Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk UPF?

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 12:53 WIB 2
Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk UPF?

Media sosial tengah ramai memperbincangkan sarden kalengan dan produk sejenis setelah banyak warganet baru mengetahui bahwa makanan ini tidak selalu masuk kategori Ultra Processed Food atau UPF. Perdebatan tersebut memunculkan pertanyaan besar, apakah label UPF otomatis berarti tidak sehat, dan apakah produk non-UPF pasti lebih baik bagi tubuh.

Sarden kalengan memang melewati proses pengolahan, sehingga tetap tergolong processed food, tetapi status itu belum tentu menempatkannya dalam kelompok UPF. Di tengah viralnya diskusi ini, penting untuk melihat komposisi, metode pengawetan, dan fungsi tiap bahan sebelum menyimpulkan nilai gizinya.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan berbeda dengan ikan segar karena melalui proses pemanasan, sterilisasi, dan pengemasan rapat. Tahapan itu membuat produk lebih awet dan aman disimpan dalam waktu lebih lama. Karena itu, sarden kalengan tetap termasuk makanan olahan, meski tidak otomatis masuk kategori UPF.

Klasifikasi UPF biasanya merujuk pada keberadaan bahan tambahan industri yang tidak lazim dipakai dalam masakan rumah. Bahan seperti pengawet, pengental, pewarna, dan penguat rasa sering menjadi penanda utama dalam sistem NOVA. Namun, tidak semua produk kalengan memakai kombinasi bahan tersebut dalam jumlah yang sama.

Dalam praktiknya, ada produk sarden kalengan yang komposisinya sederhana, yakni ikan, air, minyak, saus tomat, garam, dan rempah. Komposisi seperti ini lebih dekat dengan bahan makanan sehari-hari dibanding formulasi industri yang kompleks. Karena itu, statusnya perlu dilihat satu per satu, bukan disamaratakan.

Isi Produk Kalengan

Hasil pantauan pada sejumlah produk makanan kalengan menunjukkan bahwa bahan utama biasanya berupa ikan, seperti sarden, makarel, atau tuna. Persentase ikan dalam kemasan bervariasi, ada yang tinggi dan ada juga yang lebih rendah. Perbedaan itu memengaruhi rasa, tekstur, dan nilai gizinya.

Selain ikan, produsen kerap menambahkan air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan berbagai rempah. Pada beberapa merek, susunan bahan tersebut masih terlihat sederhana dan menyerupai bumbu dapur rumahan. Kondisi ini membuat produk lebih mudah diterima oleh konsumen yang menginginkan rasa praktis.

Garam natrium berperan penting untuk membantu daya simpan sekaligus memperkuat cita rasa. Saus tomat juga tidak hanya memberi rasa, tetapi membantu menjaga kestabilan produk selama penyimpanan. Sementara itu, minyak menjaga tekstur ikan agar tetap lembut setelah melalui sterilisasi suhu tinggi.

Bahan Tambahan yang Ditemukan

Pada sebagian produk, ditemukan bahan tambahan seperti natrium benzoat yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroba. Ada juga MSG atau mononatrium L-glutamat yang dipakai untuk memperkuat rasa gurih. Kehadiran bahan-bahan ini kerap membuat produk kalengan dikaitkan dengan UPF.

Beberapa produk juga memakai pati termodifikasi atau modified starch untuk membuat saus lebih kental dan tidak mudah terpisah. Selain itu, asam sitrat dapat ditambahkan sebagai pengatur keasaman agar rasa dan kondisi produk tetap stabil. Dalam beberapa kasus, produsen menambahkan gum sebagai pengemulsi atau pengental.

Bahan tambahan tersebut lazim digunakan dalam industri pangan karena membantu kualitas produk selama distribusi dan penyimpanan. Meski begitu, penggunaannya tetap diatur agar berada dalam batas aman sesuai regulasi. Karena itu, keberadaan bahan tambahan tidak otomatis menjadikan suatu produk berbahaya.

Menilai Label Sehat

Label UPF sering dipahami secara simplistis sebagai tanda bahwa suatu makanan tidak sehat. Padahal, penilaian gizi tidak cukup hanya melihat kategori proses pengolahan. Kandungan natrium, gula, lemak, dan porsi konsumsi tetap harus diperhatikan.

Sarden kalengan bisa menjadi pilihan praktis karena mengandung protein hewani dan mudah diolah. Namun, manfaat tersebut tetap perlu diimbangi dengan perhatian terhadap komposisi dan cara penyajian. Konsumen sebaiknya membaca label gizi sebelum menjadikannya menu rutin.

Di tengah ramainya perdebatan, yang paling penting adalah memahami bahwa tidak semua makanan olahan memiliki kualitas yang sama. Non-UPF juga belum tentu lebih sehat bila tetap tinggi garam, gula, atau lemak. Dengan memahami komposisi secara utuh, publik bisa menilai sarden kalengan secara lebih objektif dan proporsional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!