Suplemen kolagen tengah populer di industri kecantikan karena diklaim dapat membuat kulit tampak lebih muda, segar, halus, dan bercahaya. Secara global, diperkirakan sekitar 60 juta orang mengonsumsinya setiap hari, sehingga pasar kolagen diprediksi menembus 2,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 43,57 triliun pada 2025.
Meski diminati, manfaat suplemen kolagen masih menuai perdebatan karena sejumlah studi sebelumnya menilai suplemen tidak selalu efektif dan harganya relatif mahal. Namun, tinjauan terbaru terhadap 113 uji klinis menunjukkan bahwa konsumsi rutin dan konsisten dapat memberi dampak positif bagi kesehatan kulit, sistem muskuloskeletal, dan mulut.
Manfaat Suplemen Kolagen
Tinjauan terbaru tersebut menjadi sorotan karena dianggap sebagai salah satu kajian paling komprehensif mengenai kolagen. Mona Gohara, dokter kulit sekaligus profesor klinis dermatologi di Yale School of Medicine, menilai temuan itu menunjukkan peningkatan kecil namun konsisten pada hidrasi dan elastisitas kulit.
Pendapat serupa disampaikan Hadley King, dokter kulit bersertifikasi asal New York City. Ia menyebut suplemen kolagen memang bukan obat, tetapi bukti yang ada memperlihatkan potensi manfaat yang cukup beragam.
Daniel Belkin, dokter kulit lainnya dari New York City, juga mengaku lebih percaya diri merekomendasikan kolagen setelah membaca tinjauan tersebut. Meski begitu, para ahli tetap menekankan bahwa manfaatnya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dan tidak berlebihan.
Bukti Ilmiah Kolagen
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang belum sepenuhnya seragam, sehingga efektivitas kolagen masih perlu ditelaah lebih jauh. Kualitas analisis yang berbeda-beda juga membuat peluang bias dalam kesimpulan tetap terbuka.
Penelitian mengenai suplemen umumnya lebih kompleks dibandingkan produk kesehatan lain, karena dipengaruhi banyak variabel. Karena itu, para ahli meminta publik tidak langsung menganggap kolagen sebagai solusi utama untuk masalah penuaan kulit.
Dr. Gohara menegaskan bahwa tinjauan terbaru belum membuktikan kolagen mampu secara signifikan mengurangi kerutan halus. Menurut dia, hasil yang lebih menonjol justru berkaitan dengan perbaikan skin barrier dan peningkatan hidrasi kulit.
Pendapat Para Dokter
Meski ada temuan positif, para dokter tetap menyarankan kehati-hatian sebelum mengonsumsi suplemen kolagen. Dr. Gohara bahkan mengaku masih enggan meminumnya sebelum ada persetujuan dari Food and Drug Administration di Amerika Serikat.
Berbeda dengan Gohara, Dr. King mengatakan dirinya mengonsumsi Biosil Collagen Generator dan Body Health Perfect Amino. Namun, ia tetap menegaskan bahwa data yang lebih banyak masih dibutuhkan sebelum kolagen direkomendasikan secara luas kepada pasien.
Para dokter sepakat bahwa konsumsi suplemen sebaiknya tidak dilakukan sembarangan. Konsultasi dengan dokter kulit tepercaya menjadi langkah penting untuk menilai kecocokan, keamanan, dan kebutuhan masing-masing individu.
Cara Konsumsi Kolagen
Jika seseorang ingin mencoba suplemen kolagen, pemilihan produk yang memiliki dasar ilmiah perlu menjadi pertimbangan utama. Konsumsi yang teratur dan sesuai anjuran juga penting agar hasilnya lebih optimal dan risiko penggunaan berlebihan dapat dihindari.
Suplemen kolagen sebaiknya diposisikan sebagai pendukung, bukan pengganti perawatan kulit yang mendasar. Rutinitas seperti penggunaan sunscreen dan retinoid tetap dibutuhkan untuk membantu mencegah penuaan dini akibat paparan sinar UV berlebih, perubahan hormon, dan gaya hidup yang kurang sehat.
Dengan pendekatan yang seimbang, manfaat kolagen dapat dilihat secara lebih realistis. Perawatan kulit yang konsisten, ditambah kebiasaan hidup sehat, dinilai jauh lebih penting dalam menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.
