Istilah ultra-processed food atau UPF kembali ramai dibicarakan di media sosial, seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas makanan sehari-hari. Perdebatan ini ikut menyeret sarden kalengan, setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu tergolong UPF. Situasi ini memicu rasa penasaran publik, terutama karena banyak orang selama ini menganggap semua makanan kalengan identik dengan produk ultra-proses.
Pertanyaan yang muncul pun sederhana, apakah sarden kalengan benar-benar masuk kategori UPF atau justru berada di kelompok makanan olahan biasa. Untuk menjawabnya, perlu melihat cara klasifikasi makanan dalam sistem NOVA yang membedakan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Dengan memahami kerangka ini, penilaian terhadap sarden kalengan bisa lebih objektif dan tidak hanya bergantung pada anggapan umum.
Sarden Kalengan dan UPF
UPF merupakan istilah dalam klasifikasi NOVA yang digunakan untuk mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil. Tujuannya adalah membedakan makanan alami, makanan olahan sederhana, dan produk yang diproses secara industri secara lebih rinci.
Dalam klasifikasi NOVA, makanan dibagi ke dalam empat kelompok utama. Kelompok pertama adalah makanan belum diproses atau diproses minimal, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok berikutnya mencakup bahan kuliner olahan, seperti gula, garam, mentega, dan minyak.
Kelompok ketiga adalah processed foods, yaitu makanan yang ditambahkan garam, gula, atau minyak untuk memperpanjang daya simpan atau meningkatkan rasa. Contohnya antara lain ikan kalengan, keju, dan roti sederhana. Sementara itu, kelompok keempat adalah ultra-processed foods, yakni produk formulasi industri yang biasanya mengandung banyak bahan tambahan.
UPF umumnya memiliki komposisi yang lebih kompleks karena memakai perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan berbagai aditif lain. Produk yang sering masuk kategori ini antara lain minuman manis kemasan, snack tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, serta makanan siap santap tertentu. Karena itu, keberadaan bahan tambahan menjadi salah satu pembeda utama antara UPF dan makanan olahan biasa.
Ciri Sarden Kalengan
Sarden kalengan pada dasarnya dibuat dari ikan sarden yang diawetkan dalam kemasan kaleng. Produk ini biasanya ditambah garam, minyak, saus tomat, atau bumbu sederhana untuk menjaga rasa dan ketahanan simpan. Dari sisi pemrosesan, karakter tersebut lebih dekat ke processed food daripada UPF.
Perbedaan penting terletak pada formulasi dan jumlah bahan tambahannya. Jika sarden kalengan hanya berisi ikan, minyak, saus, dan garam, maka produk itu umumnya tidak masuk kategori ultra-proses. Namun, penilaian tetap harus melihat label komposisi masing-masing merek karena setiap produsen bisa menggunakan formula yang berbeda.
Fakta ini menjelaskan mengapa tidak semua makanan kemasan otomatis tergolong tidak sehat. Makanan kalengan tetap dapat berada dalam kategori yang lebih sederhana jika proses dan bahan tambahannya terbatas. Dengan demikian, sarden kalengan tidak bisa langsung disamakan dengan snack ultra-proses atau minuman manis kemasan.
Masyarakat perlu lebih cermat membaca daftar bahan sebelum menilai suatu produk. Informasi pada label dapat membantu mengenali apakah produk tersebut hanya mengalami pengolahan sederhana atau sudah masuk formulasi industri yang kompleks. Langkah ini penting agar keputusan konsumsi tidak didasarkan pada asumsi semata.
Bedakan Dengan Makanan
Memahami perbedaan kategori makanan membantu konsumen membuat pilihan yang lebih tepat. Makanan olahan tidak selalu buruk, karena beberapa di antaranya tetap bisa menjadi sumber protein dan energi yang praktis. Yang perlu diwaspadai adalah produk dengan tambahan gula, garam, dan aditif yang berlebihan.
Sarden kalengan, misalnya, dapat menjadi pilihan praktis untuk menu harian selama dikonsumsi secara wajar. Kandungan proteinnya berasal dari ikan, sementara proses pengalengan membantu memperpanjang masa simpan. Karena itu, produk ini tidak tepat jika langsung disamakan dengan makanan ultra-proses yang komposisinya jauh lebih rumit.
Di sisi lain, kebiasaan konsumsi tetap menjadi faktor penting dalam pola makan sehat. Makanan yang tampak sederhana pun bisa menjadi kurang sehat bila dikonsumsi berlebihan atau dipadukan dengan pola makan yang tidak seimbang. Prinsip utamanya adalah menakar kandungan gizi dan frekuensi konsumsi, bukan sekadar melihat bentuk kemasannya.
Informasi yang beredar di media sosial sering kali menyederhanakan isu gizi menjadi pernyataan hitam putih. Padahal, klasifikasi makanan memerlukan pemahaman yang lebih rinci agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dalam konteks sarden kalengan, penilaian yang tepat adalah melihat komposisi dan tingkat pemrosesannya, bukan hanya statusnya sebagai makanan kaleng.
Bijak Memilih Produk
Kebiasaan membaca label menjadi langkah dasar bagi konsumen yang ingin lebih sadar terhadap asupan harian. Daftar bahan, kandungan natrium, dan tambahan gula perlu diperhatikan sebelum membeli produk kemasan. Dengan cara ini, masyarakat bisa membedakan produk yang relatif sederhana dari makanan ultra-proses.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan menjaga variasi menu agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Mengandalkan satu jenis makanan kalengan secara terus-menerus bukan pilihan ideal, meski produk tersebut tidak tergolong UPF. Variasi bahan segar tetap penting untuk mendukung pola makan yang seimbang.
Dalam konteks ini, sarden kalengan dapat ditempatkan sebagai makanan praktis yang masih memiliki nilai gizi. Produk tersebut tidak otomatis masuk UPF selama formulanya tidak dipenuhi aditif dan bahan tambahan yang kompleks. Pemahaman ini membantu publik bersikap lebih kritis terhadap informasi pangan yang beredar luas.
Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan apakah sarden kalengan termasuk UPF bergantung pada komposisi dan tingkat pemrosesannya. Jika hanya melalui pengawetan sederhana dengan bahan tambahan terbatas, produk itu lebih dekat ke makanan olahan biasa. Karena itu, konsumen perlu bersikap cermat, bukan sekadar mengikuti asumsi yang viral.
