Samanta Elsener Ungkap Perjalanan Menjadi Mualaf

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 13:57 WIB 6
Samanta Elsener Ungkap Perjalanan Menjadi Mualaf

Samanta Elsener, adik dari pembawa acara Darius Sinathrya, membagikan kisah pribadinya saat memutuskan menjadi mualaf. Dalam obrolan bersama Melaney Ricardo di YouTube, psikolog sekaligus penulis itu mengungkap perjalanan batin yang dipenuhi duka, pencarian, dan ketenangan.

Keputusan Samanta memeluk Islam berangkat dari pengalaman kehilangan ibunda saat masih balita, lalu berkembang menjadi pencarian intelektual terhadap berbagai agama. Ia menilai Islam hadir sebagai jawaban atas kegelisahan dirinya dan menjadi bagian dari proses penyembuhan yang selama ini ia cari.

Perjalanan Samanta Elsener

Samanta mengaku ketertarikannya pada Islam tidak muncul secara tiba-tiba. Setiap kali berangkat ke kampus, ia kerap melewati sebuah masjid yang menghadirkan rasa damai.

Ia juga merasakan ketenangan saat menyaksikan gerakan salat, meski saat itu belum menjadi mualaf. Pengalaman sederhana itu kemudian meninggalkan kesan kuat dan terus membekas dalam dirinya.

Menurut Samanta, suasana positif itu menjadi pintu awal yang membuatnya ingin mengenal Islam lebih jauh. Dari sana, ia mulai memperhatikan makna spiritual yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

Pencarian dan Riset Agama

Samanta tidak langsung mengambil keputusan setelah merasakan ketenangan tersebut. Ia lebih dulu melakukan riset dan mempelajari berbagai agama dengan serius.

Langkah itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pribadi terhadap keyakinan yang akan ia pilih. Ia ingin memastikan pilihannya lahir dari pemahaman, bukan sekadar emosi sesaat.

Dari proses tersebut, ia merasa Islam memberikan jawaban yang paling sesuai dengan kebutuhan batinnya. Baginya, agama itu menawarkan kedamaian yang nyata dan tidak hanya bersifat teoritis.

Lingkungan yang Membuka Pandangan

Interaksi dengan teman-teman Muslim di sekolah negeri dan lingkungan kampus turut memperluas sudut pandangnya. Samanta menyadari bahwa citra negatif yang selama ini ia dengar tidak sesuai dengan kenyataan yang ia temui.

Ia justru melihat keseharian yang hangat, terbuka, dan penuh nilai persaudaraan. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin bahwa Islam bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Bagi Samanta, hubungan sosial yang baik menjadi bagian penting dalam proses memahami agama. Lingkungan yang suportif membuatnya merasa aman untuk belajar dan bertanya lebih jauh.

Dukungan Keluarga dan Ketenangan

Meski berpindah keyakinan, Samanta tetap menjaga hubungan harmonis dengan keluarganya. Ayahnya disebut memiliki sikap toleran, termasuk karena pernah berpindah dari Islam ke Katolik demi pernikahan.

Dukungan juga datang dari sang kakak, Darius Sinathrya, serta iparnya, Donna Agnesia. Kehadiran mereka membuat Samanta merasa perjalanan spiritualnya tetap berada dalam ruang kasih sayang keluarga.

Samanta menegaskan bahwa keputusannya bukan bentuk pemberontakan. Ia memandang langkah itu sebagai proses penyembuhan diri dan cara untuk berdamai dengan masa lalunya yang penuh kehilangan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!