Sarden Kalengan Bukan UPF, Ahli Ingatkan Soal Real Food

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 03:12 WIB 2
Sarden Kalengan Bukan UPF, Ahli Ingatkan Soal Real Food

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena sebagian pihak menilai produk itu bukan Ultra Processed Food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan paling sehat.

Dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (21/5/2026), dr Aru menyebut bahwa proses pembuatan makanan olahan sering kali tidak diketahui secara utuh oleh konsumen. Ia menilai, meski ada regulasi, risiko penyimpangan dalam proses produksi tetap bisa berdampak pada kesehatan.

Sarden Kalengan dan Real Food

Menurut dr Aru, persoalan utama bukan hanya label pada kemasan, melainkan cara makanan itu diproses. Ia menekankan bahwa konsumen umumnya tidak mengetahui detail bahan tambahan, metode pengolahan, serta standar keamanan yang dipakai produsen. Karena itu, real food dinilai lebih aman sebagai acuan utama dalam pola makan sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa makanan olahan biasanya menggunakan campuran bahan tambahan yang tidak selalu mudah dikontrol kualitasnya. Meski aturan telah dibuat untuk membatasi risiko, potensi penyimpangan tetap ada di lapangan. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa kehati-hatian tetap diperlukan saat memilih makanan praktis.

Dr Aru juga mengaitkan pola konsumsi modern dengan meningkatnya masalah kesehatan pada usia muda. Ia menyebut, pada masa kini seseorang berusia 30 tahun sudah dapat mengalami gangguan metabolik seperti hipertensi dan diabetes. Menurutnya, angka kesakitan pada anak muda ikut menunjukkan perubahan pola hidup dan makan yang tidak sehat.

Dalam pandangannya, masyarakat perlu memahami bahwa makanan bukan sekadar soal kenyang, tetapi juga soal dampak jangka panjang. Pilihan yang terlalu sering jatuh pada makanan olahan dapat memperbesar risiko penyakit metabolik. Oleh sebab itu, real food tetap layak dijadikan prioritas utama.

Risiko Makanan Olahan

Dr Aru menilai makanan olahan memiliki karakter yang membuatnya lebih rentan menimbulkan persoalan kesehatan bila dikonsumsi berlebihan. Kandungan garam, gula, dan lemak sering kali lebih tinggi dibanding makanan segar yang diolah sederhana. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini dapat memengaruhi tekanan darah dan kadar gula darah.

Ia menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya tidak hanya terpaku pada kepraktisan. Pemilihan makanan perlu mempertimbangkan kandungan gizi, proses produksi, dan frekuensi konsumsi. Jika makanan olahan menjadi pilihan utama setiap hari, risiko gangguan metabolik bisa meningkat.

Menurutnya, penurunan kualitas pola makan kerap tidak terasa dalam waktu singkat. Banyak orang baru menyadari dampaknya setelah muncul keluhan kesehatan yang berulang. Karena itu, kesadaran untuk kembali ke bahan pangan alami perlu terus diperkuat.

Ia juga mengingatkan bahwa label sehat pada kemasan tidak selalu berarti aman untuk dikonsumsi tanpa batas. Konsumen tetap perlu membaca komposisi dan memahami porsi yang wajar. Sikap kritis terhadap produk pangan menjadi bagian penting dari pencegahan penyakit.

Gaya Hidup Serba Praktis

Di sisi lain, dr Aru mengakui bahwa tidak semua orang mudah menjalani pola makan berbasis real food setiap hari. Kesibukan kerja, mobilitas tinggi, dan keterbatasan waktu membuat banyak orang sulit belanja serta memasak sendiri. Dalam situasi itu, makanan olahan sering menjadi solusi yang paling praktis.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Banyak keluarga membutuhkan pilihan cepat agar kebutuhan makan tetap terpenuhi di tengah aktivitas padat. Namun, praktis bukan berarti bebas risiko, sehingga perlu ada batasan dan kontrol dalam konsumsi.

Menurutnya, masyarakat tetap bisa menyiasati pola makan dengan memilih bahan yang lebih sederhana dan mudah diolah. Perencanaan belanja dan persiapan makanan sejak awal dapat membantu mengurangi ketergantungan pada produk instan. Dengan begitu, real food masih bisa dihadirkan tanpa harus mengganggu rutinitas harian.

Ia menegaskan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan makan dapat memberi dampak besar bagi kesehatan. Langkah sederhana seperti memperbanyak makanan segar dan mengurangi produk olahan dapat menjadi awal yang baik. Pendekatan ini dianggap lebih realistis dibanding menuntut perubahan ekstrem dalam waktu singkat.

Pilihan Sehat Sehari-hari

Dr Aru menekankan bahwa pola makan sehat tidak harus rumit, tetapi harus konsisten. Konsumen dapat mulai dari memilih bahan pangan segar, memasak dengan cara sederhana, dan membatasi makanan ultra proses. Jika dilakukan rutin, kebiasaan itu dapat membantu menjaga metabolisme tubuh tetap lebih stabil.

Ia juga menilai edukasi gizi perlu diperluas agar masyarakat memahami perbedaan antara makanan praktis dan makanan sehat. Banyak orang cenderung memilih produk olahan karena murah, cepat, dan mudah didapat. Padahal, keputusan jangka pendek dalam makan dapat berpengaruh pada kualitas hidup di masa depan.

Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan yang lebih baik. Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan segar sejak dini cenderung memiliki pola makan yang lebih terkontrol saat dewasa. Karena itu, pembiasaan di rumah menjadi fondasi penting pencegahan penyakit.

Ia menutup dengan penegasan bahwa real food tetap menjadi rujukan terbaik, meski tidak selalu mudah diterapkan. Masyarakat boleh memilih makanan praktis saat dibutuhkan, tetapi tetap harus sadar akan risikonya. Di tengah maraknya sarden kalengan dan berbagai produk olahan, kesadaran memilih makanan sehat menjadi semakin penting.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!