Sarden kalengan mendadak menjadi sorotan setelah disebut bukan termasuk ultra processed food atau UPF. Label tersebut membuat sebagian orang menganggap produk ini otomatis lebih sehat, padahal penilaian gizi tidak sesederhana itu.
Risiko kesehatan pada sarden kalengan tidak hanya ditentukan oleh tingkat pemrosesan, tetapi juga kandungan natrium dan potensi paparan BPA. Karena itu, produk ini tetap perlu dipahami secara lebih kritis sebelum dikonsumsi rutin.
Sarden Kalengan dan UPF
Anggapan bahwa sarden kalengan lebih sehat hanya karena tidak masuk kategori UPF dinilai sebagai kekeliruan. Sistem klasifikasi NOVA memang melihat tingkat pemrosesan, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menilai mutu kesehatan makanan.
Selain pemrosesan, komposisi gizi, bahan tambahan, dan cara pengemasan juga ikut menentukan kualitas produk. Dengan kata lain, sebuah makanan bisa saja tidak tergolong UPF, tetapi tetap memiliki risiko tertentu bagi tubuh.
Dalam konteks sarden kalengan, kandungan garam yang tinggi sering menjadi perhatian utama. Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan natrium berlebih dapat berdampak pada tekanan darah dan kesehatan jantung.
Risiko BPA Pada Kaleng
Selain natrium, sarden kalengan juga disorot karena potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Senyawa ini digunakan sebagai resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan agar lebih tahan lama.
Pada kondisi tertentu, seperti pemanasan atau kerusakan lapisan, BPA dapat terlepas dan bermigrasi ke makanan. Jika paparan berlangsung melebihi batas tertentu, risiko kesehatan dapat meningkat.
Kekhawatiran terhadap BPA muncul karena senyawa ini diduga dapat mengganggu sistem hormon. Dalam jangka panjang, paparan berulang juga kerap dikaitkan dengan masalah metabolik dan risiko penyakit lain.
Temuan Riset Terkini
Risiko migrasi BPA dari kemasan makanan telah diteliti dalam sejumlah studi, termasuk riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023. Hasil penelitian itu menemukan adanya migrasi BPA, tetapi pada kadar yang kecil.
Kadar tersebut dilaporkan masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Artinya, paparan yang terdeteksi dalam penelitian itu belum melampaui ambang yang ditetapkan.
Meski demikian, temuan tersebut tidak otomatis menghapus kehati-hatian terhadap konsumsi jangka panjang. Paparan kecil yang terjadi terus-menerus tetap menjadi perhatian karena berpotensi terakumulasi dari berbagai sumber makanan.
Bijak Konsumsi Sarden
Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menegaskan bahwa konsumsi makanan yang tercemar BPA secara terus-menerus dapat mengganggu kesehatan. Dampaknya terutama berkaitan dengan kesehatan metabolik, gangguan hormonal, dan risiko kanker.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya melihat label produk, tetapi juga memperhatikan frekuensi konsumsi. Sarden kalengan dapat menjadi pilihan praktis, namun sebaiknya tidak dijadikan menu harian dalam porsi berlebihan.
Pemilihan produk juga perlu disertai kebiasaan membaca komposisi dan informasi nilai gizi pada kemasan. Dengan cara itu, konsumsi sarden kalengan tetap bisa dilakukan secara lebih aman dan terukur.
