Media sosial tengah ramai membahas status sarden kalengan dan produk sejenis setelah muncul anggapan bahwa makanan tersebut tidak termasuk kategori ultra processed food atau UPF. Perdebatan ini membuat banyak orang mengubah pandangan, dari semula menganggapnya kurang sehat menjadi lebih aman dikonsumsi.
Meski begitu, status non-UPF tidak otomatis membuat sebuah produk lebih sehat, karena kandungan gizi dan bahan tambahannya tetap perlu diperhatikan. Sarden kalengan pada dasarnya merupakan makanan olahan yang melewati proses pengawetan agar lebih tahan lama, sehingga tetap berbeda dari ikan segar.
Sarden Kalengan dan UPF
Sarden kalengan masuk dalam kelompok processed food karena melalui tahap pengolahan sebelum dikemas. Proses ini dilakukan agar produk lebih awet dan praktis disimpan dalam waktu lama.
Dalam pembahasan yang ramai di media sosial, banyak orang baru menyadari bahwa tidak semua makanan kalengan otomatis masuk kategori UPF. Penilaian terhadap produk tetap bergantung pada komposisi bahan, teknik pengolahan, dan jenis zat tambahan yang digunakan.
Pengawetan pada makanan kalengan bisa dilakukan melalui sterilisasi panas tinggi, sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh. Pada beberapa produk, pengawetan juga dibantu bahan tambahan yang penggunaannya diatur dalam batas aman sesuai regulasi.
Kandungan di Dalam Kaleng
Isi utama sarden kalengan umumnya adalah ikan, baik sarden, makarel, maupun tuna. Persentase bahan ikan dalam setiap produk bisa berbeda, mulai dari sekitar 20 persen hingga mencapai 60 persen.
Selain ikan, produsen biasanya menambahkan air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan beragam rempah. Pada sejumlah merek, komposisinya masih cukup sederhana dan menyerupai bahan masakan rumahan.
Garam natrium menjadi salah satu komponen penting karena membantu memperpanjang daya simpan sekaligus memperkuat rasa. Saus tomat juga berperan menjaga kestabilan produk selama penyimpanan, sedangkan minyak dipakai agar tekstur ikan tetap lembut setelah sterilisasi.
Bahan Tambahan yang Umum
Pada beberapa produk, ditemukan natrium benzoat yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroba. Bahan ini digunakan untuk membantu menjaga produk tetap stabil selama disimpan.
Selain itu, ada pula MSG atau mononatrium L-glutamat yang berfungsi memperkuat rasa gurih. Dalam kehidupan sehari-hari, bahan ini lebih dikenal sebagai penyedap rasa atau micin.
Sejumlah produk juga menggunakan pati termodifikasi untuk membuat saus lebih kental dan tidak mudah terpisah. Pengatur keasaman seperti asam sitrat serta pengemulsi atau pengental juga kerap dipakai untuk menjaga tekstur dan kestabilan produk.
Sehat atau Tidak Sehat
Label UPF sering dianggap identik dengan makanan tidak sehat, padahal penilaian tersebut tidak bisa dibuat secara umum. Banyak faktor lain yang perlu dilihat, mulai dari kandungan garam, gula, lemak, hingga frekuensi konsumsi.
Produk yang tidak tergolong UPF pun belum tentu lebih baik jika kadar natrium atau gulanya tinggi. Karena itu, konsumen tetap perlu membaca label gizi dan komposisi sebelum membeli.
Dalam konteks sarden kalengan, komposisi yang sederhana dan kandungan ikan yang cukup tinggi bisa menjadi nilai tambah. Namun, jika bahan tambahannya beragam dan kadar natriumnya tinggi, konsumsinya tetap perlu dibatasi.
