Sarden Kalengan Belum Tentu Termasuk UPF, Ini Penjelasannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 26 Mei 2026 04:53 WIB 2
Sarden Kalengan Belum Tentu Termasuk UPF, Ini Penjelasannya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial. Di tengah perhatian publik terhadap makanan harian, sarden kalengan ikut menjadi sorotan karena dinilai belum tentu masuk kategori tersebut. Perdebatan ini memicu rasa penasaran banyak orang, sebab makanan kalengan kerap dianggap identik dengan produk industri. Padahal, status sebuah makanan tidak bisa ditentukan hanya dari bentuk kemasannya.

Untuk memahami persoalan ini, perlu melihat cara pengelompokan makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya. Dalam klasifikasi NOVA, tidak semua makanan olahan otomatis masuk UPF, sehingga sarden kalengan perlu dinilai lebih cermat. Penjelasan ini penting agar masyarakat tidak salah memahami istilah pangan yang sedang viral. Dengan begitu, pilihan konsumsi bisa dibuat lebih tepat dan informatif.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan menjadi perbincangan setelah muncul klaim bahwa produk tersebut belum tentu termasuk UPF. Anggapan itu membuat banyak orang terkejut, karena makanan kalengan selama ini sering langsung diasosiasikan dengan pangan ultra-proses. Namun, ahli gizi dan klasifikasi pangan melihatnya dari bahan, proses, dan tujuan pengolahan. Karena itu, kesimpulannya tidak bisa dibuat hanya berdasarkan label kalengan.

Dalam banyak kasus, sarden kalengan masuk kelompok makanan olahan, bukan otomatis UPF. Produk ini umumnya berisi ikan, garam, minyak, dan proses pengalengan untuk memperpanjang daya simpan. Selama komposisinya sederhana dan tidak banyak bahan tambahan, kategorinya berbeda dari produk formulasi industri. Inilah yang membuat sarden kalengan tidak selalu sejajar dengan makanan ultra-proses.

Persepsi publik sering tertuju pada kemasan yang praktis dan tahan lama. Padahal, makanan yang awet tidak selalu berarti telah melalui formulasi rumit dengan berbagai aditif. Penilaian yang tepat harus melihat daftar bahan, bukan sekadar bentuk penyajian. Dengan pendekatan itu, konsumen dapat lebih adil menilai kualitas sebuah produk.

Klasifikasi UPF NOVA

UPF merupakan istilah yang berasal dari klasifikasi NOVA, sebuah sistem pengelompokan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan. Sistem ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari University of Sao Paulo di Brasil. Tujuannya adalah membedakan makanan utuh, bahan masak, makanan olahan, dan produk ultra-proses. Dengan demikian, publik memiliki acuan yang lebih jelas saat menilai makanan sehari-hari.

Dalam sistem tersebut, makanan dibagi ke dalam empat kelompok besar. Kelompok pertama adalah makanan segar atau minimal diproses, seperti buah, sayur, telur, susu, ikan segar, dan kacang-kacangan. Kelompok berikutnya mencakup bahan kuliner seperti gula, garam, mentega, dan minyak. Setelah itu, ada makanan olahan sederhana yang dibuat dengan penambahan garam, gula, atau minyak untuk daya simpan dan rasa.

Kelompok keempat adalah ultra-processed foods, yaitu produk formulasi industri yang biasanya mengandung banyak bahan tambahan. Di dalamnya terdapat perisa, pewarna, pemanis, emulsifier, dan bahan aditif lain yang membuat produk sangat berbeda dari bahan aslinya. Contoh yang sering masuk kategori ini antara lain minuman manis kemasan, camilan tinggi gula atau garam, mi instan tertentu, serta makanan siap santap tertentu. Karena itu, klasifikasi NOVA menekankan proses, bukan hanya kemasan atau popularitas produk.

Membedakan Produk Olahan

Tidak semua makanan olahan otomatis termasuk UPF, dan inilah yang kerap disalahpahami masyarakat. Makanan olahan masih bisa tergolong wajar apabila komposisinya sederhana dan tujuannya sekadar memperpanjang masa simpan. Sarden kalengan, misalnya, dapat masuk kategori makanan olahan bila hanya melalui proses pengalengan standar. Situasi ini berbeda dengan produk yang dibuat lewat rekayasa formula industri yang kompleks.

Kunci pembedaan ada pada jumlah dan jenis bahan tambahan yang digunakan. Jika sebuah produk hanya memakai bahan dasar pangan dan sedikit penyesuaian seperti garam atau minyak, maka kategorinya tidak sama dengan UPF. Sebaliknya, bila produk dipenuhi aditif untuk meniru rasa, aroma, atau tekstur tertentu, maka statusnya lebih dekat ke ultra-proses. Karena itu, membaca komposisi menjadi langkah penting sebelum membeli makanan kemasan.

Informasi seperti ini membantu masyarakat lebih kritis terhadap label dan klaim di media sosial. Banyak perdebatan muncul karena istilah makanan olahan sering disederhanakan secara berlebihan. Padahal, ada perbedaan mendasar antara makanan yang diproses secukupnya dan makanan yang diformulasikan secara industri. Pemahaman yang benar akan mendukung pola makan yang lebih sadar dan seimbang.

Memilih Makanan UPF

Meski tidak semua makanan olahan buruk, konsumen tetap perlu membatasi produk yang tergolong UPF. Konsumsi berlebihan terhadap makanan ultra-proses dapat membuat asupan gula, garam, dan lemak meningkat tanpa disadari. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini tidak ideal jika tidak diimbangi bahan pangan segar. Karena itu, kebiasaan memilih makanan tetap perlu diperhatikan.

Langkah praktis yang bisa dilakukan adalah membaca komposisi pada kemasan dengan teliti. Pilih produk dengan daftar bahan yang lebih singkat dan mudah dikenali, terutama untuk konsumsi harian. Selain itu, utamakan bahan pangan segar atau minimal diproses saat menyusun menu. Dengan cara ini, makanan kemasan tetap bisa dikonsumsi tanpa mengabaikan keseimbangan gizi.

Perdebatan tentang sarden kalengan memberi pelajaran bahwa istilah UPF tidak boleh dipahami secara serampangan. Produk kalengan bisa saja termasuk makanan olahan biasa, selama tidak didominasi formula industri yang kompleks. Oleh karena itu, masyarakat perlu melihat konteks produk secara utuh sebelum memberi label tidak sehat. Pemahaman yang tepat akan membantu konsumen membuat keputusan yang lebih cerdas dan proporsional.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!