Sarden Kalengan dan UPF, Ini Penjelasannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 00:46 WIB 4
Sarden Kalengan dan UPF, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibicarakan di media sosial karena banyak orang mulai lebih cermat memilih makanan sehari-hari. Perhatian publik kemudian tertuju pada sarden kalengan, setelah muncul klaim bahwa makanan ini belum tentu masuk kategori UPF. Perdebatan itu memicu kebingungan, sebab selama ini makanan kalengan kerap dianggap identik dengan produk industri yang kurang sehat. Padahal, status sebuah makanan tidak ditentukan hanya dari bentuk kemasannya, melainkan dari cara pengolahan dan komposisinya.

Pertanyaan tentang apakah sarden kalengan termasuk UPF atau bukan menjadi penting karena topik ini berkaitan langsung dengan pola makan masyarakat. Untuk memahaminya, perlu melihat klasifikasi NOVA yang membagi makanan berdasarkan tingkat pemrosesan. Dari sana, akan terlihat bahwa tidak semua makanan olahan otomatis masuk kategori UPF. Penjelasan ini membantu publik menilai makanan secara lebih tepat, tanpa terjebak anggapan yang terlalu sederhana.

UPF dan klasifikasi NOVA

UPF adalah singkatan dari ultra-processed food, yakni makanan hasil formulasi industri yang umumnya memiliki banyak bahan tambahan. Kategori ini tidak hanya melihat apakah makanan diproduksi pabrik, tetapi juga menilai sejauh mana bahan dasarnya telah diubah. Sistem yang banyak digunakan untuk membaca hal ini adalah klasifikasi NOVA. Sistem tersebut dikembangkan oleh ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil.

Dalam klasifikasi NOVA, makanan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pemrosesannya. Kelompok pertama berisi makanan segar atau minim olahan, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok kedua mencakup bahan kuliner yang dipakai untuk memasak, seperti garam, gula, mentega, dan minyak. Sementara itu, kelompok ketiga dan keempat membedakan makanan olahan biasa dengan produk yang sangat diproses secara industri.

Perbedaan antar kelompok ini penting karena tidak semua proses pengolahan memiliki dampak yang sama. Makanan yang hanya diawetkan atau diberi sedikit tambahan tidak otomatis menjadi UPF. Sebaliknya, produk yang mengandung banyak aditif, perisa, pewarna, pemanis, dan emulsifier cenderung masuk kategori ultra-processed. Karena itu, pemahaman terhadap NOVA menjadi dasar untuk menilai sarden kalengan secara lebih akurat.

Sarden kalengan dan prosesnya

Sarden kalengan umumnya masuk dalam kelompok processed foods, bukan otomatis UPF. Produk ini biasanya dibuat dengan menambahkan garam, minyak, atau saus tertentu untuk memperpanjang daya simpan dan menjaga rasa. Dalam definisi NOVA, makanan seperti ini masih berada di level makanan olahan. Artinya, keberadaannya tidak bisa langsung disamakan dengan makanan ultra-proses.

Hal yang perlu diperhatikan adalah komposisi pada label kemasan. Jika sarden hanya berisi ikan, garam, minyak, dan bahan pengawet tertentu dalam batas wajar, produk tersebut cenderung tidak termasuk UPF. Namun, jika ada banyak bahan tambahan seperti perisa sintetis, pengental, pewarna, atau formulasi kompleks lain, kategorinya bisa berubah. Dengan kata lain, status UPF bergantung pada isi produk, bukan semata pada label kalengnya.

Karena itu, konsumen disarankan membaca daftar bahan sebelum membeli. Informasi pada label membantu menentukan apakah produk tersebut masih tergolong makanan olahan biasa atau sudah menjadi produk ultra-proses. Pendekatan ini lebih tepat daripada menilai semua makanan kalengan sebagai tidak sehat. Dalam konteks sarden, kesimpulannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Membedakan olahan dan ultra

Banyak orang masih mengira bahwa semua makanan kemasan pasti termasuk UPF. Anggapan ini muncul karena kemasan sering dikaitkan dengan produk tinggi gula, garam, dan lemak. Padahal, kemasan hanyalah bentuk penyajian, bukan penentu utama klasifikasi. Sebuah makanan bisa saja dikemas namun tetap berada di kategori olahan sederhana.

Perbedaan utama antara makanan olahan dan UPF terletak pada tingkat rekayasa industrinya. Makanan olahan biasa umumnya hanya mengalami penambahan bahan sederhana untuk menjaga daya simpan atau rasa. Sementara itu, UPF biasanya dirancang agar sangat praktis, sangat menarik secara sensori, dan mengandung banyak komponen buatan. Inilah yang membuat kategori UPF lebih sering dikaitkan dengan produk siap santap dan makanan ringan tertentu.

Dalam konteks kesehatan, pemahaman ini penting agar masyarakat bisa mengambil keputusan yang lebih bijak. Tidak semua makanan olahan harus dihindari, selama dikonsumsi secara wajar dan komponennya jelas. Sarden kalengan, misalnya, tetap dapat menjadi pilihan praktis yang memberi asupan protein. Yang terpenting adalah menilai kualitas bahan, frekuensi konsumsi, dan keseimbangan pola makan secara keseluruhan.

Bijak memilih makanan kemasan

Di tengah maraknya informasi gizi di media sosial, konsumen perlu lebih kritis terhadap klaim yang beredar. Informasi yang tampak meyakinkan belum tentu sesuai dengan klasifikasi ilmiah yang digunakan para ahli. Karena itu, pengetahuan tentang NOVA dapat menjadi bekal untuk memilah informasi dengan lebih tenang. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah menyamakan semua produk kemasan sebagai makanan ultra-proses.

Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri membaca daftar bahan dan informasi gizi. Produk dengan bahan yang lebih singkat dan mudah dikenali umumnya lebih mudah dipahami tingkat pemrosesannya. Selain itu, konsumen juga perlu memperhatikan jumlah natrium, gula, dan lemak jenuh dalam satu porsi. Kebiasaan ini membantu menjaga pola makan tanpa harus menghindari seluruh makanan olahan.

Pada akhirnya, sarden kalengan tidak selalu masuk kategori UPF karena bergantung pada komposisinya. Jika produk hanya melalui proses pengawetan sederhana, maka posisinya berada di kelompok makanan olahan, bukan ultra-processed food. Penjelasan ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap makanan perlu berbasis data, bukan asumsi. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat memilih makanan secara lebih sehat dan realistis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!