PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menyatakan Satelit Nusantara Lima (N5) telah lolos Uji Laik Operasi (ULO) dan siap beroperasi secara komersial setelah memperoleh izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit (Jartupsat) serta VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
ULO dilaksanakan di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada 23–24 April 2026 untuk memastikan kelayakan teknis, keamanan, dan performa jaringan. Satelit dengan kapasitas desain 160 Gbps diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia dalam memperkuat konektivitas nasional.
Direktur Utama PSN, Adi Rahman Adiwoso, menyatakan kelulusan ULO adalah tahap krusial sebelum satelit melayani publik, terutama di wilayah 3T. Pemerintah melalui Kominfo menilai transformasi digital nasional sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur satelit yang andal. PSN menegaskan kesiapan N5 untuk mendukung program akselerasi pemerataan akses internet di Nusantara.
Kapasitas 160 Gbps Satelit N5
Satelit N5 menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam Ka-band, memungkinkan kapasitas besar untuk jaringan satelit. Kapasitas tersebut memungkinkan cakupan luas hingga kawasan ASEAN, termasuk Malaysia dan Filipina. PSN menegaskan kapasitas ini juga akan meningkatkan kualitas layanan internet nasional.
Satelit N5 diluncurkan dari Florida pada September 2025, lalu menjalani Electric Orbit Raising (EOR) sebelum menempati slot orbit 113° Bujur Timur pada Januari 2026. Setelah itu, satelit akan terhubung dengan tujuh stasiun bumi yang tersebar dari Aceh hingga Tarakan. PSN menyatakan infrastruktur ini telah terintegrasi dengan segmen luar angkasa dan siap mendukung layanan berkelanjutan.
Dengan usia operasional lebih dari 15 tahun, Satelit N5 diproyeksikan mendukung layanan internet cepat untuk publik, sektor bisnis, serta memperkuat keamanan nasional. Kehadiran N5 diharapkan memperluas akses digital dan memperkokoh infrastruktur digital nasional. PSN menegaskan komitmennya untuk memastikan layanan satelit berjalan andal sepanjang masa operasionalnya.
Kehadiran Satelit N5 dipandang sebagai aset strategis untuk mempercepat transformasi digital nasional. Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Jenderal Ekosistem Digital, menargetkan kecepatan internet rata-rata Indonesia mencapai 100 Mbps pada 2029. Kapasitas 160 Gbps N5 diharapkan memperluas cakupan serta meningkatkan kualitas layanan di wilayah 3T.
Pemerintah terus mendorong pemerataan konektivitas di seluruh Nusantara melalui infrastruktur satelit. Kelulusan ULO membuktikan satelit siap teknis untuk mendukung agenda transformasi digital nasional. Kehadiran kapasitas besar ini diharapkan mempercepat pemanfaatan layanan publik di daerah tertinggal.
Falatehan, Ketua Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi, menyatakan pengujian dilakukan secara komprehensif dan ketat. Pengujian mencakup keandalan transmisi, keamanan jaringan VSAT, serta kepatuhan terhadap regulasi spektrum frekuensi. Hasilnya menunjukkan Satelit N5 laik untuk dioperasikan secara komersial demi perlindungan hak pengguna jasanya.
