarakat di wilayah terpencil berpeluang memperoleh layanan digital yang lebih stabil dan luas jangkauannya.

Investasi dan Izin Operasi

PSN mengalokasikan investasi sekitar Rp8 triliun dari awal pengembangan hingga Satelit Nusantara Lima resmi beroperasi. Nilai investasi itu menunjukkan besarnya komitmen perusahaan dalam membangun infrastruktur komunikasi berbasis satelit.

Pengoperasian satelit ini dapat dilakukan setelah PSN mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit atau Jartupsat dan Very Small Aperture Terminal atau VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Izin tersebut menjadi dasar legal bagi penggunaan satelit secara komersial dan operasional.

Sebelum izin diterbitkan, Satelit N5 lebih dulu lolos rangkaian Uji Laik Operasi di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23 hingga 24 April 2026. Proses itu memastikan sistem dan infrastruktur pendukung berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

PSN menyebut seluruh infrastruktur ruas bumi sudah terintegrasi dengan segmen luar angkasa. Integrasi itu mencakup tujuh stasiun bumi dari Aceh hingga Tarakan untuk mendukung operasional layanan.

Dampak Bagi Konektivitas

Satelit Nusantara Lima sebelumnya diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah itu, satelit menjalani fase Electric Orbit Raising sebelum menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026.

Dengan kapasitas besar dan usia operasional lebih dari 15 tahun, Satelit N5 diproyeksikan menjadi salah satu satelit berkapasitas terbesar di Asia. Posisi itu sekaligus memperkuat kapasitas satelit nasional untuk mendukung kebutuhan digital yang terus meningkat.

PSN menilai keberadaan satelit ini akan memberi manfaat luas bagi masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pemerintah. Layanan internet yang lebih cepat dan stabil diharapkan mendorong aktivitas ekonomi serta akses pendidikan di berbagai daerah.

Selain mendukung konektivitas sipil, Satelit N5 juga disebut dapat membantu penguatan keamanan nasional. Dengan cakupan yang luas dan kapasitas besar, Indonesia memiliki opsi infrastruktur digital yang lebih tangguh untuk menghadapi kebutuhan masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!