Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk Ultra Processed Food?

Lifestyle Clara Monica 24 Mei 2026 21:11 WIB 8
Sarden Kalengan Viral, Benarkah Termasuk Ultra Processed Food?

Media sosial tengah ramai membahas sarden kalengan dan produk sejenis, setelah banyak warganet menyadari bahwa makanan ini tidak selalu masuk kategori ultra processed food atau UPF. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan baru, apakah label UPF benar identik dengan tidak sehat, dan apakah produk non-UPF otomatis lebih baik untuk dikonsumsi.

Di tengah sorotan itu, sarden kalengan dinilai tetap merupakan processed food karena melalui proses pengolahan dan pengalengan agar lebih tahan lama. Namun, status tersebut belum tentu membuatnya otomatis buruk, sebab kandungan dan bahan tambahan di tiap produk dapat berbeda-beda.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan berbeda dengan ikan segar karena melewati proses pemanasan, pengemasan, dan sterilisasi. Tahapan ini membuat produk lebih awet dan aman disimpan dalam jangka waktu tertentu.

Proses tersebut menempatkan sarden kalengan ke dalam kelompok makanan olahan. Akan tetapi, tidak semua makanan olahan langsung masuk kategori UPF.

Klasifikasi UPF biasanya merujuk pada keberadaan bahan tambahan industri yang tidak lazim dipakai dalam masakan rumahan. Karena itu, penilaian terhadap sarden kalengan perlu melihat komposisi produknya secara lebih rinci.

Dalam praktiknya, satu produk bisa memiliki bahan sederhana, sementara produk lain memakai lebih banyak zat tambahan. Perbedaan inilah yang membuat perdebatan soal sarden kalengan terus muncul di ruang publik.

Komposisi Yang Umum Ditemukan

Pada sejumlah produk kalengan, bahan utama yang paling dominan tetap ikan, seperti sarden, makarel, atau tuna. Persentasenya bervariasi, dari sekitar 20 persen hingga 60 persen, tergantung merek dan jenis produk.

Selain ikan, produsen biasanya menambahkan air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah. Pada beberapa produk, komposisi tersebut masih tergolong sederhana dan menyerupai bahan yang umum digunakan di dapur.

Garam natrium banyak dipakai karena membantu memperpanjang daya simpan sekaligus memperkuat rasa. Saus tomat juga berfungsi menjaga kestabilan produk selama penyimpanan.

Sementara itu, minyak berguna untuk menjaga tekstur ikan agar tetap lembut setelah proses sterilisasi suhu tinggi. Kombinasi bahan ini membuat sarden kalengan praktis dikonsumsi tanpa perlu pengolahan tambahan yang rumit.

Bahan Tambahan Pada Produk

Sejumlah produk kalengan juga memakai natrium benzoat sebagai pengawet untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Bahan ini membantu produk tetap stabil selama masa simpan yang lebih panjang.

Ada pula MSG atau mononatrium L-glutamat yang berfungsi memperkuat cita rasa gurih. Dalam kehidupan sehari-hari, bahan ini lebih dikenal sebagai penyedap rasa atau micin.

Pada beberapa merek, digunakan pati termodifikasi atau modified starch untuk membuat saus lebih kental dan tidak mudah terpisah. Selain itu, asam sitrat dapat ditambahkan untuk menjaga kestabilan rasa dan kondisi produk.

Produsen juga bisa menambahkan pengemulsi atau pengental seperti gum agar tekstur saus tetap seragam. Kehadiran bahan-bahan ini sering menjadi alasan mengapa produk kalengan dikaitkan dengan UPF.

Makna Label Dan Konsumsi

Bahan seperti pengawet, penguat rasa, pewarna, pengental, dan emulsifier memang sering dikaitkan dengan UPF dalam klasifikasi NOVA. Namun, penggunaan bahan tersebut tetap berada dalam batas yang diatur regulasi pangan.

Karena itu, label UPF tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai sehat atau tidaknya suatu produk. Yang perlu diperhatikan adalah komposisi, porsi konsumsi, serta keseimbangan dengan asupan harian lain.

Sarden kalengan dapat menjadi pilihan praktis ketika masyarakat membutuhkan sumber protein yang mudah diolah. Meski demikian, konsumsi tetap sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Debat tentang sarden kalengan menunjukkan bahwa pemahaman terhadap label pangan masih perlu diperluas. Dengan membaca komposisi dan memahami proses pengolahan, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!