Sarwendah Buka Suara Soal Anak dan Harta Gana-gini

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 15:11 WIB 3
Sarwendah Buka Suara Soal Anak dan Harta Gana-gini

Persoalan antara Sarwendah dan Ruben Onsu kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar mengenai rumah yang ditempati Sarwendah masih menjadi jaminan utang perusahaan milik Ruben. Di tengah polemik itu, Sarwendah akhirnya buka suara melalui sambungan video call dalam konferensi pers yang digelar kuasa hukumnya di Cilandak, Jakarta Selatan, Senin malam, 1 Juni 2026.

Mantan personel Cherrybelle itu menegaskan bahwa prioritas utamanya tetap anak-anak dan penyelesaian masalah secara baik-baik. Sementara itu, kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu, membantah tudingan bahwa Sarwendah mempersulit komunikasi Ruben dengan anak-anak mereka maupun dalam pembagian harta bersama.

Sarwendah Soal Komunikasi Anak

Sarwendah mengatakan dirinya tidak bisa hadir langsung karena masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia menyebut segala urusan hukum telah diwakilkan kepada kuasa hukumnya.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa yang paling ia pikirkan adalah kondisi anak-anak. Menurutnya, setiap persoalan rumah tangga seharusnya bisa diselesaikan dengan baik tanpa merugikan pihak lain.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya masih harus bekerja untuk mencari nafkah secara halal. Sebelum menutup sambungan video, Sarwendah berharap semua pihak dapat menghormati proses yang sedang berjalan.

Di sisi lain, kuasa hukumnya menyatakan bahwa tudingan soal hambatan komunikasi dengan Ruben tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Ia mengatakan justru Sarwendah lebih sering berupaya menghubungi mantan suaminya selama proses perceraian.

Kuasa Hukum Buka Fakta

Chris Sam Siwu menuturkan bahwa setiap kali Sarwendah mencoba berkomunikasi, respons yang diterima justru arahan untuk berbicara melalui lawyer. Ia menyebut ada bukti percakapan yang menunjukkan hal tersebut.

Menurutnya, urusan hukum seharusnya tidak dicampuradukkan dengan kepentingan anak. Ia menegaskan bahwa kedua orang tua tetap perlu berkomunikasi demi tumbuh kembang anak-anak.

Chris juga menilai tuduhan mempersulit baru bisa dibuktikan jika ada upaya langsung Ruben untuk bertemu anak-anak, tetapi dihalangi. Jika hal seperti itu tidak terjadi, menurutnya narasi yang berkembang tidak tepat.

Ia menambahkan bahwa bila anak sedang memiliki jadwal kegiatan, maka orang tua semestinya mempertimbangkan kondisi psikologis mereka. Karena itu, komunikasi yang tertib dinilai jauh lebih penting daripada saling menyalahkan di ruang publik.

Rumah Jadi Sorotan Utama

Selain soal anak, perhatian publik juga tertuju pada isu harta gana-gini antara Sarwendah dan Ruben Onsu. Pihak Sarwendah menjelaskan bahwa dari empat aset tidak bergerak, kliennya hanya meminta satu rumah untuk tempat tinggal anak-anak.

Rumah itu disebut berada di Jakarta Selatan dan semula dipahami sebagai bagian dari kesepakatan pembagian aset. Namun, pihak Sarwendah mengaku terkejut karena rumah tersebut ternyata masih menjadi agunan bank.

Chris mengatakan rumah itu dijaminkan dengan utang bernilai besar, dan proses pengajuan kredit dilakukan oleh Ruben. Karena itu, pihaknya menilai aset yang diberikan belum sepenuhnya bersih dari beban kewajiban.

Ia menyebut pihak Sarwendah sempat merasa kecolongan karena informasi mengenai status utang tidak disampaikan sejak awal. Menurutnya, hal tersebut menjadi sumber utama perdebatan dalam proses penyelesaian aset.

Negosiasi Berubah Berulang

Dalam penjelasannya, Chris menyebut kesepakatan soal pelunasan utang rumah sempat berubah beberapa kali. Awalnya, kewajiban pembayaran disebut menjadi tanggung jawab Ruben.

Setelah itu, muncul usulan agar utang dibagi dua antara kedua belah pihak. Sarwendah kemudian disebut tetap menunjukkan itikad baik dengan bersedia ikut menanggung beban tersebut.

Di tahap berikutnya, Sarwendah bahkan diklaim siap melunasi seluruh sisa utang sendiri, asalkan rumah itu langsung dibalik nama atas namanya. Namun, menurut Chris, muncul lagi permintaan agar uang yang sudah dibayarkan Ruben ke bank juga dikembalikan.

Pihak Sarwendah menilai perubahan kesepakatan yang terjadi berulang kali membuat negosiasi semakin rumit. Meski begitu, mereka tetap berharap seluruh persoalan dapat selesai secara adil dan tidak berdampak pada anak-anak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!