Sampah Disulap Jadi Produk Ekspor Bernilai Tinggi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 07:58 WIB 3
Sampah Disulap Jadi Produk Ekspor Bernilai Tinggi

Sampah yang semula dipandang tidak bernilai kini justru menjadi sumber peluang usaha bagi sejumlah pelaku UMKM. Di tangan kreatif, limbah plastik dan keramik dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, bahkan menembus pasar luar negeri.

Hal itu terlihat dari langkah Robries dan Lumosh, dua pelaku usaha yang mengubah sampah menjadi furniture serta perabot rumah tangga dengan desain menarik. Keduanya memanfaatkan dukungan Indonesia Design Development Center, atau IDDC, Kementerian Perdagangan, untuk memperkuat daya saing di pasar global.

Sampah Jadi Produk Ekspor

CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, mengatakan perusahaannya berdiri pada 2018 dengan fokus mengolah sampah botol plastik menjadi furniture. Menurut dia, langkah itu bukan hanya soal bisnis, tetapi juga upaya menjaga lingkungan.

Sejak berdiri, Robries terus mengembangkan produk dengan tampilan yang lebih menarik agar dapat diterima pasar yang lebih luas. Hingga kini, perusahaan tersebut telah memproduksi sekitar 25 ribu produk berbahan dasar sampah.

Total sampah yang berhasil diolah Robries mencapai 145 ton, dengan bahan utama berupa tutup botol plastik. Produk mereka kini tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi juga mulai masuk ke Singapura, Malaysia, dan Uni Eropa.

Tantangan Edukasi Pasar

Meski prospeknya besar, Syukriyatun mengakui pemasaran produk daur ulang masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah edukasi pasar karena produk berbahan limbah masih tergolong belum umum di mata masyarakat.

Menurut dia, konsumen perlu diyakinkan bahwa produk daur ulang tetap memiliki kualitas, estetika, dan fungsi yang baik. Tantangan lain muncul pada pasokan bahan baku yang tidak selalu konsisten, terutama karena Robries bergantung pada sampah tutup botol plastik.

Untuk menjaga mutu, perusahaan terus mencari pasokan sampah yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Langkah itu dilakukan agar kualitas produk tetap terjaga sekaligus mendukung keberlanjutan usaha.

Dukungan IDDC Kemendag

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC terus membantu UMKM menembus pasar global. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pendampingan, kurasi, dan fasilitas bagi pelaku usaha yang lolos seleksi untuk tampil di Trade Expo Indonesia 2025.

TEI 2025 menjadi pameran berskala internasional yang diikuti 8.045 pembeli dari 130 negara. Ajang ini membuka peluang pertemuan langsung antara pelaku usaha lokal dan calon pembeli dari luar negeri.

Syukriyatun menilai kehadiran IDDC sangat membantu dalam pengembangan produk dan strategi ekspor. Ia menyebut bimbingan terkait pengemasan, desain, dan presentasi produk membuat Robries lebih siap bersaing di pasar internasional.

Limbah Keramik Naik Kelas

Hal serupa juga dirasakan Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, yang mengolah limbah keramik menjadi produk rumah tangga. Dari bahan yang semula dianggap tak berguna, Lumosh melahirkan piring, gelas, dan perabot lain dengan desain artistik.

Raymond mengatakan proses pengembangan produk daur ulang keramik tidak mudah karena referensi risetnya masih terbatas. Karena itu, dukungan riset dan arahan dari IDDC menjadi penting dalam membangun identitas produk yang representatif.

Ia juga menilai IDDC membantu pelaku UMKM memahami pasar global yang paling potensial untuk dimasuki. Dengan pendampingan tersebut, Lumosh kini lebih percaya diri membawa produk berbasis limbah keramik ke level yang lebih luas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!